OMONG KOSONG BICARA OMNIBUS !!

OMONG KOSONG BICARA OMNIBUS

"Cukup soal HRS. Ayo kembali fokus ke UU omnibuslaw!"

Ajakan itu cuma nampak heroik di depan tapi lemah di dalam. Omong kosong bicara pembatalan ominubus law tanpa melibatkan Imam Besar Habib Rizieq Shihab (IB HRS). 

Sudah berapa kali demo ominubus. Sudah berapa kali para pakar menunjukkan omnibus ini menyeng menyeng menyeng-seng-sang-sarakan rakyat. Apakah penguasa mendengarkan? Nggak! Karena penguasa tahu, gelombang anti omnibus lemah! Cukup sekali sentil Satpol PP gerakan anti omnibus bakal loyo!

Kedatangan IB HRS pada saat yang tepat. IB HRS juga punya konsen yang sama soal omnibus ini. Dia sudah punya agenda akan ikut memperjuangkan pembatalan ominbus. Seperti yang dia katakan di depan aktivis buruh non-muslim Iyut @kafirradikalis. Tim IB HRS sedang mempelajari setiap lembar omnibus yang sudah ditandatangani presiden.

Tapi sayangnya cuma Iyut yang nyadar kalau IB HRS adalah "darah baru" perjuangan anti omnibus. Menurut Iyut, kalau kekuatan IB HRS ngeblend (menyatu) dengan kekuatan jamaah HRS maka akan jadi penekan yang mungkin bisa bikin penguasa mikir ulang.

Bukan cuma Iyut, Jae juga mikir kaya begitu. Kalau sampai IB HRS bergabung dengan anti omnibus, Jae bakal ngos-ngosan mempertahankan omnibus. Mumpung para pejuang anti-omnibus masih jadi penonton, belum mikir bergabung dengan IB HRS, harus segera dibuat scenario untuk melumpuhkan IB HRS pada kesempatan pertama.

Tim Jae mempelajari dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya karakter IB HRS dan pendukung militannya. Salah satu pendukung militan ada yang cegukan alias emosian. Maka mulai dicoba dari mulut ember Nikita. Umpan Nikita langsung disambar oleh UM (Ustadz Maher). Ancaman UM pada Nikita langsung direspon oleh Jae dengan unjuk kekuatan menjaga rumah Nikita. Tentu saja bikin IB HRS yang tidak pernah tedeng aling-aling juga merespon. Bahwa respon IB HRS sampai menyasar ke aparat keamanan dan bahkan sampai TNI sudah masuk dalam perhitungan Jae. Termasuk pernyataan IB HRS yang bikin mendidih kepala Dudung. Padahal scenario ini akan terhambat jika misalnya, urusan Nikita sepenuhnya diurus warganet saja.

Para pejuang anti omnibus cuek bebek, anteng jadi pononton. Kalau saja para pejuang anti-omnibus sudah bergabung ke Petamburan, semendidih apa pun kepala Dudung, bakal mikir duaribulimaratus kali buat menyerbu Petamburan. Dia nggak bisa mengklaim serbuannya ke Petamburan mendapat dukungan rakyat.

Serbuan Dudung ke Petamburan bukan lagi soal protokol kesehatan. Itu cuma pintu masuk saja. Prokes adalah pintu masuk yang nyaman untuk mendapatkan simpati. Kalau cuma bicara prokes, nggak bakal Dudung salah mengutip ayat Al-Qur’an. Kalau cuma soal prokes nggak bakal Dudung dengan percaya penuh akan membubarkan ini itu.

Kenapa TNI masih tetap mengatakan tidak ada perintah menyerbu Petamburan? Kalau serbuan Dudung berhasil membungkam IB HRS, tinggal bilang mendukung kebijakan Dudung. Kalau serbuan Dudung dibalas dengan serangan balik hingga terjadi kekacauan berdarah, tinggal bilang tidak ada perintah ke Petamburan.

Sementara para pejuang anti omnibuslaw masih asyik jadi penonton. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Padahal kalau mereka mikir sedikit saja, coba membandingkan. Demo anti omnibus cukup diredam oleh Satpol PP saja, paling tinggi polisi-polisi yang baru lulus dengan memegang gas air mata, dengan tangan masih gemeteran menembakan gas air mata. Maka nggak heran terkadang kena teman sendiri.

Sedangkan untuk menghadapi IB HRS, mulai dari Panglima TNI yang didampingi pare jenderal bikin pernyataan atau ancaman keras kaya mau perang dengan negara lain, sampai Menkopolhukam juga ikut ngancam. Menerjunkan pasukan elit cuma buat nurunin Baliho. Dan seterusnya dan seterusnya.

Komparasi ini menunjukkan bahwa kekuatan jamaah IB HRS dengan kekuatan pejuang anti omnibus nggak sebanding. Jaaauuuuhhhh. Cuma entah karena tidak sejalan dengan IB HRS, entah karena benci atau apalah mereka para pejuang anti-omnibus memilih jadi penonton saja. Gertakan Dudung pada IB HRS yang dibeking oleh pasukan elit, sedikit banyaknya bikin para pejuang anti omnibus mikir juga.

Perjuangan anti omnibus di ruang MK yang sejuk juga sudah dapat ditebak hasilnya setelah para hakim MK dapat medali penghargaan dari pemerintah.

Jadi, serbuan ke Petamburan itu bukan cuma soal penurunan baliho, tapi memutus kekuatan baru anti omnibuslaw.

Masih mau ngomong soal Omnibus? Masih bisa mikir?

(By Bang Rojak)