Pak Timbul yang Unggul


Pak Timbul yang Unggul

Oleh: Iwan Balaoe*

Sejak selesainya KLB Gerindra sampai hari ini, muncul berbagai tudingan dan juga hujatan pada sosok PS (Prabowo Subianto) yang kembali terpilih sebagai ketum Gerindra.

Sedikit heran, ada apa kok bisa-bisanya sosok PS kembali dibahas sampai mengalahkan isu corona yang tetap hangat dan permasalahan lainnya. KLB itu proses organisasi yang biasa terjadi. Tapi mengapa KLB Gerindra disikapi secara berlebihan?

Usut punya usut, melihat pola postingan netizen sosmed jadi memahami siapa yang bermain melambungkan sosok PS untuk dihantam kembali.

Bukan dari PKS, ternyata mereka adalah orang-orang yang berafiliasi dengan Demokrat.

Sejak kampanye pilpres, saya acungi jempol buat simpatisan Demokrat yang mampu menjadi rujukan pemberitaan di sosmed melalui penyebaran opininya. Demokrat gak mempunyai pilihan tokoh yang dilambungkan saat pilpres lalu. Opsi mereka adalah merapat ke kubu Prabowo.

Kelebihan partai ini adalah mempunyai netizen-netizen yang mampu menampilkan opini dengan mengupas apa yang telah Jokowi lakukan. Simpatisan mereka benar-benar teroganisir dalam menyebarkan informasi. Sisa-sisa pasukan perang dalam pencalonan AHY di pilkada DKI.

Selesai pemilu 2019, Demokrat mempunyai rencana tinggi. Memilih oposisi bukanlah pilihan yang mudah. Demokrat sudah identik dengan partai abu-abu, ketika mereka memutuskan menjadi oposisi artinya mereka sudah melihat celah disana. Ketiadaan Gerindra di oposisi, adalah peluang buat Demokrat.

Situasi selepas pilpres telah melahirkan pergeseran pendukung PS yang kecewa.

Selama ini PKS dianggap yang mampu merangkul simpatisan kecewa PS. Namun sejatinya, Demokratlah yang paling bernafsu dan paling mungkin untuk meraup pasukan sakit hati yang pernah mendukung PS.

Mengapa Demokrat yang paling unggul meraup dukungan dari ex pendukung sakit hati?

Demokrat mempunyai tokoh untuk dinaikkan. Sedangkan PKS sampai hari ini, tidak mempunyai tokoh yang mampu mereka jual. Meraup dukungan dari ex pendukung PS tanpa punya ketokohan yang dilambungkan, akan sia-sia belaka.

Sosok AHY adalah tokoh yang mereka jual ke publik sebagai figur harapan baru.

AHY akan jadi rising star apabila tidak ada yang menganggunya. Dalam perhitungan politik saat ini, sosok AHY memang masih hijau. Dia butuh pendamping tokoh senior yang menemani. Tokoh-tokoh senior bidikan Demokrat hanya ada pada sosok Anies Baswedan sebagai syarat mendapatkan dukungan rakyat oposisi.

Untuk bisa menempel Anies, Demokrat membutuhkan pengakuan publik. Demokrat membutuhkan dukungan rakyat oposisi. Dan Demokrat paham, rakyat oposisi saat ini masih mendua dengan merapatnya PS ke koalisi Jokowi. Mendua dalam artian, masih bimbang melabuhkan pilihan setelah putus dari mantan.

Sialnya, rencana Demokrat ini harus menemui sandungan ketika nama PS kembali terpilih sebagai Ketum Gerindra hasil dari KLB. Ketika PS kembali terpilih, itu artinya beliau bisa kembali dicalonkan menjadi capres ditahun 2024. Bisa jadi berduet bersama Anies atau yang lainnya.

Banyak penilaian Gerindra akan berkoalisi dengan PDIP di pilpres 2024. Tapi penilaian itu bukanlah keputusan final. Politik itu ruwet, gak jelas siapa lawan siapa kawan. Masuknya kembali nama PS dalam bursa pencalonan benar-benar mengusik asa Demokrat. Bisa jadi kejadian 2 periode kemarin akan terulang, dimana Demokrat harus menjadi penonton saja tanpa bisa mengirimkan kader mereka sebagai kontestan. Karena kepopuleran nama PS benar-benar mengusik mereka 10 tahun ini.

Angan-angan Demokrat, 2024 adalah tahun dimana mereka akan kembali berkibar.

Terpilihnya PS harus dilawan dengan memunculkan stigma negatif. Sayangnya, selama menjadi Menhan sosok PS belum ditemukan kesalahan yang bisa menjungkalkan namanya. Bahkan sejak jadi Menhan, pertahanan negara kita bisa dikatakan makin disegani negara asing.

Tidak menemukan stigma negatif PS selama bertugas jadi Menhan, mereka memakai cara menggali rasa sakit hati atas keputusan Gerindra berkoalisi dengan Jokowi.

Mereka menumpang di punggung ulama dengan mengaitkan janji PS memulangkan Imam Besar. Gak cukup disitu, mereka bongkar lagi masalah sumbangan/donasi rakyat pada PS ketika mencalonkan untuk menggugah rasa ketulusan orang-orang mendukung PS dan dikhianati dengan koalisi.

Apa yang saya lihat dari mereka, sungguh mengherankan. Mereka yang terbiasa mengupas suatu kebijakan harus bermain dengan pola murahan. Seolah-olah mereka adalah orang-orang yang baru muncul membahas politik di sosmed dengan membawa rasa emosional.

Mencitrakan sosok PS telah berbohong, ingkar janji dan segala halnya. Tudingan yang dasarnya sangat lemah. Hanya orang awam yang menilai begitu, orang-orang yang menilai politik harus sama dengan apa yang mereka inginkan.

Saya pikir mereka akan bermain lebih tinggi, karena jam terbang mereka yang cukup bagus selama bermain sosmed membahas politik. Tapi faktanya, yang saya lihat mereka justru merendahkan kelasnya sendiri dengan membawa masalah pilpres untuk menurunkan citra PS.

Kenapa? Gak ada bahan lagikah?

Jika tagar "Pak Timbul" mampu jadi trending topik, saya gak heran ketika mereka pelakunya. Untuk urusan tagar, mereka memang jago. Selanjutnya, mereka akan memainkan polling-polling di sosmed untuk menjual nama AHY sebagai pilihan. Liat aja nanti, akan banyak polling-polling yang menempatkan nama AHY sebagai alternatif pilihan untuk dipertemukan dengan PS.

Lagi-lagi mereka memainkan cara yang sama seperti yang dulu. Hanya bisa mencari dan melempar tuduhan ke PS dari pada mengunggulkan tokoh sendiri.

PS benar-benar momok bagi mereka. Boleh saja mereka menilai PS sudah habis, namun ada yang mereka lupa kondisinya. Jika dulu PS bisa diunggulkan karena pilihannya hanya ada 2, saat ini kondisinya PS mengetahui lebih jelas apa yang terjadi di bangsa ini dan nilai plusnya, dia telah berbuat memenuhi sebagian janji kampanyenya. Khususnya dibidang pertahanan dan ketahanan pangan.

Nilai plus itu yang gak akan sanggup dilawan oleh Demokrat dengan sosok AHY nya. Ketidak berdayaan akan kinerja, mereka lawan head to head dengan nyinyiran soal pilpres silam.

Jika publik itu bodoh, maka akan mengangguk dengan tudingan mereka. Namun jika publik itu cerdas, pola-pola yang mereka mainkan malah terkesan memuakkan. Ingin melambungkan nama sendiri, seharusnya mempublikasikan apa yang telah dicapainya. Bukan malah membahas lawan dengan kacamata kuda.

Prabowo dan Gerindra Sudah 5 Langkah di Depan Mereka

Panggung Gerindra untuk menaikkan nama sudah ada dengan jabatan Menhan saat ini. Apapun tudingan yang dilemparkan, gak akan membuat panggung Gerindra akan runtuh. Justru sebaliknya, saat mereka masih berkutat soal rasa sakit hati di pilpres, Gerindra bersama Prabowo sudah langsung kerja mendekatkan diri ke masyarakat. Ada bukti yang mereka berikan, ada janji kampanye yang sudah mereka penuhi sebagian karena jabatan Menhan.

Sedangkan mereka? Gak ada bukti apapun.

Ketika menggunggulkan pencapaian pertumbuhan ekonomi era SBY, langsung dilawan dengan masalah korupsi Hambalang, kasus eKTP, dan Lapindo. Langsung suara jangkrik yang terdengar.

Itu alasannya kenapa mereka hanya memainkan sisi emosional dalam membahas PS dengan tema pilpres silam. Yang terlihat hanya cacian, bukan opini berbasis kedalaman berpikir. Pola pikir dangkal, yang terlihat adalah kemarahan.

Semakin terang dan semakin jelas siapa yang bermain culas agar memperoleh dukungan.

Tersenyum Jendral melihat pola yang dimainkan..

*Sumber: Kompasiana