Kena Kepret Rizal Ramli, Buzzer Petahana Ditertawakan Warganet: KLAKEP.. Kodok Kesumbat Orong-Orong


[PORTAL-ISLAM.ID]  Kabar membaiknya nilai tukar rupiah berdasarkan data terkini mata uang dengan performa terbaik di dunia versi Bloomberg, membuat para pendukung Jokowi kegirangan.

Kabar ini langsung digunakan untuk menyerang ekonom senior yang pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman Kabinet Kerja Jokowi periode pertama.

"Pak @saididu dan pak @RamliRizal tidak akan suka dengan berita ini," cuit @PartaiSocmed.

Sayang, kebahagiaan para pendukung Jokowi ini tak berlangsung lama sebab Rizal Ramli langsung mengeluarkan jurus "kepretan maut"-nya.

Tak berhenti sampai di situ, buzzer petahana ini masih ngeyel dan mulai mengalihkan konteks diskusi. Akibatnya, ia kembali dikepret Rizal Ramli.

Dua "kepretan maut" Rizal Ramli ini pun membuat para warganet menertawakan kicauan pendukung Jokowi itu.

"Om buzzer kok disuruh belajar.. ya ga makan kali.. 😁 #JKWBatalCintaUlama," cuit @alonso_fp88.

"Hohohohooooo....klo kata om @rockygerung sih... U N G U D," cuit @dimas_asbak.

"Nah sekarang giliran @PartaiSocmed bales tuh kepretan pak RR," cuit @chairil32913688.

"Belajar ekonomi dulu sana, jangan nyilem di empang mulu. Udah ditanggapi sama RR tuh, wkwkwk. Kagak malu apa," cuit @ap_denny.

"Dan kalian seakan bangga akaan keTIDAK TAHU an anda di bidang ekonomi. πŸ‘," cuit @dengga09.

"Wuaduuh...siaL amit si memed terkena kepretan sayap RAJAWALI langsung nyingsep di Got depan Monas. πŸ˜„πŸ˜πŸ˜€πŸ˜œπŸ˜«," cuit @antas345.

"Haha apa apaan terbaik didunia, jgn abs lah. Klo indikator ekonomi positif dan penguatan berlangsung lama, bolehlah bangga. Media2 seharusnya memiliki analisis yg end to end spt RR. Baru naik sdkt dan sebentar, tp indikator negatif, tp terlalu diblow up, sungguh tdk elok," cuit @Mrgp_crypto.

"Si memed mana bisa belajar ekonomi... ahlinya cuma jadi buzzer doang!" cuit @bibin_bey.

"Klakep....kodok kesumat orong2...," cuit @Bodrex70810562.


Seperti dikabarkan oleh CNBC Indonesia, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang hawkish atau terus menaikkan suku bunga acuan tahun lalu berdampak langsung pada bunga deposito perbankan dalam negeri.

Sepanjang 2018, bank sentral telah enam kali menaikkan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate dengan total besaran 175 basis poin dari 4,25% di Januari menjadi 6% di Desember.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Januari, Gubernur BI Perry Warjiyo mengumumkan mempertahankan suku bunga agar pasar keuangan domestik tetap menarik bagi investor asing.

"Keputusan tersebut konsisten dengan upaya menurunkan defisit transaksi berjalan dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis, 17 Januari 2019.