LIKA LIKU Arie Untung Wujudkan Mimpi di Hijrah Fest 2018


[PORTAL-ISLAM.ID] JAKARTA - Mantan VJ MTV Arie Untung membuat sebuah perhelatan yang diberi nama Hijrah Fest 2018. Hal ini merupakan wujud Arie bersama dengan teman-temannya. Pagelaran ini terwujud berkat partisipasi bersama sejumlah komunitas dan berbagai pihak.

"Ini sebenarnya ide teman-teman dari komunitas ingin membuat sesuatu yang banyak pertanyaan kapan nih bisa ngaji bareng sama yang bukan public figure akhirnya tercetuslah ide ini untuk bisa sama-sama ngaji biar saling mengenal dengan para komunitas dari berbagai daerah," kata Arie Untung di sela-sela acara Hijrah Fest 2018 di JHCC, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (9/11/2018), seperti dilansir Liputan6.

Namun, bukannya tanpa kendala. Arie Untung mengaku jika apa yang dilakukannya ini sempat membuat dirinya dicurigai dengan muatan politis.

"Ya banyak lah, mulai dari tudingan ada muatan politis, sponsor yang tiba-tiba mundur, harga tempat yang tiba-tiba melonjak, emang resikonya kita gelar acara seperti ini di tahun politik ya," ujar Arie Untung yang 'hijrah' dua tahun lalu.

Namun meski begitu, Arie Untung mengaku perhelatan ini murni menghadirkan beragam acara seperti, tausiah, bazar beragam produk, ngaji, dan lain-lain. Melalui kegiatan ini produser film "3(Alif Lam Mim)" ini berharap dapat mempererat tali silaturahmi antar komunitas dan sesama umat muslim.

"Kita terbuka untuk yang berbeda keyakinan mungkin yang mau mengenal Islam boleh kalau pengin tahu. Yang baru berhijrah boleh kesini lihat baju-bajunya atau gimana semua santai disini," ujarnya.

Dalam acara ini, sejumlah selebritas juga berbagi pengalaman hijrah kepada para pengunjung serta tausiah dari para ulama dan ustadz ternama seperti KH. Bachtiar Nasir, KH. Abdullah Gymnastiar, Ust. Abdul Somad, Ust. Adi Hidayat, Ust. Hanan Attaki, Ust. Fatih karim, ust. Felix Siauw, Ust. Oemar Mita, Ust. Salim A Fillah.

"Tausiah tentang hijrah bagaimana cinta semua yang teduh-teduh," ujarnya.

Arie Untung Berhijrah di Momen Paling Kritis

Dalam Islam, "hijrah" dipakai untuk menggambarkan peristiwa perpindahan Nabi Muhammad dan para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah. Ia juga secara luas mengartikulasikan perubahan dramatis seseorang ke arah yang lebih baik.

Dikutip dari Tirto, Arie Untung mengatakan bahwa pengalamannya berhijrah sebagai "nikmat", dan hal ini sudah dijalaninya sejak lama. Namun, ia bilang, saat itu belum banyak artis yang secara terbuka menunjukkan penegasan diri atas religiusitasnya.

“Kebanyakan karena terkait pekerjaannya, takut imejnya berubah,” terang Arie.

Keputusan Arie untuk mulai terbuka melejit ketika Islam banyak dihina.

“Saya mulai menunjukkan kebanggaan saya terhadap agama saat agama saya ini, kok, banyak dihina. Saya teringat dengan riwayat semut yang diceritakan kawan saya. Ceritanya tentang seekor semut yang cuma bawa setetes air untuk menolong Nabi Ibrahim dari kobaran api. Si semut diejek karena dinilai perbuatannya itu sia-sia. Tapi apa kata si semut? ‘Tidak apa-apa, yang penting Allah tahu pada siapa saya berpihak’. Aduh, mendengar itu langsung kena di hati,” cerita Arie.

Setelahnya, ia mulai rajin mengunggah pesan-pesan religius di semua akun media sosialnya.

Lagi-lagi, hijrah dan ujian adalah satu paket. Beragam bully diterima Arie saat ia terbuka menunjukkan pandangan-pandangannya soal Islam di media sosial. Banyak teman satu profesinya berbeda paham, kata Arie. Tak jarang sebutan "sumbu pendek" ditelannya. Bully-an ini pernah memanas saat ia bergabung pada Aksi 212 pada 2 Desember 2016 silam.

“Ya sudah, lillahi ta’ala saja. Ketika berjalan, aduh, kok jadi baper, sih?” ujar Arie, menghapus air matanya lalu tersenyum.

Namun, "hijrah sesungguhnya" bagi Arie terjadi jauh sebelumnya. Bahkan saat itu Arie nyaris murtad. Itulah momen paling kritis.

Sekitar 2004, Arie hendak menikah dengan kekasih yang beda agama. Di Indonesia, perkawinan beda agama dibolehkan tetapi umumnya ribet; sehingga salah satu solusinya, salah seorang harus memeluk agama yang sama dengan pasangannya. Untuk kasus Arie, ia dianjurkan untuk memeluk agama yang sama dengan kekasihnya saat itu. Ia pun mulai mempelajari kitab suci agama lain. Namun, alih-alih menjadi "murtad", keimanannya terhadap Islam justru menebal.

“Lha, gue malah menemukan Tuhan gue di sini, di kitab orang, batin gue waktu itu. Rasanya kayak baru berucap syahadat lagi. Dari situ trigger-nya gue berubah. Cara pandang gue mulai berubah,” kata Arie.

Selain di media sosial, perubahan lain yang ia terapkan usai hijrah adalah kebiasaan di kantornya yang menerapkan istirahat sesuai waktu salat. Ia juga selektif atas tawaran pekerjaan. Produk-produk "haram" dan "riba", pasti dicoret dari daftar yang diterima perusahaannya.

Sementara soal penampilan, Arie masih tetap dengan setelan kasual demi "bisa lebih fleksibel" mengajak orang lain dalam "proses berhijrah."

“Saya mau menunjukkan Islam itu masih cool, kok,” ujarnya.