Skandal Buku Merah, Ketika Cicak Takut Melawan Buaya


KETIKA CICAK TAKUT MELAWAN BUAYA

Cicak vs Buaya adalah istilah yang dipopulerkan Komjen Susno Duadji untuk menganalogikan sebuah pertarungan yang tidak seimbang antara KPK yang digambarkan oleh Susno sebagai cicak dan lembaga kepolisian sebagai buaya. Susno seperti ingin memberi peringatan kepada KPK, bahwa melawan institusi kepolisian adalah perbuatan sia-sia.

Di masa pemerintahan SBY, "cicak" telah dua kali bertarung sengit melawan "buaya".

(1) Pertarung jilid I, KPK yang saat itu tengah menyelidiki kasus Century yang melibatkan banyak konglomerat dan pejabat penting, harus berhadapan dengan tembok beton ketika penyidikan mereka mengarah ke salah satu oknum petinggi polri.

Dalam pertarungan perdana ini, KPK keluar sebagai pemenang tapi dengan kondisi babak belur. Dari pihak KPK, Antasari Azhar menjadi korban. Dari pihak kepolisian, karena desakan publik, Susno Duadji mundur dari jabatannya sebagai Kabareskrim. Dari pihak konglomerat, Anggoro Widjojo berhasil ditetapkan sebagai tersangka. Sementara SMI terpaksa 'diamankan' ke Bank Dunia.

(2) Cicak vs. Buaya Jilid II lebih seru lagi. KPK benar-benar "all-out" dalam kasus Simulator SIM. Dalam episode inilah nama Novel Baswedan mencuat, ketika dia dengan gagah berani menyatroni bekas kantornya sendiri untuk mengumpulkan barang bukti atas dugaan korupsi Irjen Djoko Susilo, dan harus berhadapan dengan mantan atasannya sendiri di kepolisian, Komjen Sutarman yang saat itu menjabat sebagai Kabareskrim.

Gedung KPK pernah dikepung. Novel beberapa kali mendapat ancaman, termasuk ancaman memenjarakannya atas kasus penganiayaan tersangka pencuri sarang burung walet belasan tahun sebelumnya. Tapi berkat "intervensi" presiden saat itu, SBY, kasus Novel dihentikan.

Berkat keberanian Novel Baswedan, kegigihan Abraham Samad, Bambang Widjojanto, dan petinggi-petinggi KPK yang lain, back-up yang kuat dari SBY, kasus ini berhasil dituntaskan dengan memenjarakan Irjen Djoko Susilo.

Dari dua pertemuan cicak vs buaya era SBY, cicak menang dua kali. Satu menang angka, satu lagi menang KO.

(3) Cicak vs. Buaya jilid III. Jika Cicak vs. Buaya II adalah episode paling seru tentang perseteruan KPK melawan Kepolisian, maka Cicak vs. Buaya jilid III yang terjadi di masa Pemerintahan Jokowi bisa dibilang sebagai episode yang paling menyedihkan.

Kasus ini bermula ketika Presiden Jokowi mengajukan Komjen BG sebagai Cakapolri ke DPR.

KPK yang saat itu sedang fokus menyelidiki kasus rekening gendut beberapa oknum petinggi kepolisian, seperti dikhianati oleh atasannya sendiri ketika salah satu oknum yang paling mereka curigai tiba-tiba diajukan untuk menduduki jabatan tertinggi lembaga kepolisian.

Dengan tergesa-gesa, karena khawatir kasus akan semakin sulit dituntaskan jika BG menjadi kapolri, Samad dan Widjojanto memgumumkan status tersangka pada BG sehari setelah nama BG dibawa ke DPR.

Sayangnya, Samad cs. tidak mendapat back-up sama sekali dari presiden.

Samad, Widjojanto tumbang. Kasus Novel kembali dibuka. Pra-peradilan pertama digelar, dan BG keluar sebagai pemenang.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, KPK tumbang oleh tersangka korupsi.

(4) Ada kemungkinan Cicak vs. Buaya jilid ke IV digelar, ketika kasus Buku Merah mencuat. Tapi sayang, 'cicak' kita telah kehilangan nyali. KPK tidak berdaya ketika beberapa lembar penting dari buku merah itu disobek-sobek oleh penyidik mereka sendiri.

Di negara maju, merusak dan menghilangkan barang bukti adalah kejahatan serius. Untungnya kita bukan negara maju, jadi kejadian memalukan itu dianggap biasa saja. Penyidik itu hanya dikembalikan ke institusi aslinya (Polri), bukan dituntut melakukan kejahatan serius. Malah setelah balik ke Polri dapat promosi. Keren nggak?

Entahlah, nyali 'Cicak' menciut karena kurang back-up dari atasan mereka seperti back-up yang kuat pada KPK di era SBY, atau mereka lebih suka mencari aman dengan meng-OTT kasus-kasus korupsi kelas recehan.

Hanya cicak, buaya, dan Tuhan yang tahu.

Dan seperti biasa di era ini, ketika ada kasus besar tengah mencuat, tiba-tiba teredam oleh isu remeh temeh seperti peluru nyasar.

Jadi amanlah itu barang.

Dari dua pertemuan cicak vs. buaya di era Jokowi, cicak kalah melulu. Yang pertama kalah KO, yang kedua kalah WO.

Maklumlah gaes, WINTER IS COMING...

(by Wendra Setiawan)

*Sumber: https://www.facebook.com/wendra.setiawan.79/posts/10211902763901245