Mengapa Ratna Sarumpaet Harus Berbohong?


Mengapa Ratna Sarumpaet Harus Berbohong?

Oleh: Hersubeno Arief
(Wartawan senior)

Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pernah mengatakan “tidak ada manusia yang sanggup mengingat dengan baik untuk bisa menjadi pembohong yang sukses.’’

Pernyataan Presiden yang dikenang karena menghapus perbudakan itu sangat benar adanya. Kebohongan yang disampaikan Ratna Sarumpaet (RS), bahwa dia digebuki sejumlah orang di Bandung, hanya bertahan sehari.

Polisi dengan mudah membongkar kebohongan itu karena bisa membuktikan sejumlah fakta. Mulai dari tidak adanya manifest penumpang atas nama RS. Tidak ada rumah sakit di Bandung yang mengaku merawat RS. Yang lebih telak polisi punya foto-foto dan rekaman CCTV, ketika RS di rawat di sebuah klinik kecantikan di Jakarta. Polisi juga punya bukti transaksi pembayaran untuk biaya operasi plastik, juga register kapan RS mulai dirawat, dan kapan meninggalkan klinik.

Untuk kali ini prestasi polisi top! Sangat sigap. Kita berharap kasus lain yang lebih serius seperti Novel Baswedan, kasus teror terhadap Neno Warisman dan Mardani Ali Sera segera terungkap. Oh iya hampir lupa, kasus editing video pengeroyokan suporter Persija yang ditambahi kalimat tauhid, dan ujaran kebencian yang mengikutinya juga belum terungkap.

Sejak awal memang banyak kejanggalan atas pengakuan RS. Mengapa setelah lebih dari 10 hari RS baru membuat pengakuan? Sebagai seorang aktivis pemberani dan urat takutnya sudah putus, sangat tidak masuk akal hanya karena digebuki, RS ketakutan. RS bukan tipikal aktivis cengeng seperti itu. Pada masa Orde Baru saja RS berani menentang penguasa. Dia membuat pementasan monolog “Marsinah Menggugat,” seorang aktivis buruh di Surabaya yang tewas di tangan aparat militer.
RS juga berani berdebat, bahkan adu mulut  dengan super minister Luhut Panjaitan pada musibah perahu motor yang tenggelam di Danau Toba, beberapa waktu lalu. Jadi tak ada kamus takut pada RS.

Pengakuannya bahwa dia takut karena anak cucunya terancam, menjadi sedikit masuk akal. RS bagaimanapun kini sudah menua. Usianya mendekati 70 tahun. Tak muda lagi. Wajar bila level keberaniannya juga menurun. Ada prioritas lain yang harus dia pertimbangkan.

Wajar bila Prabowo dan Amien Rais langsung percaya dengan pengakuan RS. Bagaimanapun RS adalah seorang aktivis yang belakangan ini rajin bersuara keras mengkritisi pemerintah. Safari Gerakan Selamatkan Indonesia (GSI) bersama Rocky Gerung di berbagai wilayah Indonesia sering dihadang, dan dihalang-halangi. Beberapa waktu lalu dia terpaksa pulang ke Jakarta, karena dihadang massa di Bandara Batam.

Namun RS akhirnya mengakui bahwa semuanya bohong. Bengkak-bengkak di wajahnya akibat sedot lemak dan operasi plastik (oplas). Dia membuat cerita bohong karena tidak ingin diketahui keluarganya, karena melakukan oplas.

Pengakuan ini juga masih perlu dipertanyakan karena polisi punya bukti pembayaran biaya di klinik menggunakan rekening bank anak lelakinya. Biasanya seseorang yang berbohong, cenderung akan membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongannya.

Kasusnya menjadi heboh karena Prabowo yang kini menjadi capres membuat jumpa pers. Prabowo minta agar polisi menangani kasus RS yang juga tercatat sebagai salah satu Jurkamnas Prabowo-Sandi.

Reaksi Prabowo sebenarnya sangat wajar. Sebagai prajurit komando yang memiliki semangat esprit de corp yang tinggi, Prabowo pasti akan membela RS yang didzalimi. Jangankan RS, orang lain pun pasti dibela Prabowo bila mendapat perlakuan seperti RS. Masak ada seorang nenek-nenek, anggota tim kampanye dianiaya, Prabowo diam saja. Gak Prabowo banget.

Masalahnya menjadi heboh ketika RS mengaku berbohong, dan Prabowo adalah seorang capres penentang inkumben. Para buzzer inkumben mengekploitasinya habis-habisan sebagai sebuah keuntungan politik (political advantage).

Maklumlah mereka belakangan ini sangat tertekan. Mulai dari masalah ekonomi yang memburuk, rupiah terus melemah, dan blunder penanganan gempa di Sulteng. Kalau saja peristiwa ini terjadi bukan pada masa kampanye, dan Prabowo bukan capres, pasti ceritanya akan lain. Publik akan segera melupakannya.

Peristiwa biasa

Seorang tokoh berhasil dibohongi, apalagi oleh seseorang yang punya reputasi cukup bagus seperti RS, sebenarnya merupakan peristiwa biasa. Dari sudut yang netral kita bisa mendapat gambaran bahwa Prabowo adalah manusia yang polos. Bukan seorang politisi yang terbiasa hidup dengan kebohongan. Dia selalu melihat orang lain dengan cara positif (positive thinking).

Kita barangkali belum lupa bagaimana Menteri Agama Said Agil Al Munawar berhasil meyakinkan Presiden Megawati bahwa di Istana Batu Tulis, Bogor  tersimpan banyak harta karun. Harta tersebut bisa untuk membayar utang negara. Said Agil diizinkan melakukan penggalian. Hartanya ketemu? Tentu saja tidak.

Presiden SBY juga pernah terpedaya Joko Suprapto seorang pria asal Nganjuk, Jatim yang mengaku bisa mengubah air menjadi energi listrik. Dia menyebutnya sebagai terobosan teknologi bernama blue energy.

Bagaimana dengan Presiden Jokowi? Ternyata  juga pernah menjadi korban kebohongan. Seorang remaja asal Banyuwangi, Jatim yang dikenal sebagai Afi Nihaya Faradisa sempat diundang ke istana karena banyak disanjung sebagai penulis hebat. Afi bahkan sempat berselfi ria bersama Jokowi. Belakangan ketahuan tulisannya hasil plagiat.

Pada masa Orde Baru Wapres Adam Malik juga terkecoh. Cut Zahara Pona seorang perempuan asal Aceh mengaku bayi dalam kandungan bisa bicara dan mengaji. Kebohongan Cut Zahara terbongkar ketika coba dipertemukan dengan Presiden Soeharto. Ibu Tien Soeharto curiga. Ketika digeledah, kedapatan ada tape recorder dibalik kain yang dikenakannya.

Presiden Soekarno juga pernah dibohongi tukang becak dan seorang pelacur asal Tegal, yang mengaku sebagai Raja Idrus dan Ratu Markonah. Keduanya mengaku sebagai Raja dan Ratu Suku Anak Dalam dan bisa membantu pembebasan Irian Barat. Karena itu mereka diundang ke istana dan disambut secara resmi.

Cerita tentang Gus Dur lain lagi. Tukang pijatnya bernama Suwondo berhasil menipu Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog) dan membobol uang yayasan itu hingga Rp 35 miliar.

Moral cerita yang bisa dipetik,  presiden maupun wakil presiden adalah manusia biasa. Begitu juga halnya dengan capres seperti Prabowo. Mereka bisa saja ditipu, maupun dibohongi. Yang tidak boleh itu, capres apalagi presiden, berbohong. Presiden model begini secara moral tidak  bisa dipercaya dan tidak layak dipilih.

“I’m not upset that you lied to me, I’m upset that from now on I can’t believe you. -Freiderich Nietzsche.

*Sumber: https://www.hersubenoarief.com/artikel/mengapa-ratna-sarumpaet-harus-berbohong/
Baca juga :