Metode Hebat Zakir Naik Dalam Berdebat Dengan Non-Muslim


Metode dialog yang digunakan oleh Zakir Naik sebenarnya sama dengan Ilmu Kalam yang telah ditulis dan dipelajari oleh para ulama Muslim sejak ratusan tahun lalu.

Ilmu Kalam adalah ilmu yang dirancang untuk mempertahankan kebenaran dengan menggunakan argumentasi-argumentasi logis.

Berdialog dengan non-muslim tentu tidak bisa dimulai dari "Allah berfirman" atau "Rasul bersabda". Sebab mereka sendiri belum beriman atau percaya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dialog dengan non-muslim harus dimulai dari hal-hal mendasar, yaitu tentang kepercayaan terhadap Tuhan. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan: apakah Tuhan itu satu atau lebih. Kemudian tentang kebenaran Al Quran. Begitu seterusnya. Semuanya harus urut dan sistematis.

Semestinya setiap sarjana Muslim menguasai Ilmu Kalam, sebab tantangan dakwah sangat beragam. Syubhat-syubhat yang bertebaran tidak bisa dihilangkan hanya dengan perintah "lakukan" atau "jangan lakukan". Perintah semacam itu memang cocok untuk Muslim yang sudah tunduk patuh kepada aturan Islam. Tapi bagi non-muslim, mereka menginginkan jawaban dari pertanyaan "mengapa" harus dilakukan atau "mengapa" tidak boleh dilakukan.

Berawal dari sinilah, para ulama Mutakallimin terdahulu menyusun Ilmu Kalam yang sampai sekarang masih terus dipelajari oleh para santri di seluruh dunia.

(Danang Kuncoro Wicaksono)