Ahoker GAGAL DRAMA Lagi, Maksud Hati Jatuhkan Anies, yang KETAMPAR Justru Ahok


[PORTAL-ISLAM]  Sebuah video berisi curhat seorang guru bantu, diunggah oleh sebuah akun yang dikenal luas sebagai pendukung Ahok.
Dalam video tersebut, perempuan berkerudung yang mengaku seorang guru bantu, nampak dengan suara bergetar mengisahkan kepedihannya karena sejak Januari 2016 hingga Desember 2016 belum menerima honor.

Ia pun mengisahkan 'perjuangan'nya memohon keadilan hingga ke kementrian pendidikan, yang kala itu, dipegang Anies Baswedan.

Dengan penuh kesedihan, ia berkisah, sejak sahur hingga menanti di kementrian pendidikan, namun hingga maghrib, ia tak juga ditemui menteri Anies.

Dengan bibir bergetar, perempuan tersebut berharap di tangan Ahok, nasib para guru bantu akan sejahtera.

Sayang sekali, drama curhat yang begitu indah dan nyaris sempurna ternyata gagal menjatuhkan nama Anies Baswedan.

Mungkin tak banyak dari publik yang tahu bahwa honor guru bantu dibayarkan oleh Pemerintah Provinsi setempat dan dianggarkan dalam APBD Provinsi, bukan dibayarkan oleh Kementerian Pendidikan.

Jadi, jika honor guru bantu belum dibayarkan, semestinya guru tersebut menanyakan atau bisa menggugat ke Dinas Pendidikan Provinsi.

Dalam hal ini, jika guru tersebut belum menerima honor, apalagi sampai satu tahun, berarti ada yang tidak beres dengan pemerintah provinsi.

Jika pada akhir video, guru bantu tersebut berharap Ahok bisa mensejahterakan nasibnya, artinya guru itu merupakan guru bantu yang dipekerjakan oleh provinsi DKI Jakarta.

Artinya, jika selama periode Januari 2016 hingga Desember 2016 ia belum terima honor sepeser pun, maka yang harus bertanggungjawab adalah Pemprov DKI Jakarta dan Ahok, bukan Anies Baswedan!

Lagi pula, ada yang terlewatkan. Mengapa harus ngotot menyalahkan Anies Baswedan, sementara pada periode 27 Juli 2016 hingga saat ini, Menteri Pendidikan bukan lagi Anies Baswedan? Mengapa guru honorer tadi tidak ikut menyalahkan Menteri Muhadjir Effendi?

Seperti sudah bisa ditebak, drama yang gagal ini pun akhirnya menjadi bahan tertawaan netizen.





Model video pembodohan yang dikampanyekan tim sukses Ahok, hanya bisa diterima oleh konstituen yang tidak memiliki pengetahuan cukup. Sedangkan bagi netizen dan publik yang berpengetahuan luas, model kampanye semacam ini hanya menjadi anekdot tak lucu.