Mengapa Partai Sontoloyo harus 'diloloskan' ke Senayan?

Mengapa Partai Sontoloyo harus 'diloloskan' ke Senayan?

By Wendra Setiawan

Kekuasaan Pakdhe saat ini boleh dibilang hampir tidak ada yang bisa mengimbangi. Politik sanderanya sangat ampuh mengekang lawan dan memasung kawan untuk melakukan apa saja yang Pakdhe mau. Lawan politiknya disandera dengan kasus, sementara sekutu-sekutunya dia pasung dengan utang budi.

Tapi Pakdhe tahu itu semua hanya ampuh saat ia masih memegang kendali kekuasaan.

Bagaimana jika dia sudah lengser? Bagaimana jika dia sudah tidak lagi berkuasa?

Orang-orang yang selama ini ia kendalikan tentu akan mencari tempat berlindung baru yang lebih kuat. Begitulah cara hidup parasit. Selalu berpindah dari inang satu ke inang lain yang lebih kuat.

Siapa kekuatan baru ini? Ya penguasa baru.

Calon penguasa baru ini memang punya potensi untuk membangun kekuatan baru yang jauh lebih besar dibanding era Pakdhe. 

Selain punya partai sendiri yang punya suara cukup besar di parlemen, koalisinya juga sangat solid. Belum lagi kemampuan calon presiden baru dalam menghimpun pensiuners yang berpengaruh besar dalam mengendalikan arah perpolitikan negeri ini. 

Dan dia juga pasti lebih mudah mencari dukungan militer.

Ambisi Pakdhe untuk memasukkan generasi barunya dalam percaturan elite perpolitikan negeri ini telah menciptakan monster baru yang lebih menakutkan dari dirinya.

Saat ini Pakdhe memang masih sangat kuat. Tapi kekuatannya pasti akan menyusut drastis setelah ia lengser nanti. Memang dia punya generasi baru di pemerintahan. Anaknya sendiri. Tapi apalah arti ban serep. Apalagi ban serepnya masih berbentuk kecambah.

Dia akan tersingkir dari percaturan elite. Pelan-pelan dia akan dilupakan. Sebagai seorang megalomania pecandu sorotan kamera, hal ini tentu sangat menakutkan buat Pakdhe.

Tidak cukup dengan politik balas budi dan menempatkan anaknya di lingkaran elite kekuasaan. Politik balas budi hanya membantu Pakdhe dan keluarga terhindar dari masalah. Pakdhe juga harus punya kendaraan yang cukup vokal di parlemen, yang bisa dia kendalikan dari luar.

Pakdhe harus memainkan orkestra sulap terakhirnya: Partai anaknya harus diloloskan!

(*)
Baca juga :