Jokowi Memantau dari Jauh

Oleh: Erizal

Dari luar negeri, Presiden Jokowi bisa melihat situasi di tanah air dengan lebih tenang, jernih, dan menyeluruh. Disengaja atau tidak, Jokowi sudah tepat berada di luar negeri. Sebab, suatu saat nanti ia memang akan jauh dari semua itu. 

Padahal, masih setahun lagi ia memimpin. Itu saja, ia sudah bisa melihat sesiapa yang bakal lari atau menjauh, bahkan menghantam dirinya. Apalagi sudah tak lagi memimpin nantinya. Tak akan menunggu lama, ia bakalan ditinggalkan.

Yusril pernah bercerita tentang Soeharto yang baru sehari tak memimpin. Soeharto seketika jadi orang biasa saja. Tuahnya hilang. Dielu-elukan pada masanya, lalu dihujat sejadi-jadinya oleh pembencinya. Tak ada lagi orang di sekitarnya.

Ya, Jokowi, tentu bukan Soeharto. Tapi orang yang menyamkannya dengan Soeharto sudah mulai bermunculan. Bahkan, oleh orang-orang yang dulu dan saat ini masih tampak ada di sekitar dirinya. Dan mengaku, masih menyayanginya.

Hari ini, mungkin titik terendah Jokowi. Tapi, masih ada setahun lagi. Sebelum putusan MK kemarin, tingkat kepuasan terhadap kinerjanya amat tinggi. Setelah ini, tak tahu. Apakah akan tergerus atau tidak? Betul-betul banyak atau sedikit?

Dari jauh, titik terendah dan masih setahun lagi, adalah situasi yang paling bagus merumuskan siapa kawan dan lawan, sebenarnya. Di antara kawan apakah masih ada lawan? Dan di antara lawan, masih adakah kawan? Semua ketahuan.

(*)
Baca juga :