Tingginya Toleransi di Era Anies Baswedan

Sebagai miniaturnya Indonesia, DKI Jakarta sarat dengan kemajemukan, termasuk dalam keberagaman umat beragama. Melansir statistik sektoral Provinsi DKI Jakarta tahun 2020 menunjukkan dari 11.196.633 warga Ibu Kota, sebanyak 84% penduduknya menganut agama Islam.

Meskipun mayoritas penduduk DKI Jakarta beragama Islam, penganut agama Kristen (Protestan/non-Katolik) menjadi yang terbanyak kedua, yakni sebesar 8,6% atau sebanyak 960.162 jiwa.

Sejak Anies Baswedan menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 2017, kehidupan antar umat beragama di Ibu Kota diwarnai penuh toleransi antar sesama. Setiap umat bergama begitu dijamin kebebasannya dalam beraktivitas dan beribadah.

Tak hanya menjamin kebebasan bagi setiap umat beragama untuk menjalankan ajarannya masing-masing, bahkan Anies pun ikut aktif memfasilitasi kebutuhan setiap umat beragama untuk beribadah. Salah satunya melalui dana Bantuan Operasional Tempat Ibadah (BOTI).

Program yang diinisiasi Anies sebagai salah satu wujud menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama itu sangat diirasakan manfaatnya oleh semua umat beragama tanpa terkecuali.

Berbagai kalangan lintas agama menilai BOTI sebagai bentuk kepedulian dari Anies untuk tempat agama yang membuat mereka merasa dekat dengan pemerintah.

Sederet pengakuan sangat positif pun terlontar dari para pemuka agama di Ibu Kota, di antaranya Pemuka Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI) Shekinah Glory Family, Jakarta Pusat, Pendeta Kosta Rante Linggi. Ia menilai program BOTI sangat banyak membantu untuk memenuhi kebutuhan gereja.

“Bagi gereja kecil seperti kami untuk mendapatkan bantuan cukup suliit. Pemanfaatan dana BOTI ini kami gunakan untuk kebersihan,  seperti membeli alat-alat kebersihan, sabun cuci tangan, dan menyediakan masker,” kata Pdt. Kosta Rante dikutip dari sebuah video belum lama ini.

Adapun Pandita Majelis Budhayana Indonesia, Hendri Nuraida mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun baru kali ini merasa diperhatikan oleh pemerintah. Hendri menekankan bahwa ia tidak pernah menilai jumlah BOTI, namun bangga karena Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Anies bisa hadir untuk umatnya.

“Lebih dari 30 tahun saya sebagai Pandita agama Budha. Saya senang, karena selama ini tidak ada (bantuan). Harus dari kantong sendiri. Jadi pas dapat BOTI, seperti ada perhatian dari pemerintah. Kami bangga sekali. Bukan nilainya, tapi rasa bangganya, karena ada perhatian dari pemerintah,” tutur Hendri.

Manfaat adanya program BOTI juga diungkapkan Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Lautze, Karang Anyar, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Peter Wiganda. “Dana bantuan BOTI ini sangat besar pengaruhnya buat masjid kami, terutama saat pandemi. Dapat kami gunakan untuk (membeli) alat-alat protokol kesehatan,”

Karena itu, Peter pun berharap nantinya program BOTI bisa terus berjalan permanen di Ibu Kota. “Harapan saya dana BOTI masih tetap berjalan supaya bisa tetap membantu ekonomi masjid dan untuk  memelihara kebersihan masjid kita semua,” terangnya.

Untuk diketahui, dana BOTI untuk tahun 2021 bagi rumah-rumah ibadah di Jakarta dari berbagai agama, ditetapkan senilai Rp140,520 miliar. Dana hibah BOTI sebesar itu pada 2021 lalu disalurkan untuk 3.200 masjid, 2.000 musala, 1.379 gereja, 263 wihara serta 19 pura dan kuil.

Adapun besaran dana hibah BOTI untuk tempat ibadah besar seperti masjid, gereja, pura, dan wihara sejumlah Rp2 juta per bulan. Sedangkan untuk tempat ibadah sedang seperti musala sebesar Rp1 juta per bulan.

Selain itu, ada juga dana insentif untuk pengurus atau penjaga tempat-tempat ibadah, seperti marbot, imam masjid/musala, pengurus gereja, wihara, dan pura senilai Rp500 ribu per bulan. Dana hibah BOTI dan insentif tersebut digelontorkan selama 12 bulan.

Toleransi, Keadilan, dan Kesetaraan

Anies Baswedan yang besok, Minggu (16/10/2022), meninggalkan Balai Kota DKI Jakarta setelah menuntaskan tugas-tugasnya selama lima tahun menjabat Gubernur DKI, kerap menekankan pentingnya toleransi, keadilan, dan kesetaraan dalam kehidupan.

Mantan Rektor Universitas Paramadina itu menginginkan DKI Jakarta menjadi rumah bagi semua golongan berdasarkan keadilan dan kesetaraan.  “Kami merasa senang bahwa di Jakarta ini masing-masing umat beragama bisa menjalankan agamanya dengan baik dan saya juga terus mewujudkan,” ujar Anies menyampaikan rasa bahagianya kepada umat Katolik ketika meresmikan gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jelambar Timur,  Jakarta Utara, baru-baru ini.

“Maka, kota ini, kota yang bahagiakan, kota yang menenangkan dan suasananya pun teduh, damai bagi semuanya,” sambung Anies saat menyampaikan ucap selamat kepada jemaat GBI Jelambar Timur yang telah menyelesaikan pembangunan rumah ibadah.

Anies pun mengingatkan kembali untuk selalu membangun toleransi dengan rasa peduli dan rasa pemahaman, sehingga tidak bergerak satu arah saja. Dengan begitu, kehadiran gereja tersebut bukan saja bermanfaat bagi jemaat yang beribadah di rumah ibadah GBI Jelambar Timur, namun juga membawa manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

“Jadi dari masyarakat di situ memberikan ruang untuk jemaat di Jelambar Timur bisa memiliki sebuah gereja dan menjalankan ibadahnya. Di sisi lain pengelolanya yang baik jemaatnya juga menghormati, menghargai warga yang ada di sekitar gedung GBI,” tutur Anies.

Bagi Anies, peresmian gedung ibadah seperti gereja, selain untuk memberikan rasa kesetaraan dalam beribadah, juga diharapkan menciptakan semangat para jemaat untuk bisa semakin tumbuh serta terpacu dalam berbuat kebajikan. “Ini bisa menjadi satu contoh dan menjadi gambaran bagaimana kita bisa hidup bersama dan bersatu,” ucap Anies.

Anies menekankan bahwa untuk menuju persatuan dan kesatuan Indonesia, setiap pribadi harus mengamalkan sikap toleransi dan sikap kesetaraan dalam semua aspek. Maka selanjutnya akan muncul rasa keadilan, sehingga akan terbentuknya rasa  persatuan. “Pada akhirnya kita juga ingin persatuan ini akan berkelanjutan,” lanjutnya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengaku tidak ingat berapa rumah ibadah yang telah diresmikannya semasa menjabat sebagai Gubernur DKI karena sangat banyak jumlahnya. “Wah banyak banget,” ucap Anies.

Anies menyebutkan Pemprov DKI hanya memberikan dukungan perizinan mendirikan bangunan (IMB). Sedangkan untuk pembiayaannya, dilakukan secara swadaya. “Kami (Pemprov DKI) perizinannya, kalau pembangunannya semuanya swadaya. Kami pun menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam pembangunan gedung gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ungkap Anies menerangkan.

Gelar Bapak Kesetaraan Indonesia

Belum lama ini, tepatnya pada awal September lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dianugerahkan sebagai Bapak Kesetaraan Indonesia. Penganugerahan itu diberikan oleh Lembaga Paskah Nasional Pusat Pelayanan Kristiani Jakarta saat peresmian Gereja Pantekosta Jemaat Yordan Gading Griyadi Lestari, Jakarta Utara pada Sabtu (3/9/2022).

Ketua Pengurus Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) DKI Jakarta, Pendeta Jason Balompapueng menyebut penghargaan itu sangat layak diberikan kepada Anies karena kebijakan mengenai kesetaraan di Ibu Kota sudah dilakukan Anies selama lima tahun memimpin Jakarta.


“Saya pikir kalau untuk DKI Jakarta tidak bisa diragukan lagi. Beliau adalah sangat layak menjadi gubernur yang betul-betul menjaga toleransi, kerukunan antarumat beragama. Itu luar biasa. Dan kami sebagai warga DKI Jakarta sangat-sangat berterima kasih,” ungkap Pendeta Jason seperti dikutip dari KBA News, Sabtu (3/9/ 2022).

Dia pun menilai Anies adalah sosok yang hebat. Kehebatan Anies itu, dalam pandangan Pendeta Jason, telah ia saksikan sendiri selama Anies memimpin Ibu Kota lima tahun ini. “Beliau ini orang yang sangat hebat. Dia punya kemampuan melebihi kapasitas sebagai gubernur. Dia punya kemampuan yang jauh lebih hebat dari jabatan yang sekarang,” kata Pendeta Jason menegaskan.

Dengan penganugerahan tersebut, Anies menyampaikan apresiasinya. “Saya sampaikan apresiasi, terima kasih penghargaan yang luar biasa,” kata Anies kepada awak media seusai acara tersebut.

Anies menyampaikan bahwa tugas menyetarakan dan memberikan keadilan bagi masyarakat adalah kewajiban pemerintah. “Ini semua yang dikerjakan sebagai bagian dari tugas pemerintah. Dan ini adalah arah konstitusi kita. Memberikan kesetaraan, memberikan rasa keadilan. Dan itu juga yang selama ini kami ikhtiarkan di Jakarta,” ujar Anies menekankan kembali.

Pengakuan atas tingginya toleransi dan kesetaraan yang telah dibuktikan Anies selama ini juga ditunjukkan oleh umat Hindu ketika Anies meresmikan Pura Grha Sabha Adhitya  di Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (10/10/2022).

Kehadiran Anies di pura tersebut disambut sangat meriah oleh umat Hindu yang sudah menunggunya. Mereka berebut bersalaman dan berfoto bersama Anies

Bukan hanya sambutan meriah dan hangat, bahkan Ketua Suka Duka Hindu Dharma (SDHD) DKI Jakarta Made Sudarta mengangkat kedua jempolnya ketika ditanya apakah sosok Anies layak untuk maju sebagai calon Presiden (Capres) 2024.

Selain mengangkat dua jempol untuk Anies, Made Sudarta juga menyatakan “siap” saat ditanya para wartawan terkait dukungannya kepada Anies pada Pilpres 2024. “Siap!” kata Made menegaskan.

(Sumber: INILAH)