EKO HARBI BERULAH LAGI

EKO HARBI BERULAH LAGI

Oleh: Balyanur

Ketika Rasulullah mengabarkan tentang hari kiamat, kaum kafir Quraisy berlomba-lomba mengejek seperti yang digambarkan dalam surah Annaba ayat 1-5
عَمَّ يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ – ١
Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?
عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ – ٢
Tentang berita yang besar (hari kebangkitan),
الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ مُخْتَلِفُوْنَۗ – ٣
yang dalam hal itu mereka berselisih.
كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَۙ – ٤
Tidak! Kelak mereka akan mengetahui,
ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ – ٥
sekali lagi tidak! Kelak mereka akan mengetahui.

Bertanya untuk tujuan untuk mengetahui berbeda dengan bertanya untuk tujuan mengejek. Para ahli tafsir sepakat “yatasaalun” itu bertanya untuk tujuan mengejek. Kata para ahli tafsir pula, “mukhtalifun” menggambarkan bahwa perselisihan (berlomba mengejek hari kiamat itu) bukan hanya terjadi pada masa Rasulullah saja tapi juga akan terus terjadi sampai hari kiamat tiba.

Terbukti, sekarang ini kalau bicara hari kiamat, surga, neraka maka auto dapat ejekan, “Memangnya pernah ke surga?“ atau bisa dituduh penjaga kunci surga.

Ustadz Kholid Basalamah (UKB) mengutip hadits shohih, “Pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim no. 2565 )

Itu hadits cukup populer karena sebagai dalil puasa Senin-Kamis. 

Tapi Eko “Harbi” Kunthadi, pendukung berat Ganjar Pranowo kembali berulah setelah beberapa minggu puasa mengejek Islam.

“Hari berganti menandakan satu putaran rotasi bumi. Karena itu terjadi perbedaan waktu, termasuk juga beda hari. Bisa saja di Indonesia sudah hari Senin, sedangkan di Washington masih Minggu. Terus, pintu surga dibukanya ikut waktu yang mana? Emang di surga ikut rotasi bumi juga?“ Cuit Eko.

Itu bukan pertanyaan karena ingin tahu, tapi ejekan. Apalagi melihat jejak keharbian Eko yang gemar menghina ajaran Islam. Ejekannya terhadap ayat Qur’an soal bidadari surga belum bikin dia kapok walaupun dia lari terbirit-birit ratusan kilometer untuk minta maaf.
Bukan hanya Eko. Ejekan terhadap hadits Nabi yang lain juga menghiasi medsos. Misalnya hadits ini : “Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan.” (HR. Abu Daud no. 1047, An Nasai no. 1374, Ibnu Majah no. 1085 dan Ahmad 4: 8. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani)
Mereka mengejek dengan pertanyaan, kiamat datang pada hari jum’at waktu mana? Arab Suadi? London? Jerman?Atau kiamat di Arab hari jumat terus menyusul ke negara lain yang hari jumatnya esokan harinya?

Percaya tentang adanya hari kiamat itu tergolong beriman pada yang ghoib. Bagaimana hal yang ghoib harus dibuktikan dengan harus datang dulu ke lokasi dalam hal ini surga. Dungunya tuh di situ.

Sejak tahun 2014 ejekan demi ejekan itu terus bertebaran tanpa kena teguran atau sanksi tegas. Umat Islam hanya bisa mengelus dada. Lapor pun percuma. Menyerang balik di medsos dituduh radikal radikul bahkan dituduh sebagai pendukung teroris.

Mereka dituduh Islamophobia malah mencak-mencak. Nggak ngaku. Tapi ejekan terhadap ajaran Islam tiap hari bertebaran.

Ejekan Eko terhadap UKB itu berdekatan dengan peranyataan LDNU yang minta pemerintah melarang ulama yang mereka sebut sebagai wahabisme. LDNU tidak menjelaskan apa itu Wahabi. Bagi warga kolam, UKB itu dimasukan dalam keranjang wahabi.

Barangkali Eko merasa mendapat angin segar dan akan didukung PBNU jika menghujat UKB. Tapi karena kebodohannya, Eko bukan meghujat UKB tapi menghujat hadits Nabi. Maka nggak heran, tokoh NU, Gus Nadir kembali turun tangan manasehati Eko.
Gus Nadir dulu juga orang pertama yang kasih peringatan Eko ketika Eko menghina ajaran Islam yang diucapkan oleh Ning Imaz. Karena Ning Imaz adalah ustadzah NU, Eko terkencing-kencing di celana.

Pertanyaannya, kenapa sih pendukung Ganjar gemar banget menghina ajaran Islam? Padahal di sisi lain mereka banga jika Ganjar didoakan ulama ini ulama itu, bangga pasang gambar Ganjar didukung jamaah pesantren ini pesantren itu.

Nggak jelas banget!

(*)