Arab Saudi Yang Sedang Melepaskan Identitas VS Aceh Yang Berupaya Kembali Kepada Identitas

Oleh: Teuku Zulkhairi

Anak-anak muda Arab di Riyadh, Arab Saudi hadir ke tempat perayaan Halloween dengan keinginan untuk bersenang-senang. Salah satu anak muda Saudi, atas nama Abdurraman mengatakan ia tidak peduli soal halal dan haram. Ia mengatakannya sebagai berikut :

“Ini perayaan besar, jujur, dan ada semangat kegembiraan… Dalam hal haram atau halal, saya tidak tahu tentang itu. Kami merayakannya hanya untuk bersenang-senang dan tidak ada yang lain. Kami tidak percaya pada apapun,” katanya dikutip dari Arab News.

Abdurrahman juga memamerkan kostum makhluk mitologi Amerika Utara Wendigo. Legenda mengatakan bahwa makhluk folkloric adalah roh jahat yang merasuki manusia, menyerukan perasaan serakah dan lapar, dan mengkanibal orang, memakan daging mereka. Ini adalah kali pertama Abdulrahman merayakan Halloween di Tanah Air.

Ungkapan anak muda ini menunjukkan bahwa mereka sedang berupaya meninggalkan identitas Islam mereka. Mereka tidak peduli soal halal dan haram (maksudnya tidak peduli dengan hukum haramnya perayaan halloween yang haram dalam Islam karena menyerupai orang-orang kafir).

Ini terjadi saat dimana kita di Aceh sedang berjuang kembali kepada identitas. Jadi orang-orang Aceh harus bersyukur pada keadaan kita sekarang dimana pemerintah berupaya agar kita kembali kepada identitas. Ya walaupun upayanya masih setengah-setengah.

Tapi setidaknya, oleh pemerintah kita tidak diarahkan lepaskan identitas seperti halnya anak-anak muda saudi sedang digiring ke arah pelepasan identitas.

Ya kita paham bahwa Islam datang dan pada awalnya berkembang di Jazirah Arab. Dan Islam lah yang menjadikan Arab diperhitungkan dalam pentas peradaban dunia.

Dan apa yang terjadi di Saudi ini juga jelaskan menunjukkan bahwa Aceh tidak ikut Arab dalam hal-hal yang merusak dan bertentangan dengan Islam.

Sebab, sering selama ini kita dengar sejumlah orang "yang agak liberal si angen" menuduh muslim Indonesia terlalu ke Arab-araban. Hanya karena pakaian yang tertutup atau praktik Islam lainnya seperti jenggot. Atau karena pelaksanaan hukum Syari'ah.

Tapi ketika kita telusuri, muslim Indonesia, khususnya Aceh sebenarnya tidak ikut Arab. Arab tidak pernah menjadi patron kebenaran bagi orang Aceh.

Patron kebenaran kita adalah Islam. Jika Islam menjadi pegangan orang Arab atau bangsa apapun di atas muka bumi ini, maka kita pasti akan sama dengan mereka dalam banyak hal.

Tapi jika bangsa Arab lepaskan identitas Islamnya, maka kita pasti akan berbeda dengan mereka.

31/10/2022

(fb penulis)