Apa yang Membuat Qatar Jadi Negara Terkaya Dunia?

[PORTAL-ISLAM.ID] Beberapa tahun terakhir, Qatar sukses mencatatkan namanya sebagai negara terkaya di dunia.

Diketahui, Qatar memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar paritas daya beli (PP) mencapai 132.886 dollar AS.

Angka itu jauh di atas Indonesia yang hanya memiliki PDB atas PPP sebesar 13.998 dollar AS.

Negara yang dipimpin oleh Tamim bin Hamad Al Thani hanya memiliki penduduk sekitar 2,8 juta jiwa, berdasarkan data Worldometers.

Kaya minyak dan gas alam

Dibandingkan negara Teluk lainnya, cadangan minyak Qatar tak sebesar Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Akan tetapi, jumlah penduduk yang jauh lebih sedikit membuat negara ini kaya.

Berdasarkan data yang dirilis BP Statistical Review of World Energy 2020, Qatar memiliki cadangan minyak sebesar 25,2 miliyar barrel pada 2019.

Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan 20 tahun lalu yang hanya mencapai 13,1 miliar barrel.

Angka produksi minyak per hari Qatar mencapai 1,8 juta barrel.

Sementara itu, angka konsumsi minyak di Qatar hanya mencapai 346.000 barrel per hari.

Selain minyak, Qatar juga menjadi salah satu negara dengan cadangan gas alam terbesar di dunia, yaitu 24,7 triliun meter kubik.

Cadangan gas alam Qatar hanya kalah dari Rusia (38 triliun meter kubik) dan Iran (32 triliun meter kubik).

Bahkan, cadangan gas alam Qatar jauh lebih besar dibandingkan cadangan di seluruh Asia Pasifik yang hanya mencapai 17,7 triliun meter kubik.

Kendati demikian, Qatar hanya mampu memproduksi gas alam sebesar 178 miliar meter kubik pada 2019.

Pada tahun yang sama, nilai ekspor komoditi Qatar mencapai 72 miliar dollar AS dikutip dari Trend Economy.

Tercatat 85 persen ekspor Qatar berupa bahan bakar mineral dengan nilai 62 miliar dollar AS.

Kemudian, disusul plastik (3,29 persen), pupuk (1,93 persen), alumunium (1,86 persen), dan bahan kimia organik (1,16 persen).

Tujuan ekspor Qatar mayoritas adalah negara Asia.

Jepang menjadi tujuan ekspor Qatar paling favorit pada 2019, yaitu sebesar 18,6 persen, Korea Selatan 15,5 persen, dan China 12,3 persen.[Kompas]