Ustad Radikal versus Ustad Nusantara (sebuah kebodohan yang dipelihara)

Ustad Radikal versus Ustad Nusantara
(sebuah kebodohan yang dipelihara)

Baru saja melihat video ceramah Gus Baha yang sedang menjelaskan tafsir surat Al Ikhlas kepada para santri. Sesekali tausyiah itu diselingi guyonan dan canda tawa. 

Apakah dengan demikian Gus Baha bisa dianggap menistakan teologi ummat Kristiani? Tentu tidak, karena beliau menjelaskan konsep Tuhan berdasarkan Al Qur'an yang tidak beranak dan diperanakkan. 

Respon berbeda jika hal tersebut dilakukan oleh UAS. Serta merta tuduhan radikal, intoleran dialamatkan kepadanya. Padahal sang ustad hanya menjelaskan tafsir surat Al Ikhlas, tak ada bedanya dengan Gus Baha.

Cak Nun (Emha Ainun Najib) dalam wejangannya berkali-kali menyebut kata kafir, Tuhan tidak beranak, jangan menyembah berhala dalam konteks menjelaskan ayat-ayat yang ada dalam Al Qur'an. Namun kita gak pernah melihat ada ormas atau buzzerp yang menyebut Cak Nun radikal, hingga menggolongkannya sebagai pendakwah intoleran. 

Konten ceramah KH. Said Aqil Siraj pun akan mirip dengan UAS saat beliau menjelaskan kandungan surat Al Ikhlas. Ya mau bagaimana lagi, karena Al Qur'an sendiri yang bicara konsep tauhid seperti itu. 

Bos Banser sekalipun akan menyebut kata kafir saat membaca surat Al Kafirun. Karena se-liberal apapun, seorang muslim gak bisa mengedit kata dalam Al Qur'an hanya agar dicap toleran. 

Walau demikian, Gus Baha, Cak Nun, KH Said Aqil Siraj, Bos Banser tak pernah digolongkan rezim Jokowi sebagai pendakwah radikal. Disinilah terjadi like and dislike, pemberlakuan standar ganda. Ada pihak yang langsung menghujat UAS intoleran karena konten ceramahnya menyebut Allah tidak beranak. 

Kekonyolan seperti inilah yang dipelihara oleh rezim Jokowi. Dipupuk, dirawat, dilanggengkan untuk membuat sekat di internal ummat islam. Dungunya kelewatan!

(Ruby Kay)