Said Didu: Kebijakan Ini Tidak Adil... Rakyat Kecil Dipersulit dan Dibatasi Beli Minyak Goreng Curah, Sementara Orang Kaya Menikmati Subsidi Biosolar Rp 100 Triliun

[PORTAL-ISLAM.ID]  Pemerintah memulai transisi perubahan sistem penjualan dan pembelian minyak goreng curah rakyat (MGCR). 

Masyarakat bisa membeli minyak goreng murah hingga 10 kg per hari, dengan menggunakan aplikasi PeduliLindungi atau menunjukkan NIK, mulai 11 Juli 2022. 

Kebijakan itu akan disosialisasikan selama dua pekan. 

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, nantinya setelah masa sosialisasi selesai, seluruh penjualan dan pembelian MGCR akan menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

Sementara masyarakat yang belum punya PeduliLindungi masih bisa membeli dengan menunjukkan nomor induk kependudukan (NIK).

“Masa sosialisasi akan dimulai besok Senin (27/6) dan akan berlangsung selama dua minggu ke depan. Setelah masa sosialisasi selesai, masyarakat harus menggunakan aplikasi PeduliLindungi atau menunjukkan NIK, untuk bisa mendapatkan MGCR dengan harga eceran tertinggi (HET),” kata Luhut dalam keterangan resmi, Jumat (24/6/2022).

Sebagai informasi, dua pekan setelah 27 Juni adalah 11 Juli. Ia menjelaskan, pembelian MGCR di tingkat konsumen akan dibatasi maksimal 10 kg untuk satu NIK per harinya dan dijamin bisa diperoleh dengan harga eceran tertinggi, yakni Rp14.000 per liter atau Rp15.500 per kilogram.

MGCR dengan harga tersebut bisa diperoleh di penjual/pengecer yang terdaftar resmi dalam program Simirah 2.0 dan melalui Pelaku Usaha Jasa Logistik dan Eceran (PUJLE) yakni Warung Pangan dan Gurih.

Menurut Luhut, perubahan sistem ini untuk memberikan kepastian akan ketersediaan dan keterjangkauan harga minyak goreng bagi seluruh lapisan masyarakat.

Namun, kebijakan ini dikritik mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu yang menilai tidak adil.

"Kebijakan ini tdk adil: Biosolar boleh dibeli siapa saja dan tidak terbatas padahal disubsidi sekitar Rp 12.000 per liter, sudah habiskan lebih Rp 100 trilyun dan yang menikmati adalah orang kaya. Sementara minyak goreng tidak disubsidi dan yang nikmati mayoritas org miskin tapi dipersulit," kata Muhammad Said Didu di akun twitternya @msaid_didu, Jumat (24/6/2022).