Ketika "Syaithon" Playing Victim (Belagak Jadi Korban)

𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐭𝐡𝐨̄𝐧 𝐏𝐥𝐚𝐲𝐢𝐧𝐠 𝐕𝐢𝐜𝐭𝐢𝐦

Ketika kelakuan keji rumah khomr "Ekor Bejat" (saya sebut demikian karena memang lebih tepat disebut sebagai "Ekor Bejat" daripada "Sayap Suci") menista Islām berlanjut kepada penutupan tempat-tempat kebejatan mereka, maka pemiliknya pun playing victim dengan mengatakan bahwa sebagian besar dari ribuan karyawannya adalah "Muslim" dan bahkan pengunjungnya pun mereka klaim kebanyakan juga "Muslim".

Ini jelas-jelas secara logika yang rusak, betapa tidak?

Coba ya, itu kerusakan akibat miras (khomr) itu jelas, dan ribuan karyawan itu merusak berapa ratus ribu lagi anggota masyarakat? 

Iya lah, logika sederhana saja: kalau mereka punya ribuan karyawan, tentunya yang mereka "layani" adalah ratusan ribu masyarakat, bukan? 

Tidak mungkin rasio karyawan lebih besar daripada masyarakat yang menjadi pelanggannya. 

Lihat saja, di mana-mana bar atau night club / discotheque itu isinya ratusan pengunjung sedangkan pegawainya paling hanya beberapa belas orang saja.

Saya juga tak percaya kalau alasan nasib mata pencaharian karyawannya itu adalah "tulus" yang concern dari para ownernya. Silakan check kalau memang owner itu concern dengan nasib karyawannya, maka:
- Apakah mereka menggaji karyawan sesuai dengan ketentuan UMR?
- Adakah mereka membayar BPJS Ketenagakerjaan?
- Adakah mereka membayar BPJS Kesehatan untuk pegawai & keluarganya?

Kalau mereka lakukan itu, maka okelah mereka boleh menggadang diri concern terhadap kesejahteraan karyawan & keluarganya. Tetapi kalau tidak, maka jelas itu cuma bull-shit saja! Hanya menjadikan karyawan sebagai tameng untuk mengemis simpati masyarakat, sementara yang menjadi concern mereka yang sesungguhnya hanyalah making money, lots of money.
 
Bagaimana kalau alasan nasib kesejahteraan pegawai itu ditinjau dari sisi Syari‘at Islām?

Sebenarnya Syari‘at sangat jelas tentang hal ini.

Kata Baginda Nabī ﷺ:

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ

“Allōh mela‘nat khomr, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta diantarkan.” [HR Abū Dāwūd no 3674].

Atau dalam riwayat lain:

لُعِنَتِ الْخَمْرُ عَلَى عَشْرَةِ أَوْجُهٍ بِعَيْنِهَا وَعَاصِرِهَا وَمُعْتَصِرِهَا ، وَبَائِعِهَا وَمُبْتَاعِهَا ، وَحَامِلِهَا وَالْمَحْمُولَةِ إِلَيْهِ ، وَآكِلِ ثَمَنِهَا ، وَشَارِبِهَا وَسَاقِيهَا

“Khomr dila‘nat pada 10 hal: ⑴ pada dzatnya, ⑵ pemerasnya, ⑶ orang yang minta diperaskan, ⑷ penjualnya, ⑸ pembelinya, ⑹ pembawanya, ⑺ orang yang meminta orang lain untuk membawanya, ⑻ orang yang memakan hasil penjualannya, ⑼ peminumnya, dan ⑽ orang yang menuangkannya.” [HR Ibnu Mājah no 3380; Ahmad no 4556].

Jadi secara "Supply Chain", maka yang dila‘nat itu benar-benar end to end…!

Alasan khomr itu dila‘nat adalah karena ia adalah "induk dari segala kemaksiyatan".

Kata Baginda Nabī ﷺ

اَلْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ، فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ صَلاَتُهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا ، فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِيْ بَطْنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Khomr adalah induk dari segala kejahatan, siapa saja yang meminumnya maka sholātnya takkan diterima selama 40 hari. Apabila ia mati sementara ada khomr di dalam perutnya, maka ia mati sebagaimana matinya orang Jāhiliyyah!” [HR ath-Thobarōnī, al-Mu‘jam al-Ausath no 3810 ~ dinilai shohīh oleh Muhammad Nāshiruddīn al-Albānī, Shohīh al-Jāmi‘-ish Shoghīr no 3344].

Di dalam riwayat lain:

اَلْخَمْرُ أُمُّ الْفَوَاحِشِ، وَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ ، مَنْ شَرِبَهَا وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ، وَخَالَتِهِ ، وَعَمَّتِهِ

“Khomr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar. Siapa saja yang meminumnya, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya!”_ [HR ath-Thobarōnī, al-Mu‘jam al-Kabīr no 11372 ~ dinilai shohīh oleh Muhammad Nāshiruddīn al-Albānī, Shohīh al-Jāmi‘-ish Shoghīr no 3345].

Bahkan, Baginda Nabī ﷺ menyebutkan bahwa orang yang meminum khomr itu pada saat ia meminumnya, maka īmān keluar dari dari dirinya, dan seorang pecandu khomr itu takkan masuk Syurga!

Ngeri kan…?

Maka pertanyaannya adalah: apakah akan dibiarkan saja sesuatu yang dila‘nat dari ujung ke ujung itu bebas merusak kaum Muslimīn?

Last but never the least, kewajiban amar ma‘rūf nahyi mungkar itu ada pada setiap jiwa sesuai dengan kemampuan dirinya. Tegakkan dengan tangan jika mampu (seperti Gubernur Anies menjadi yang pertama memerintahkan untuk menutup outlet itu), atau paling tidak jadilah buzzer kebenaran dengan menyuarakan penutupan tempat-tempat kemaksiyatan.

نَسْأَلُ اللهَ اَلْسَلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ الْدُنْيَا وَالْآخِرَةِ 

(Ustadz Arsyad Syahrial)