"Daripada ngga kerja Pak...."

"Bapak Sarjana Hukum?"

"Iya Pak"

"Kok melamarnya jadi Salesman?"

"Daripada ngga kerja Pak...."

Saya menatap Ijazah Sarjannya. Dari sebuh Universitas cukup ternama di Kota Banda Aceh.

"Ok, bapak coba aja dulu"

Sebulan kemudian orangnya berhenti. Memilih jualan Bensin Eceran di depan Rumah Mertuanya.

Pada cabang lain.

"Tamatan Akper, kok melamar jadi Sales?"

"Kalau bisa sih Pak, dibagian Admin aja"

"Tapi tetap ngga nyambung dengan jurusan anda lo?"

"Ngga apa-apa Pak, yang penting dapat Gaji Bulanan"

Saya tatap kedua Pelamar di seberang Meja saya. Masih muda-muda. Cantik. Salah satu dari mereka matanya berkedip sebelah, sepertinya matanya kemasukan debu, jadinya berkedip sebelah menatap ke saya. 

"Ya, sudah. Nanti tunggu panggilan interview selanjutnya dari Kantor kita ya"

"Makasih pak. Nomor saya ada di berkas lamaran"

Pada cabang lain, di Kota yang lain lagi. Seorang Gadis Muda. Suku Karo.

"Kamu tamatan Politeknik Negeri Med**?"

"Iya pak"

"Nilai-nilai Akademikmu bagus"

"Makasih Pak"

"Ok, nanti kamu tunggu panggilan interview selanjutnya"

Saya langsung ke Ruangan Administrasi. 

"Bro, nih saya rekomendasikan untuk OP kita"

Seminggu kemudian gadis muda itu nasuk kerja menjadi Order Prosesor di Kantor kami.

***

Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah lainnya. Sebagai Branch Manager Perusahaan Marketing yang cukup besar, saya pernah ditempatkan di enam kota yang berbeda, jadi saya banyak menginterview para Pencari Kerja.

Salah satu yang membuat hati saya miris adalah begitu banyak Sarjana kita yang terpaksa mencari kerja diluar jurusannya. 

Sebagian bahkan "terpaksa" melamar jadi Salesman. Yang penting punya kerja dan punya penghasilan.

(Saya bukan merendahkan profesi Salesman. Karena latar belakang saya juga Salesman. Tetapi saya menyadari, menjadi Salesman adalah "pilihan terakhir").

Menjadi Sarjana, bahkan tamat dari Perguruan Tinggi favorit memang membanggakan. 

Ibu mana yang tidak bangga kalau anaknya kuliah di universitas favorit. Mertua mana yang tidak bangga kalau menantunya memiliki profesi berlatar belakang akademisi yang menarik.
Sebut saja jadi dokter, ahli IT, ahli hukum, arsitek dan lainnya.

Sebagai contoh, ibu saya begitu bangga dengan Adik Perempuan saya yang kuliah di Unimed (Universitas Negeri Medan). 

Ketika adik saya wisuda, saya menolak berfoto bersama. Saya bilang kami akan berfoto bersama ketika dia sudah bekerja. Saya berkata "Jangan menganggap Perjuanganmu sudah selesai. Justru kamu baru memulai Perjuanganmu".

Mungkin Ayah, Ibu dan Adik saya tidak percaya. Tetapi saya sudah banyak menginterview para Sarjana yang mencari kerja.

Adik saya pun akhirnya mengalami juga sulitnya mencari Lowongan kerja jadi Guru. Kemudian jadi Guru Honorer yang cuma berpendapatan dua ratus ribuan perbulan. 

Sekarang bersyukur jadi Guru Honda, alias Honor Daerah. Tetapi tetap saja penghasilannya sebagai Guru Honda jauh dibawah UMR.

Paman dari Kampung sekarang Pengusaha Properti. Dulunya cuma tamatan SMA (sekarang S-2, kuliah setelah jadi Pengusaha). Dia mempekerjakan lulusan-lulusan Perguruan Tinggi ternama di Negeri ini sebagai Direktur Tekhnik dan Direktur Pemasaran di Kantornya.

Maksud saya, saya juga bangga dan berbahagia dengan semua sahabat-sahabatku yang anaknya lulus SBMPTN. Semoga kelak semua bisa menggapai cita-citanya.

Tetapi dilain pihak, saya juga ingin memberikan dorongan buat Sahabat-sahabat yang anaknya tidak lulus SBMPTN. Atau bahkan tidak mampu melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya.

Dunia anak-anakmu belum kiamat. Mereka justru bisa lebih awal menggambar masa depan mereka. Karena sukses itu tidak mesti harus lulusan Perguruan Tinggi. 
Tapi kesuksesan itu lebih kepada mental yang tahan uji.

Petani sukses memang lebih mudah dari latar belakang Sarjana Pertanian. Tapi tamatan SD juga bisa jadi Petani Sukses.

Pengusaha sukses memang lebih banyak dari jebolan Perguruan Tinggi. Tetapi yang tidak pernah sekolah juga banyak yang jadi miliarder.

Menurut saya kesuksesan itu adalah bagian dari kemampuan mencari peluang ditambah kemampuan bertahan menghadapi segala rintangan. 

Orang berpendidikan mungkin akan lebih dimudahkan dalam mencari peluang. Tapi orang yang tidak berpendidikan biasanya lebih tahan dalam menghadapi segala bentuk rintangan.

Jadi pahami saja dimana posisimu. Insya Allah, juga akan bisa sukses.

Untuk Generasi Muda Indonesia yang baru tamat SMA. Selamat menimba Ilmu bagi yang lanjut kuliah, dan selamat duluan menggambar masa depanmu bagi yang tidak lanjut kuliah.

(By Azwar Siregar)