Berjalan sesuai dengan Planning itu tidak selalu baik, Contohnya Firaun

Berjalan sesuai dengan planning itu tidak selalu baik.

Contohnya Firaun.

Allah membiarkan Firaun lancar mengikuti planningnya untuk menumpas gerakan Nabi Musa. 

Allah biarkan dia berjalan sesuai rencananya melakukan propaganda revitalisasi konsepsi ketuhanan bangsa Mesir untuk rakyatnya. 

Allah biarkan dia sukses menyelenggarakan perhelatan akbar mempertemukan para penyihir dengan nabi Musa dengan maksud mempermalukan nabi Musa. 

Bahkan Allah juga membiarkan dia berjalan sesuai rencana saat mengejar Bani Israel dibawah pimpinan Nabi Musa dengan maksud menumpasnya melalui aksi militer.

Tapi di tengah-tengah dia menjalankan rencananya, Allah menggiringnya ke laut dan tidak sadar sedang digiring ke arah kebinasaan hingga Allah pun akhirnya mengeksekusinya dengan ditenggelamkan di laut merah.

Sebaliknya, tidak sesuai rencana juga tidak selalu bermakna buruk.

Buktinya Bani Israel saat dikejar Firaun.

Tentu saja planning mereka adalah lari dari kejaran Firaun dan selamat dari pembantaian. Tapi saat mereka tiba di tepi laut, hilanglah harapan selamat dan tidak ada lagi rencana logis yang bisa dieksekusi. Di saat itulah Allah dengan caraNya yang indah menyelamatkan Bani Israel melalui mukjizat terbelahnya lautan.

Hal yang sama juga terjadi pada kisah Salman al-Farisi.

Niat beliau sudah bagus, yakni mencari Nabi terakhir untuk diikuti. Planning beliau sederhana, yakni pergi ke tanah Arab, lalu mencari Sang Nabi, lalu mengikutinya. 

Tapi Allah punya rencana lain.

Saat Salman membuat kesepakatan dengan kafilah dagang Arab untuk dibawa ke tanah Arab dengan imbalan seluruh harta Salman, ternyata Salman ditipu. Beliau dijual sebagai budak dan akhirnya menjalani hidup baru di sebuah rumah Yahudi!

Sampai sini seakan-akan sudah tidak ada harapan lagi bertemu dengan Sang Nabi Terakhir.
Tetapi Allah dengan caraNya yang indah mengatur untuk Salman. 

Datanglah seorang Yahudi yang merupakan kerabat dari majikan Salman. Si kerabat tertarik dengan postur Salman, lalu membelinya lalu dibawa ke Madinah, tempat hijrah Rasulullah ﷺ! Salman 'dipaksa' Allah tinggal di Madinah melalui jalan perpindahan majikan seperti ini!

Sungguh ajaib cara Allah mengatur untuk Salman. 

Madinah adalah tempat yang dicari-cari Salman selama ini, tapi menjadi tertutup semua pintu ke sana karena ujian perbudakan yang beliau alami. Tetapi sangat mudah bagi Allah untuk mengatur untuk Salman agar tercapai tujuannya. Yakni digerakkan hati Yahudi Madinah untuk membeli Salman hingga akhirnya Salman tinggal di sana, lalu bertemu Rasulullah ﷺ, beriman kepada beliau lalu membebaskan diri sebagai budak dan hidup sepenuhnya sebagai Sahabat merdeka di sisi Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, yang terpenting dalam hidup sebenarnya bukan kecanggihan planning/rencana. Rencana yang baik tetap penting, tapi bukan yang terpenting. Yang paling penting justru adalah niat yang benar. Selama orang sudah yakin niatnya benar seperti Salman, maka pasti Allah yang akan mengatur untuk kita, meskipun dengan cara yang tidak kita rencanakan atau kita bayangkan.

(Oleh: Muafa)