SETELAH KADRUN (KADAL GURUN) DAN MANUSIA GURUN, SELANJUTNYA APA LAGI?

SETELAH KADRUN (KADAL GURUN) DAN MANUSIA GURUN, SELANJUTNYA APA LAGI?

Oleh: Azwar Siregar

Menurut saya sangat menarik untuk menguak siapa dibelakang timbulnya aksi rasisme yang meningkat tajam di Rezim Pak Jokowi sekarang terhadap Arab dan Islam.

Kata kunci yang saya temukan adalah "Gurun". Merujuk kepada Wilayah Padang Pasir di Arab, khususnya Saudi Arabia. Makkah dan Madinah. Tempat diturunkannya Agama Islam lewat Nabi Muhammad.

Kalau tidak salah, upaya rasisme pertama digaungkan oleh para BuzzeRp seperti Denny Siregar CS. Dengan Istilah Kadrun alias Kadal Gurun. Konon istilah ini sudah sejak lama digunakan oleh Kelompok Komunis untuk menyebut Kelompok Muslim taat pada era tahun 60-an.

Kelompok PKI sendiri pada masa itu banyak yang ber-KTP Islam. Tetapi sangat memusuhi Islam. Menjadikan Islam sebagai bahan olok-olokan. Nabi Muhammad mereka hujat. Ulama mereka hina. Persis kejadian sekarang. Bedanya masa itu mereka disebut Islam Merah. Kalau sekarang menyebut diri sendiri sebagai Islam Nusantara!

Aksi rasisme selanjutnya dilakukan oleh seorang Rektor. Si Kartiko. Rektor ITK-Balikpapan. Dia menyebut istilah "Manusia Gurun". Merujuk kepada para Mahasiswi Muslimah yang taat dan berhijab. 

Kalau dilihat dari jejak digital si Rektor, kebecian terselubung kepada Islam (tepatnya syariat Islam) sudah sejak lama. Misalnya dengan menganggap isi Kitab Suci Al-Quran cuma berisi dongeng masa lalu.

Anehnya, sekali lagi si Rektor ini juga mengaku Islam. Minimal di datanya. Tentu saja berdasarkan KTP-nya.

Di jaman PKI meraja lela di Negeri ini. Pada era 60-an. Mereka memang menyusup ke semua lini. Termasuk ke Perguruan Tinggi. Bahkan ke Tubuh TNI dan Polri.

Kalau belajar dari sejarah. Saya kira cuma PKI yang bisa dipersalahkan dengan aksi Islamphobia berbalut rasisme kepada Arab ini. Karena polanya hampir mirip. Kejadiannya juga sangat mirip. Bedanya di Jaman Orde Lama PKI terang-terangan, kalau sekarang lebih rapi dan tersembunyi.

Mungkin saja karena di Jaman Orde Lama, sekalipun ideologi mereka bertentangan dengan Pancasila, khususnya sila Pertama, tapi keberadaan mereka resmi dan terdaftar sebagai Partai. 

Sayang sekali. Mungkin karena alasan Persatuan dan kesatuan bangsa, Bung Karno masa itu mengakomodir keberadaan Partai Komunis lewat Nasakomnya.

Berbeda dengan kondisi sekarang. PKI harus bermain sembunyi-sembunyi. Karena ideologi mereka dilarang secara tegas lewat TAP MPRS no 25 tahun 1966.

Jadi sebagai Penutup, menurut saya kita wajib mewaspadai bangkitnya Neo Komunisme di Negara kita ini. Kita harus melawan segala aksi Islamphobia berbalut rasime kepada Arab. Khususnya semua agen-agen Neo Komunis yang hobby membully dengan bermain kata-kata "gurun".

Belajar dari sejarah. Upaya pecah-belah Islam dengan membagi Islam ala Arab dan Islam Non Arab dilakukan oleh PKI. Kebencian terhadap Islam yang taat (mereka menyebutnya Islam Arab) sudah mendarah daging di DNA mereka.

Padahal sudah berkali-kali disampaikan. Arab tidak pernah merugikan negara ini. Islam tidak pernah menjajah bangsa ini. Arab bahkan membantu perjuangan Perang Kemerdekaan sampai Proklamasi bangsa kita. Islam menjadi sprit perjuangan kemerdekaan negara kita.

Tapi ya namanya juga komunis. Anti Tuhan. Islam akan selalu mereka jadikan ancaman. Karena Islam tidak akan berkompromi dalam masalah Aqidah!

*Foto: Sosok yang paling ditakuti gerombolan BuzzeRp Islamophobia.