Namanya Maria

"Maria!" 

Seorang tentara muda meneriakkan sebuah nama pada paspor yang dipegangnya.

"Saya pak!" Jawab perempuan yang tadi berbicara denganku tanpa kami saling memperkenalkan diri.

Memasuki bandara semua penumpang diarahkan jalannya untuk proses registrasi karantina. Kami ditawari mau karantina di hotel atau di wisma atlet. Sesuai kesepakatan demi penghematan, kami memilih di wisma atlet. 

Satu persatu kami masuki bis yang akan mengantarkan kami. Ketika semua diabsen darimana negara mana saja bermacam jawabannya. Ada dari Turki seperti kami, Uruguay, Iran, Irak dan Italia.

Sebelum bus beranjak ada beberapa pedagang asongan masuk menawarkan kartu perdana dan juga jasa penukaran uang asing. 

Seorang wanita di kursi seberangku ingin menukar uang asingnya untuk membeli kartu perdana. Tapi sayang, si penawar jasa dia tidak menerimanya.

O iya wanita inilah yang bernama Maria. Dengan tampilannya hampir pasti dia adalah seorang suster gereja katolik. Bajunya, kerudungnya dan juga kalung salibnya.

Kulihat sekejap dia nampak gusar dengan keadaannya di bis dan akan dikarantina. 

Kegusarannya juga karena dia tidak bisa menghubungi sanak keluarganya karena tidak ada kuota.

Kuhampiri dia dan kusapa, "Kalau ibu butuh internet, bisa tethering lewat saya!"

Matanya berbinar bahagia. Dengan antusias dia ketik password wifi.

"Ibu darimana?" tanyaku.

"Saya dari Sumba."

"Kalau perjalanan ini darimana?"

"Saya dari Roma Italia."

"Sudah lama di sana."

"Saya belajar di sana sudah 22 tahun!"

Wow.....aku terkejut dengan jawabannya.

Aku beranjak ke bangku depan ngasih tahu temenku yang lain, "Kalian tahu gak ibu yang pake pakaian suster di samping ana itu mulazamah (nyantri/menimba ilmu dan mengabdi) di Roma tempatnya Paus sudah 22 tahun."

Kemudian aku balik lagi ke bangkuku dan ibu Maria sedang sibuk menelpon keluarganya dan teman-temannya.

Salah satu kalimat yang kutangkap, "iya saya tidak ada internet, untung ada orang baik yang memberi."

Aku membatin, "Semoga Allah memberimu hidayah Islam." 

Lalu kuambil kembali mushafku dan membacanya sembari terdengar bu Maria terus bercerita ngobrol dengan keluarganya lewat hp-nya.

By Ihsanul Faruqi
(Kenangan 13 April 2021)