JEJAK DIGITAL Tulisan Prof. Budi Santosa Purwokartiko, Menyebut Mahasiswi Muslimah Yang Tidak Mau Salaman "Gemblung"

[PORTAL-ISLAM.ID]  Prof. Ir. Budi Santosa Purwokartiko, Ph.D (Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) untuk periode 2018-2022) sedang jadi sorotan luas setelah tulisannya di akun Facebooknya (27 April 2022) menuai kecaman luas karena dinilai rasis dan penghinaan terhadap jilbab muslimah dengan menyebut "menutup kepala ala manusia gurun".

Ternyata tidak kali ini saja Prof. Budi Santosa Purwokartiko membuat kontroversi.

Pada 2019 lalu, tulisannya tentang muslimah yang tidak mau salaman dengan yang bukan mahrimnya juga menuai kecaman luas. 

Menurutnya muslimah yang seperti itu karena "Belajar agama tidak dibarengi akal sehat".

Bahkan Prof. Budi Santosa menyebut muslimah seperti itu dengan sebutan "gemblung".

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata "gemblung" adalah setengah gila. Arti lainnya dari gemblung adalah bodoh.

Berikut ini adalah Jejak Digital tulisan pria asal Klaten Jawa Tengah ini di akun Facebooknya pada 20 Agustus 2019:

Budi Santosa Purwokartiko  
20 Agt pukul 09.21

mbok rasah kemayu ndhuk.. 

Suatu hari, dua mahasiswi masuk ke ruang dekan. Dekan, teman senior saya yang baik hati pun menyambut dengan hangat mengajak salaman kedua mahasiswanya itu. Sebagai wujud apresiasi seorang dosen kepada para anak didiknya. 

Satu menyambut dengan semangat dan hangat. Tapi sayang yang satu menolak diajak salaman. Ealah.... 

Teman saya itu tentu kaget...ajaran apa ini. Value darimana ini? 

Pasti pikiran tertuju pada ajaran tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Hanya ajaran itu yang menentang tata krama pergaulan universal bersalaman sesama manusia. Hanya itu. Ajaran manusia ganaskah? 

Teman saya pantas kecewa. Dia gurunya, dia dosennya, dia pimpinan fakultas. Apa pantas mendapat penolakan seperti itu? 

Tapi dia nggak sendiri. Saat acara wisuda pun semakin banyak manusia sejenis yang menolak jabat tangan dari rektor pada suatu acara resmi yang dilihat sejuta mata. Apa yang ditakuti? Apakah yakin malaikat akan begitu sigap mencatat dosa menghormati dosennya, pimpinannya, bapak akademisnya lewat jabat tangan sebagai simbol ucapan selamat atas kelulusannya? simbol terima kasih sudah dididik dengan sepenuh hati? Ealah... 

Begitu itu kalau belajar agama tanpa dibarengi adab, sopan santun. Belajar agama tidak dibarengi akal sehat. Guru yang bodoh pun dipercaya, ditelan mentah2 teks agama yang turun pada suatu tempat pada suatu saat, pada suatu komunitas. Tidak dilihat konteks budaya di tempat lain, sedang dalam acara apa, dengan siapa. 

Kalau menurut saya ini sebuah kebodohan. Walaupun saya menghargai perbedaan, menghargai kebodohan. Masak seorang dekan, seorang rektor dianggap seperti laki2 liar yang penuh nafsu? 

Oalaah ndhuk2..mbok sadar..kamu itu nggak cantik2 amat, nggak seksi2 amat....mbok rasah kemayu, gemblung....Berendah hati sedikitlah menghormati gurumu, menghormati wakil orang tuamu yang telah mendidik kamu... sungkemlah ke yang tua....Malaikat pun malu mencatat dosa anak yang takzim sama gurunya. 

Ada lho guru ngaji mensodomi santri2nya...apa lalu ngajinya dilarang...? Mikir ya... 

(fb)