Inilah Pendeta Saifudin Ibrahim (Murtadin Mantan Ustadz) yang Minta Menag Hapus 300 Ayat Al-Qur'an, Siapakah Sebenarnya? Anak-anaknya Menulis Buku Untuk Menyadarkan Bapaknya Kembali ke Islam

[PORTAL-ISLAM.ID] Belakangan nama Pendeta Saifudin Ibrahim ramai diperbincangkan publik bahkan viral dan trending di media sosial.

Pendeta Saifudin Ibrahim menjadi trending dan viral karena videonya yang meminta Menteri Agama Yaqut untuk menghapus 300 ayat dari Al-Qur'an yang dianggapnya menjadikan pemicu radikalisme dan intoleran.

“Saya sudah berulang kali mengatakan kepada menteri agama, dan ini adalah menteri agama yang saya kira toleransi dan damai tinggi terhadap minoritas,” kata Pendeta Saifudin Ibrahi, dikutip dari YuoTube NU Garis Lurus pada Minggu, 14 Maret 2022.

“Mohon pak menteri agama agar situasi seperti ini dikondusifkan, jangan takut dengan kadrun, bapak adalah pemerintah, menteri Jokowi,” lanjutnya.

“Bahkan kalau perlu pak 300 ayat yang menjadikan hidup intoleran, pemicu hidup radikal, itu direvisi atau dihapuskan dari Al-Qur’an Indonesia, ini sangat berbahaya sekali!” ujar sang pendeta melanjutkan. 

Siapakah Sebenarnya Pendeta Saifudin Ibrahim?

Saifuddin Ibrahim lahir dari sebuah keluarga Muslim asal Bima NTB (lahir 26 Oktober 1965).

Ayahnya adalah guru agama Islam, pamannya adalah pendiri Muhammadiyah di Bima, dan mertuanya tokoh Islam di Jepara. 

Lulus dari SMA di Bima, Nusa Tenggara Barat, ia kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Ushuluddin jurusan Perbandingan Agama. 

Kemudian, ia mengajar di Pesantren Darul Arqom Sawangan, Depok, Jawa Barat. Pada 1999, ia mulai mengajar di Pesantren Al-Zaytun yang berlokasi Haurgeulis Indramayu, salah satu pesantren besar di Indonesia pimpinan AS Panji Gumilang.

Ia masuk ke agama Kristen pada tahun 2006 dan mengganti namanya menjadi Abraham Ben Moses. 

Entah apa gerangan yang menyebabkan Saifudin memutuskan murtad. Tahun 2006 dia murtad. Dan sejak itu dia aktif mengajak orang untuk mengikuti jejaknya.

Saifudin juga berusaha membujuk anak istrinya untuk murtad. Tapi Allah masih menjaga istri dan ketiga anaknya untuk tetap dalam keimanan Islam. Mengetahui Saifudin murtad, maka istrinya pulang ke Jepara. Tak berapa lama kemudian meninggal dunia dalam kondisi memeluk Islam.

Ketiga anaknya juga tidak goyah. Meski dirayu oleh bapaknya untuk murtad, tapi mereka tidak tergoda sama sekali. Bahkan anak-anaknya menjadi seorang da'i. Mereka menuliskan sebuah buku yang berisi bantahan terhadap keyakinan ayahnya.

Yang lebih heroik lagi adalah ketiga putranya menuntut ayahnya untuk kembali dalam pangkuan Islam. 

Tapi ayahnya tak bergeming. Dia menjadi sosok misionaris yang radikal. Menghina Nabi Muhammad dan agama Islam beberapa kali. Sampai dia masuk penjara. 

Pada 5 Desember 2017, ia ditangkap atas dakwaan ujaran kebencian SARA dan akhirnya divonis 4 tahun penjara.

Tapi ternyata penjara tak membuatnya jera, sekarang berulah lagi dengan meminta Menteri Agama Yaqut untuk menghapus 300 ayat Al-Quran....naudzubillah mindzalik.

Anak-anaknya Menulis Buku Mengajak Bapaknya Kembali ke Islam

Tiga putra Saifudin Ibrahim, yang bernama Sadam Husen (Sadam), Fikri Khomeini (Fikri) dan Mu’amar Kadafi (Kadafi) menulis buku untuk ayahnya.

JUDUL: Wahai Bapakku Bertobatlah
PENULIS: Trisons Safika (Sadam, Fikri, Kadafi)

DESKRIPSI TENTANG BUKU:

Nasihat Anak Kepada Ayah Mereka Yang Murtad

Buku ini merupakan karya kami bertiga, Sadam, Fikri, Kadafi yang pertama kali kami tulis, dalam rangka untuk menjawab buku tulisan ayah kami yang berjudul “Hai Anak-Anakku, Bertobatlah”. Ayah kami bernama Saefudin Ibrahim, dulunya adalah seorang Ustadz, kemudian beliau murtad jadi Kristen, bahkan sekarang telah menjadi Penginjil.
Alhamdulillah walaupun ayah kami telah murtad, bahkan telah jadi penginjil atau Pendeta, namun kami betiga sebagai anak-anaknya tetap istiqomah dalam Islam.

Dalam bukunya berjudul “Hai Anak-Anakku Bertobatlah” penuh dengan berbagai hujatan terhadap agama Islam, serta nasehat yang mengajak kami bertiga agar mau mengikuti jejaknya. Namun apapun yang ayah kami lakukan, walaupun dengan berbagai cercaan dan hinaan serta pelecehan terhadap agama kami (Islam), samasekali tidak akan pernah merobah pendirian kami. Insyaallah kami bertiga tetap istiqomah dalam Islam sampai akhir ajal.

Dalam buku ini, kami bertiga akan mencoba memberikan jawaban atas semua bujukan, rayuan terhadap kami bertiga, serta mencoba menjawab semua pelecehan dan penghinaan terhadap agama kami yang sangat kami muliakan.

Jawaban kami dalam buku ini, sebagai bukti bahwa apapun yang ayah kami lakukan agar kami mengikuti jejaknya, itu MUSTAHIL kami ikuti. Bahkan kami sebagai anak anaknya selalu berdoa agar kelak ayah kami sadar dan mau kembali ke pangkuan Islam.

Buku ini kami tulis dalam bentuk dialog atau tanya jawab antara seorang ayah mantan ustadz yang murtad yaitu Syaefudin Ibrahim dengan kami bertiga anak-anaknya yaitu Sadam Husen (Sadam), Fikri Khomeini (Fikri) dan Mu’amar Kadafi (Kadafi).

Walaupun ayah kami Syaefudin Ibrahim telah murtad, namun sebagai anak-anaknya, kami bertiga dalam buku ini tetap menghormati dan menghargai keputusannya pindah agama. Sebab kami yakin dosa ditanggung masing-masing, karena kami yakin Yesus tidak mati untuk menanggung dosa manusia.

Semoga buku ini bisa menyadarkan ayah kami agar cepat bertaubat sebelum ajal tiba, agar kelak kami bisa dipertemukan oleh Allah SWT di akhirat kelak. 

Do’akan semoga kami bertiga tetap Istiqomah dalam Islam, dan semoga ayah kami sadar atas kekeliruannya dan diberi hidayah oleh Allah SWT dalam memilih jalan yang benar.

*Referensi:

[Video - Pendeta Saifudin Ibrahim Minta Menag Hapus 300 Ayat Al-Qur'an]