Cerita di Balik Mundurnya Softbank dari Proyek IKN

Catatan: Agustinus Edy Kristianto

Gatra mewawancarai saya tentang mengapa Softbank mundur dari investasi proyek IKN dan apa kepentingan mereka sebenarnya, yang saya sebut IPO Gojek-Tokopedia (GOTO). 

Kebetulan hari ini GOTO memulai penawaran saham perdana di harga Rp316-Rp346 sebanyak 52 miliar lembar (4,35%) sehingga target dana terkumpul Rp17,9 triliun.

Lalu buat apa susah-susah membiayai IKN yang prosesnya makan waktu 10 tahun lebih kalau dari GOTO saja bisa raup cuan triliunan. Pemerintah saja yang gede rasa (GR).

Kita main angka. Saya ambil dari Prospektus GOTO. 

Susunan pemegang saham terakhir adalah pemegang saham dengan hak suara multipel (SDHSM) 6,29% dan non-SDHSM 92,81%. Total modal ditempatkan dan disetor 1,143 triliun lembar (Rp1/lembar) alias Rp1,143 triliun. Berarti mayoritas SDHSM. 

Tertulis di situ nama Garibaldi Thohir (Boy Thohir) 1,05 miliar lembar, GoTo Peopleverse Fund 106,9 miliar, SVF GT Subco (Singapore) Pte. Ltd. 103,1 miliar, Taobao China Holding Limited 104,7 miliar lembar, dan lain-lain di bawah 5% sebanyak 745,6 miliar lembar (termasuk Telkomsel di sini). 

SVF itu ya Softbank Vision Fund. Taobao itu Alibaba dan Alibaba milik Softbank juga. Pada 20 Mei 2021, Nikkei Asia membocorkan dokumen yang membuktikan Softbank dan Alibaba adalah mayoritas di GOTO. Softbank pegang 15,3% dan Alibaba Holding Group 12,6%. Dengan demikian mereka total menguasai 27,9% GOTO atau setara 333,6 miliar lembar.

Sederhana saja menghitungnya. Secara akta, GOTO didirikan 2015. Total modal ditempatkan dan disetor Rp1,14 triliun. Modal sahamnya Rp1/lembar. Sekarang mau dijual 4,35%-nya senilai Rp17,9 triliun (17 kali lipat dari modal dalam 7 tahun saja). Padahal per 30 September 2021, GOTO rugi bersih Rp11,58 triliun. 

Kok bisa modalnya Rp1,14 triliun, ruginya Rp11,58 triliun? Ya, bisa. Sebab dalam operasionalnya GOTO juga mendapat suntikan dari para investor atau utang. Contoh utang itu seperti penerbitan obligasi konversi tanpa bunga Rp6,4 triliun yang dimakan oleh Telkomsel. 

Itu yang saya permasalahkan berulang kali, sebab dugaan konflik kepentingan kental sekali karena Menteri BUMN adalah adik komisaris dan pemegang saham GOTO (Boy Thohir). Terbukti, Boy Thohir ternyata pegang 1 miliar lembar. Nilainya sekarang dengan harga penawaran (Rp346/lembar) berarti Rp346-an miliar.

Softbank menang lebih banyak. Dia pegang 27,9% (333,6 miliar lembar). Dikalikan Rp346/lembar, nilai sahamnya sekarang Rp115,4 triliun!

Lalu siapa yang mau beli saham IPO GOTO untuk memenuhi target dana terhimpun Rp17,9 triliun itu? Bisa investor institusi, bisa investor ritel.

Tapi taruhlah ritel yang diincar. Investor individu lokal yang belum terlalu ngerti dan gampang termakan isu, melihat permukaannya saja. Mereka juga sudah lupa kelihatannya kejadian IPO Bukalapak yang naik sehari saja langsung ambrol sampai sekarang, padahal pada saat pembukaan ditepuktangani dan penuh sambutan puja-puji dari para menteri.

Jumlah investor BEI, menurut KSEI Januari 2022, sebanyak 7,86 juta. Jika 15%-nya (1,17 juta) beli 500 lot (1 lot=100 lembar) pada harga Rp346/lembar (@Rp17,3 juta) maka terkumpullah Rp20,3 triliun!

Jadi kesimpulannya adalah Softbank tidak keluar uang buat IKN tapi CEO-nya diangkat Jokowi jadi Komite Pengarah IKN. Pembangunan IKN kembali ke APBN meskipun pakai embel-embel kerja sama usaha dengan swasta. (Saya bahas di status selanjutnya karena saya sudah pegang dokumen rancangan peraturan pemerintah tentang IKN, termasuk pendanaannya).

Tapi aset saham kakak Menteri BUMN di GOTO jadi Rp346-an miliar. Softbank Rp115 triliun. Semakin to the moon semakin kaya mereka. Itu mungkin sebabnya Boy Thohir berkata Gojek dan Tokopedia akan langgeng 100-200 tahun! Empuk banget ngomongnya. 

Sementara itu masyarakat dirayu beli saham GOTO supaya target Rp17,9 triliun tercapai. Duitnya dinikmati pemegang saham mayoritas asing.

Memang, saya baca di prospektus, ada sedikit hadiah buat mitra satu aspal dan merchant GOTO, yakni program saham gotong royong. Dijatahkan 919,5 juta lembar bagi 600 ribu driver/mitra. Artinya 1 orang 15 lot (1.500) kalikan Rp346/lembar adalah Rp500-an ribu. 

Ya, lumayanlah. Semoga membantu bayar cicilan kendaraan dan beli suku cadang di produsen otomotif yang sebenarnya pemegang saham GOTO juga. Jika sakit karena terlalu sering kena angin, bayarlah BPJS dari kantung sendiri, karena status Anda mitra, bukan karyawan.

Tapi, Anda bisa lupakan semua pendapat saya di atas (toh, buzzer & influencer yang promosi GOTO jauh lebih massif ketimbang akun FB saya). Keputusan membeli atau tidak membeli terserah Anda. Saya tidak memusuhi market. Musuh saya pejabat dan kroninya yang munafik dan korup!

Saya hanya ingin membeberkan kisah tentang beginilah pada akhirnya kenyataan sebenarnya tentang unicarn-unicorn yang jadi andalan kampanye Jokowi waktu itu. Yang untung bukan masyarakat, tapi para investor itu. 

Permainan dibuat rumit berselubung istilah dunia bisnis keuangan yang canggih dan narasi baik hati macam "gotong royong" tadi, tapi tujuannya duit juga!

Salam.

(Agustinus Edy Kristianto)