Kenapa saya gak pernah percaya pemimpin yang sok merakyat?

Kenapa saya gak pernah percaya pemimpin yang sok merakyat atau sok merasa akrab dengan rakyat, karena sejatinya pemimpin seperti itu lagi menutupi kekejamannya. Tapi ajaibnya rakyat senantiasa termehek-mehek dengan pemimpin model seperti itu.

Rakyat selalu terlena dengan gaya dan penampilan para pemimpin yang biasanya muncul sok merakyat di musim jelang Pileg, Pilkada atau Pilpres. Gayanya seperti pejuang rakyat semua.

Saya yang hampir tau aslinya para pemimpin itu, kadang harus sering minum obat maag atau kadang minum obat darah tinggi, karena rakyat masih sering ditipu oleh para pesinetron politik. 

Saya hampir tiap hari bertemu orang yang demikian susah, demikian menderita, demikian tersudut di negeri ini, tapi selalu kalap dengan uang 100 ribu saat masuk bilik suara.

Kemiskinan seperti dibiarkan sehingga politik 100 ribuan demikian menggelora di bumi pertiwi. Yang mau jadi lurah, DPRD, DPR, Bupati/Walikota, Gubernur sampai Presiden harus punya 100 ribu kali jumlah suara yang bisa memenangkannya.

Jangan heran bila Indonesia hanya dihuni 1% penduduk yang bahagia, selebihnya semua menderita atau pura-pura bahagia. 

Apa kabar rakyat Wadas?
Apa kabar rakyat gunung Kendeng?
Apa kabar rakyat Kediri yang tanahnya akan digunakan utk Bandara?
Apa kabar rakyat Sentul?
Apa kabar rakyat-rakyat lain yg ngekos pada yg 1 persen?

(Naniek S Deyang)