Tere Liye: Cetek banget, kalau gara-gara tidak mau mengucapkan selamat natal dituding radikal

Cetek

Seriusan, kamu sampai hari ini masiiih saja meributkan soal ucapan selamat natal? Kamu benar-benar cetek. Kamulah yang tidak punya toleransi beragama.

Siapapun yang meyakini bahwa mengucapkan selamat hari raya besar ke agama lain itu melanggar keyakinannya, maka biarkan saja demikian. Itu urusan masing-masing. Namanya keyakinan. Itu hak dia jika tdk mau. Bagi dia, meskipun cuma ucapan, tetap dilarang keyakinannya. Lantas, apakah dia bisa divonis orang yang ekstrem? Teroris? Kebencian?

Ambyar.

Saya kenal banyak sekali orang-orang yg bertetangga dengan baik, saling kirim oleh-oleh, hadiah, REAL di dunia nyata, meskipun mereka tdk pernah mengucapkan selamat hari raya besar agama lain. Toleransi dia mewujud nyata, lebih dari sekadar ucapan. Lah, kamu, berisiiik banget bahas soal ucapan itu di dunia maya, tapi di dunia nyata, kamu malah tidak kenal tetangga sebelah, tidak tahu siapa pak/ibu RT/RW? 

Ketahuilah, hanya gara-gara orang itu menolak bilang selamat, menolak datang ke rumah-rumah ibadah orang lain, BELUM tentu dia radikal, taliban. Namanya juga keyakinan, masa' kamu paksakan. Kamu itu yg maksaaa banget semua orang harus sesuai dengan pendapat kamu. Ini teh sederhanaaaa sekali, yang mau ngucapin silahkan, yg nggak juga silahkan. Lah, yang ngerayain saja tidak nunggu-nunggu juga ucapan tsb. Lebih fokus dgn keluarga, kerabat saat perayaan.

Hari ini, terlalu banyak 'penipu', seolah paling toleran di medsos, group whatsapp, dll, dsbgnya, tapi ucapan dia, penuh kebencian, bahkan pada agamanya sendiri, kelompoknya sendiri. Seolah paling Pancasilais, tapi dia teh simpel sedang menari di atas buih politik saja. Ucapan dia, pendapat dia, simpel karena kelompok-kelompok politik. Besok-besok, jika situasi berubah, kelompok politik berkuasa berubah, waah, beda lagi deh pendapatnya.

Pastikan kalian tidak tertipu dengan orang-orang ini. Tingkatkan literasi kalian, agar besok lusa, kalian juga bisa mencegah orang-orang ini menipu orang banyak.

(Tere Liye)

*fb/18022021