Popularitas Anies Baswedan, Di Balik Munculnya Sikap Anti-Arab

Di Balik Munculnya Sikap Anti-Arab
 
Oleh: Smith Alhadar*

Seiring dengan meningkatnya popularitas Anies Baswedan, dalam konteks pemilihan presiden (Pilpres) pada 2024, bermunculan video-video yang menarasikan Gubernur DKI Jakarta itu sebagai orang yang tak dapat diandalkan, cacat integritas, dan berbahaya bagi negara Pancasila.

Ia digambarkan tak memiliki kapasitas moral untuk memimpin dan membahayakan persatuan nasional karena mengusung politik identitas.

Kendati salah kaprah, narasi-narasi itu terus didengungkan sejak 2017 saat Anies mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pemilihan gubernur DKI dan makin gencar belakangan ini. Bahkan, telah beredar video yang merendahkan keturunan Arab di Indonesia pada umumnya, dan keluarga Anies pada khususnya.

Mereka memprovokasi pendengarnya untuk membenci imigran dari Yaman dengan alasan-alasan manipulatif, distortif, dan destruktif. Aksi mereka mengingatkan kita pada strategi ahli propaganda anti-Semit rezim Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Joseph Goebbels, tangan kanan Adolf Hitler, mengatakan, “Kebohongan yang diulang terus-menerus akan dianggap sebagai kebenaran.”

Propaganda hitam itu tak lepas dari ketakutan mereka terhadap kemungkinan Anies memenangkan konstestasi pilpres. Tokoh ini terlalu lurus dan tegas pada sikapnya menghadapi kekuatan-kekuatan ekonomi (oligarki) rakus yang merongrong demokrasi, asas keadilan, dan menindas rakyat.

Begitu terpilih menjadi gubernur, Anies langsung mengeksekusi janji kampanyenya menghentikan proyek reklamasi belasan pulau di Teluk Jakarta yang bernilai sekitar 500 triliun rupiah. Proyek itu memang mengancam kerusakan lingkungan dan menelantarkan para nelayan serta kaum papa.

Kendati dibujuk dengan sogokan ratusan miliar, bahkan dengan meminjam tangan kekuasaan, Anies bergeming. Ia bertahan pada keputusannya.

Dengan begitu, dalam konteks Pilpres 2024, Anies menimbulkan ketakutan kaum oligark. Bukan tidak mungkin, kalau nanti berkuasa, Anies membuka kotak pandora (pandora box) yang akan memperlihatkan kepada publik bagaimana perselingkuhan kekuatan-kekuatan  politik dan ekonomi nasional telah mempreteli demokrasi, memarakkan korupsi, melemahkan penegakan hukum, dan merampas hak-hak rakyat. Dan dia, kalau melihat track record-nya ketika memimpin Jakarta, akan membabat habis semua kebobrokan itu untuk menciptakan negara demokrasi Indonesia yang lebih sehat dan berkeadilan.

Selain propaganda anti-Arab dalam konteks politik praktis, berkembang pula oposisi terhadap budaya Arab. Hal ini bertalian dengan dinamika agama dan politik di Timur Tengah. Terorisme, perang saudara, dan gejolak politik di kawasan panas itu dalam dua dekade terakhir, serta kiprah beberapa pemimpin agama keturunan Arab di tanah air, telah memengaruhi secara negatif persepsi sebagian kaum Muslim Indonesia terhadap orang Arab dan “Islam Timur Tengah”.

Fenomena munculnya Islam Nusantara merupakan upaya menarik jarak dari Islam radikal yang dianggap sebagai representasi tipologi Islam Timur Tengah. Saking bersemangatnya sampai-sampai beberapa tokoh ormas Islam besar — beberapa di antaranya malah keturunan Arab dari golongan habaib (self-hate Arab) — terjerembab dalam sikap chauvinism dengan merendahkan orang dan budaya Arab.

Salah satu, di antaranya, malah bolak-balik ke Israel, negara apartheid dan menjalankan terorisme negara untuk membunuh aspirasi kemerdekaan Palestina. Padahal, Palestina adalah salah satu bangsa Arab yang paling pertama mengakui kemerdekaan Indonesia.

Habaib diserang sebagai pengungsi hina melalui pernyataan-pernyataan pejoratif. Salah satu tokoh ormas itu malah secara bodoh, tapi nekat, mengatakan “budaya Indonesia lebih mulia dari budaya Arab.” Kebudayaan antarbangsa bersifat relatif. Artinya tak ada budaya yang dapat diklaim sebagai lebih superior dibanding budaya lain. Budaya adalah seperangkat nilai  rujukan suatu komunitas sebagai hasil respons mereka terhadap tantangan dan lingkungan tempat mereka hidup demi kelangsungan hidup mereka.

Perang saudara di Libya, Suriah, dan Yaman, serta pemberontakan di Palestina dianggap berakar pada corak Islam radikal akibat orang Arab beragama secara dogmatis, sementara Islam di tanah air toleran karena agama telah menyatu dengan budaya lokal. Pandangan-pandangan ini tentu saja gegabah dan superfisial. Mereka tak memahami sejarah Arab modern, buta terhadap diferensiasi Islam di Timur Tengah, faktor geopolitik negara-negara di kawasan, dan intervensi negara-negara besar dengan memasok senjata secara masif kepada proksi mereka masing-masing. Tak ada kawasan di dunia ini yang sedemikian besar menghadapi tekanan dan memikul beban kepentingan eksternal melebihi Timur Tengah sebagai akibat dari vitalitas kawasan ini bagi keberlanjutan peradaban dunia.

Memang tidak ada hubungan antara agama dengan terorisme, perang saudara, dan gejolak politik di sana. Islam di Timur Tengah sangat beragam. Ada Wahabi (mayoritas dipeluk warga Arab Saudi), Khawarij moderat (dipeluk Kesultanan Oman), sufisme, Islam sekuler, nasionalis, dan Sunni. Syiah juga ada bermacam-macam: Syiah Itsna’asyariah (Iran, Irak, Lebaon), Zaidiyah (Yaman Utara), Alawiyah (Penguasa Suriah), dan Druz (komunitas di Lebanon dan Suriah). Juga ada Yahudi dan Kristen dari berbagai denominasi. Secara keseluruhan, mayoritas orang Arab menganut ahl sunnah waljamaah (Sunni) yang moderat.

Secara kultural, orang Arab di 22 negara Arab memiliki budaya yang bervariasi karena telah bercampur dengan budaya lokal pra-Islam dan masuknya budaya Barat melalui penjajahan negara-negara Eropa. Penjajahan Perancis atas Aljazair (lebih dari satu abad) dan Tunisia (hampir satu abad), yang disertai penghancuran institusi-institusi Islam tradisional sambil menanamkan budaya Barat (westernization) secara sistematis melalui pendidikan, telah membelah masyarakat (Islam dan sekuler) di kedua negara itu yang tak dapat dipulihkan. Kendati hanya sekitar 30 tahun, penjajahan Inggris dan Perancis atas Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina — yang melahirkan elite terbaratkan (westernized) yang terisolasi dari rakyat yang mereka pimpin — disertai penciptaan perbatasan-perbatasan semu, telah menciptakan masalah serius hingga hari ini. Inggris malah secara pongah menciptakan negara Israel, yang kemudian menjadi induk dari semua gejolak, instabilitas, dan berbagai perang di kawasan.

Kelompok teroris, Al-Qaedah maupun ISIS, merupakan kelompok ultrakonservatif yang, di seluruh dunia jumlahnya hanya satu persen dari umat Islam. Terhadap dua kelompok ini semua ulama mainstream di Timur Tengah mengutuknya, termasuk ulama Wahabi di Arab Saudi.

Memang Usamah bin Ladin dan para pembajak pesawat yang menyerang AS pada 11 September 2001 merupakan pemeluk Wahabi. Tapi ideologi politik kaum Wahabi terbagi tiga. Pertama, Wahabi ortodoks yang apatis terhadap politik. Mereka menganggap negara Islam Arab Saudi hasil kolaborasi ulama dan pemimpin sekuler bersifat ideal dan final. Kedua, neo-Wahabi yang jumlahnya kecil. Mereka ini mendukung reformasi politik menuju negara demokrasi. Ketiga, Wahabi-jihadi yang dipeluk para teroris. Jumlah mereka lebih kecil lagi. Mereka adalah orang-orang kecewa pada hegemoni negara-negara Barat, marah terhadap dukungan tanpa reserve mereka pada Israel, dan disingkirkannya mereka dari kekuasaan untuk digantikan kaum Syiah menyusul invasi AS ke Irak pada 2003. Dus, tidak ada hubungan dengan agama. Mereka memanipulasi Islam karena agama ini dipandang mampu menarik simpati dan solidaritas kaum Muslim yang terpinggirkan dalam akses politik dan ekonomi.

Graham E. Fuller, Guru Besar Sejarah di Simon Fraser University, Kanada — yang menulis buku “A World Without Islam” — menyatakan bahwa etnis apapun yang terpinggirkan di Timur Tengah dan agama apapun yang mereka peluk akan menjadi teroris. Penyebabnya, kawasan Timur Tengah merupakan kawasan yang teraniaya oleh hegemoni Barat, terutama AS. Mereka mendukung penguasa-penguasa zalim dan korup. Ini menyebabkan rakyat Arab kebanyakan tak memiliki akses politik dan ekonomi. Sementara yang menikmati kekuasaan dan kekayaannya yang melimpah hanya segelintir orang. Penindasan Israel atas Palestina dan kekalahan Arab atas Israel dalam beberapa kali perang, juga menoreh luka batin yang amat dalam di sanubari orang Arab. Upaya mereka meruntuhkan rezim otoriter untuk digantikan negara demokrasi berbasis nilai Islam tak didukung negara Barat setelah revolusi Islam Iran pada 1979 yang melahirkan rezim anti-Barat.

Ketika Al-Qaeda menyerang AS, Juergen Habermas — pemikir besar mazhab Frankfrut generasi kedua — terbang ke AS untuk menjelaskan kepada pemerintahan AS di bawah Presiden George Walker Bush tentang akar penyebab serangan itu demi mencegah kampanye AS memerangi kaum Muslim. Habermas mengatakan, serangan itu tak ada hubungannya dengan Islam, tapi akibat dukungan AS pada rezim-rezim otoriarian sehingga menyebabkan terputusnya komunikasi AS dengan masyarakat Arab. Arab Spring 2011 yang dimulai di Tunisia dan merembet ke beberapa negara Arab berubah menjadi perang saudara di Libya, Yaman, dan Suriah, setelah para pemberontak di sana dipasok senjata oleh negara-negara regional dan internasional. Di Mesir dan Tunisia, yang berhasil menjatuhkan rezim otoriter, perang saudara tidak terjadi karena relatif absennya campur tangan asing, apalagi pemasokan senjata.

Dus, kekacauan dan radikalisme di Timur Tengah tidak berkaitan dengan etnis dan agama. Mayoritas masyarakat Arab malah merupakan korban terbesar dari perang saudara dan radikalisme agama oleh segelintir orang yang frustrasi menghadapi kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang menindas.

Mengeneralisasi Islam Timur Tengah dan Arab sebagai sebagai penyebab dari radikalisme dan huru-hara adalah pandangan yang sumir. Lalu, mengapa pula kita harus bersikap rasis terhadap keturunan Arab di Indonesia?

Corak Islam yang dipeluk keturunan Arab tidak monolitik. Figur-figur keturunan Arab yang populer saat ini tidak mewakili spektrum pandangan keagamaan dan aspirasi politik seluruh warga keturunan Arab. Dan kendati berbeda corak Islam (ada yang moderat, modernis, Islamis, sekuler, ultrakonservatif, dan nadionalis relijius), semua keturunan Arab disatukan oleh kecintaan mereka pada Indonesia. Tidak satu pun keturunan Arab yang berkiblat pada negeri leluhur dan tak ada yang mengklaim diri lebih superior dari sisi etnis dan budaya daripada  etnis dan budaya lain.

Memang ada, bahkan banyak, keturunan Arab (baik golongan habib maupun nonhabib) yang akhlaknya bobrok sebagaimana etnis lain di seluruh dunia, tapi tak berarti atribut itu dilekatkan kepada seluruh keturunan Arab. Toh, ketika ada banyak orang Arab yang dinilai buruk motif dan perangainya  sepanjang kehadiran mereka di negeri ini selama berabad-abad, tak sedikit yang memiliki kontribusi besar di segala aspek kehidupan bagi Indonesia sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

A.R. Baswedan, kakek Anies Baswedan yang telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional, merupakan pejuang kemerdekaan. Ketika belum ada negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengirim delegasi ke Mesir untuk meminta pengakuan. Salah seorang dari delegasi pimpinan Haji Agus Salim itu adalah A. R. Baswedan. Kehadiran mereka di Mesir berhasil membujuk negara itu — yang hampir secara serentak diikuti oleh empat negara Arab lainnya (Suriah, Lebanon, Arab Saudi, dan Yaman) — mengakui kemerdekaan Indonesia. Pengakuan yang mula-mula dari lima negara Arab ini sungguh sangat strategis karena memicu pengakuan negara-negara lain.

Yang mengherankan, sikap anti-Arab dan budayanya justru datang dari kelompok Islam tradisionil di mana ketokohan, peran, dan kontribusi para habib di negeri ini sangat besar sepanjang sejarah Islam di Nusantara. Walisongo, yang dipandang sebagai penyebar Islam di Pulau Jawa merupakan keturunan Nabi Muhammad. Juga penyebar Islam lain seperti Ar-Raniri dan Fansuri di Aceh dan Imam Bonjol di Sumatera Barat.

Menilik biografinya, dikatakan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, merupakan keturunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Gresik (salah seorang Walisongo). Dus, bisa jadi benar informasi yang beredar bahwa beliau juga keturunan Nabi Muhammad. Kendati budaya Arab tidak mesti otentik dengan budaya Islam, nyaris mustahil mengingkari budaya Islam berkelindan dengan budaya Arab yang mempengarugi budaya Indonesia secara mendalam dan permanen. Menolak Arab, selain rasis, akan meruntuhkan bangunan keislaman dan keindonesiaan, bahkan identitas bangsa Indonesia.

Bila Anda googling, Anda akan menemukan berlimpahnya tokoh Arab yang berpartisipasi dalam pembangunan bangsa ini di segala bidang kehidupan. Dalam artikelnya di Kompas baru-baru ini, Ulil Abshar Abdalla — yang kecewa pada sikap anti-Arab tokoh ormas — menyatakan, ulama Indonesia bisa menerima Pancasila berkat karya ulama-ulama Arab.

Silakan hukum keturunan Arab — toh, ini negara hukum dan keturunan Arab tak punya privilage —  yang nyata-nyata dan sah melanggar hukum dan mengancam kedaulatan negara, melanggar konstitusi, menabrak norma sosial, dan mengacaukan ketertiban umum. Tapi jangan bebankan kesalahan yang dibuat seseorang dari mereka pada semua keturunan Arab.

Jangan pula kepentingan-kepentingan pragmatis untuk tujuan-tujuan politik jangka pendek dikejar dengan menghalalkan segala cara. Beri kesempatan kepada Anies, tokoh nasionalis-relijius yang jujur, tegas, dan berkompeten, untuk bersaing secara fair dalam kontestasi politik elektoral 2024. Rasisme, kalau terus dikembangkan, tidak akan menguntungkan Indonesia. Bahkan, mengancam kelangsungan hidup bangsa yang kita cintai ini.

*Smith Alhadar, Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education/IDe