Antara Gus Yahya dan Said Aqil

Oleh: Ustadz Abrar Rifai*

Ketika dihadapkan pada dua pilihan antara Gus Yahya dan Kang Said, andai saya adalah peserta Muktamar yang mempunyai hak suara, sudah barang tentu saya akan lebih memilih Gus Yahya. 

Lebih muda, lebih kalem, tidak politis dan lebih berbaur dengan berbagai kalangan. 

Lebih egaliter dan akrab dengan santri. Sebagai masyarakat dunia maya, saya juga lebih menyukai Gus Yahya daripada Kang Said. Sebab Gus Yahya aktif fesbukan. Kapan lagi coba, punya Ketum PBNU yang seorang fesbuker? 😃 

Pada dua akun FB saya sebelumnya, saya berteman dengan beliau. Tapi pada akun ini saya coba add lagi, sudah tidak bisa. Karena pertemanan beliau sudah penuh. 

Muktamar sudah usai. Gus Yahya sudah terpilih. Kang Said sudah saatnya menepi. Cukup sudah NU begitu jauh terseret mengikut arus politik selama dua periode kepemimpinan beliau. 

Saya tidak menemukan cela pada diri Gus Yahya, selain kehadirannya ke Israel dalam satu acara. 

Pun, yang secara implisit beliau disebut tidak welcome terhadap kehadiran Habib Umar Bin Hafidz ke Indonesia. Begitu juga diksi yang beliau pakai, ketika menggambarkan imigrasi para Habaib ke Indonesia, dianggap mencibir para dzurriyat Rasulullah --shallallahu alaihi wa alihi wasallama--.

Dua hal itu saja yang menjadi catatan saya untuk putra Al 'Allamah KH. Cholil Bisri tersebut. 

Semoga dengan terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU, menjadikan beliau lebih bijak dan hati-hati dalam membuat pernyataan. Terutama yang terkait dengan Habaib. Sebab bagaimanapun juga, keislaman kita tak akan pernah bisa dilepaskan dari peran moyang mereka. 

Secara pribadi, saya mempunyai keterkaitan dengan Gus Yahya dan umumnya keluarga nDalem Leteh, Rembang. Karena saya pernah ngaji dan ngawulo di Tambak Bening, Surabaya. Dimana, Gus Luthfi, Pengasuh PP. Al Ibadah adalah santrinya Kiai Musthofa Bisri, pamannya Gus Yahya. 

Pun, pada buku-buku yang saya baca, banyak karya kiai-kiai Leteh. Saya juga pernah ngaji Tafsir Al Ibris, karya Mbah Bisri Musthofa, kakeknya Gus Yahya. 

Gus Yahya pernah jadi Juru Bicara Presiden pada Pemerintahan Presiden Gus Dur. Bahkan beliaulah yang membacakan Dekrit Presiden, yang akhirnya justru menjadi pembenar para pembenci untuk menjatuhkan Gus Dur. 

Sebagai kiai, Gus Yahya sudah sedemikian matang. Dalam pergaulan Nasional hingga Internasional, beliau juga sudah mumpuni. Sehingga untuk kiprah perdamaian dunia yang menjadi satu tema Muktamar NU yang baru lalu, Gus Yahya tidak akan kesulitan. 

Tapi yang menjadi pekerjaan besar Gus Yahya adalah membangun kemandirian NU sebagai organisasi ataupun lembaga-lembaga di bawahnya. 

Sebab kalau sekedar kemandirian warga, orang NU itu sudah sangat mandiri. Mangan mangan dewe, nggawe omah dewe, mondok lan ngaji ngaji dewe. Nggawe tahlil karo maulidan iyo dewe. 

Rabih rabih dewe. Sing seneng wayoh, yo wayoh wayoh dewe. Wong NU gak gellem ngerepoti wong! 

Yang harus dimandirikan itu NU secara struktural. Jangan lagi NU nyantol-nyantono awak,e sekedar untuk mendapatkan imbalan finansial atau kompensasi materi. Walau itu untuk dalih kemajuan (lembaga-lembaga) NU. 

Sebab tanpa dibantu Pemerintah, tanpa dibantu cukong ataupun para taipan, pesantren NU itu sudah sangat mandiri, bahkan sebelum Indonesia ada! 

Selamat, Gus Yahya. A'anakumullahu wa ra'akum 'an kulli makruhin

*Pengasuh Ponpes Babul Khairat, Malang, Jatim

(fb)