Tere Liye tampol Luhut: Bullshit banget kalau bilang tidak cari untung

Kacau

Bisnis test, test, test itu bukan cuma PCR, Tuan. Juga di swab antigen, itu juga bisnis. Dan malah lebih empuk antigen sebenarnya. Karena mudah, tidak ribet. Cucuk, tunggu 15 menit, bayar, untung deh.

Alat test antigen itu paling mahal 1 USD, alias 15.000. Tambah biaya staf, dll, jadi 30.000. Kamu jual 85.000 tetap untung. Untung berapa? 100% lebih. Coba lihat, di stasiun-stasiun harga antigen itu cuma 45.000 sekarang. Lab-lab punya kamu berapa, Tuan?

Nah, PCR turun 300.000 itu sebenarnya bikin pusing lab-lab ini. Tapi selalu ada jalan buat mereka. Yes, PCR hapus mereka ngalah, TAPI ganti semua antigen, dan wajibkan semua moda transportasi. Pada akhirnya tetap menang banyak deh. Untung 100% sekali cucuk itu dahsyat. Memang tidak sedahsyat PCR, tapi tetap untung. Dan lebih cepat dapat duitnya. Bullshit banget kalau bilang tidak cari untung.

Paling ruginya buat lab-lab pemain besar, kayak yg punya Menteri2 ini adalah: antigen itu bisa dilakukan banyak pihak. Siapapun bisa (kecuali nerbitin surat2, dll baru ribet). Bahkan ponpes2, itu sejak lama sdh bisa test antigen sendiri. Mereka sudah masuk santri2nya sejak 2020, saat masuk, mereka antigen mandiri, murah-meriah. Tidak perlu bayar ke lab2.

Tapi tetap saja, mau itu PCR, antigen, mau siapapun bisa melakukannya, itu semua bisnis. Titik. Kecuali 100% kamu gratiskan semua.

Orang sehat, sudah 2x vaksin, ada yg sdh 3x sama booster, eh pas dia mau naik kereta disuruh test. Kan ambyar! Orang sehat, cuy. Tidak ada gejala, tidak ada kontak, dan dia sudah vaksin 2x. Ngapain kamu paksa cucuk hidungnya?

Dan sekarang Tuan, Nyonya bilang tidak ngambil untung. Ayo buka laporan keuangan lab2 ini semua, transparan, suruh auditor publik periksa, berapa trilyun untung kalian selama ini? Totalkan semua keuntungan test test test ini selama pandemi.

Nanti kuaget pas tahu. Eh, sudah tahu ya? Ehem. Pantes sekarang 'malu' dikit.

(By Tere Liye)

*fb