Investor LN Mundur dari Proyek ITF Sunter Garapan Anies Karena Pemerintah Pusat Menolak Menjadi Penjamin Pinjaman, Target Selesai 2022 Melayang

Setelah Pengolahan Sampah Sunter Ditinggal Investor

JAKARTA – Lahan seluas 3,03 hektare itu berada di muka Jalan Danau Sunter Barat, Jakarta Utara. Kondisi lahan itu nyaris tidak ada perubahan selama dua setengah tahun terakhir. Padahal Gubernur DKI Anies Baswedan, pada Desember 2018, telah menggelar peletakan batu pertama pembangunan fasilitas pengelolaan sampah berbentuk intermediate treatment facility (ITF) di tempat itu. Kondisi ini sangat timpang dengan pembangunan Jakarta International Stadium yang sudah mencapai 60,28 persen—yang berjarak kurang dari 500 meter—meski baru memulai pembangunan fisik pada awal Mei 2019.

“Pembangunan (ITF) sudah berhenti lama,” kata Lurah Sunter Agung, Danang Widjanarka, kepada Tempo, kemarin. “Warga pun bertanya-tanya kenapa tak lanjut pembangunannya, padahal sangat diharapkan sekali.”

Badan usaha milik daerah (BUMD) PT Jakarta Propertindo (Jakpro) memang belum bisa melanjutkan pembangunan fisik ITF Sunter. Sebab, Fortum Power Heat and Oy—perusahaan pembangkit listrik asal Finlandia yang membawa investor dalam proyek tersebut—mundur dari kesepakatan kerja sama. Perusahaan itu sebelumnya mendapat pinjaman dana sebesar US$ 240 juta atau sekitar Rp 3,42 triliun dari International Finance Corporation (IFC). Dengan mundurnya Fortum, IFC pun ikut membatalkan rencana mendanai proyek ITF Sunter.

Secara keseluruhan, pembangunan ITF diperkirakan menelan biaya sebesar US$ 340 juta atau sekitar Rp 5,2 triliun. Fasilitas pengolahan sampah ini diklaim mampu menghasilkan listrik sebesar 35 megawatt per hari. Jakpro bersama Fortum Power Heat and Oy sebelumnya telah membentuk anak perusahaan bersama, yaitu PT Jakarta Solusi Lestari (JSL).

Perusahaan joint venture bikinan Jakpro-Fortum itu juga telah membuat perjanjian kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tentang kesepakatan jual-beli hasil listrik senilai US$ 11,88 sen per kilowatt-hour (kWh). Di sisi lain, Jakpro berhasil mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta ihwal nilai tipping fee atau biaya pengolahan sampah sebesar Rp 583 ribu per ton.

Belakangan, pembangunan fisik ITF Sunter terhenti karena Fortum tak dapat mencairkan dana dari perusahaan pemberi pinjaman. Alasannya, IFC meminta Fortum mengantongi jaminan dari pemerintah Indonesia untuk proyek ITF tersebut. Namun Kementerian Keuangan menolak permintaan itu karena berdalih tak ada regulasi yang memungkinkan mengeluarkan jaminan kepada perusahaan swasta.

Kondisi inilah yang kemudian membuat Fortum memutuskan mundur dari perjanjian kerja sama. Pada 23 Juni lalu, Jakpro resmi membeli seluruh saham Fortum di PT JSL sebesar 56 persen. Saat ini, Jakpro tengah mencari perusahaan rekanan lain untuk melanjutkan pembangunan ITF Sunter. “Fortum itu sudah masa lalu. Kami berfokus pada saat sekarang dan masa depan,” ujar juru bicara Jakpro, Nadia Diposanjoyo, seperti dikutip dari Koran Tempo, Selasa (30/6/2021).

Direktur Proyek ITF Sunter, Aditya Bakti Laksana, mengatakan pembangunan ITF Sunter tetap dilanjutkan meski Fortum telah mundur. 

Aditya optimistis proyek ini bisa diselesaikan. Apalagi pemerintah pusat telah menetapkan ITF Sunter menjadi proyek percontohan. Jadi, fasilitas pengolahan sampah modern ini nanti bisa dikembangkan oleh daerah-daerah lain. 

Direktur Pengembangan Bisnis Jakpro, Hanief Arie Setianto, mengatakan masih ada beberapa opsi yang tengah digodok untuk mendapatkan sumber pendanaan. Salah satu opsi yang sempat dilontarkan adalah pengajuan dana pinjaman dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional.

[Kilas Balik] Anies Ingin ITF Sunter Selesai Lebih Cepat Dari Jadwal
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan peletakan batu pertama dimulainya pembangunan fasilitas pengolah sampah di dalam kota Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara, Kamis (20/12/2018) pagi.

Bagi Anies dengan dilakukannya pembangunan ITF Sunter ini bukan sekadar perubahan dalam bidang teknologi saja tapi dapat merubah kebiasaan lama di masyarakat khususnya Jakarta.

Anies mengatakan pembangunan fasilitas pengelolaan sampah ITF Sunter menjadi proyek pertama di Indonesia.

"Jangan sampai kita membangun sesuatu di tahun 2018 dengan standar yang tertinggal dari tempat lain. Dalam catatan disebutkan bahwa ITF Sunter dirancang dengan ketentuan yang mentaati European Parlement and the consul directive nomor 2010/75/AU anex ke IV," ucap Anies Baswedan dalam sambutannya.

***

Kehadiran Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter diharapkan bukan sekadar tempat fasilitas pengelolaan sampah tapi juga menjadi lokasi pembelajaran bagi anak-anak sekolah.

Gubernur DKI Anies Baswedan mengatakan, dalam perencanaan ITF Sunter, pihaknya berharap tempat tersebut mempunyai fungsi yang bervariasi selain pengelolaan sampah.

"Bukan saja pengelolaan sampah. Bukan saja sumber energi. Tetapi menjadi tempat pembelajaran sekolah bahkan se-Indonesia," ucap Anies, Rabu (16/10/2019).

Apalagi lokasi ITF Sunter berdampingan dengan Jakarta International Stadium (JIS) yang sedang dibangun serta kawasan wisata Ancol.

Selain itu juga rencananya akan ada LRT Jakarta yang melintas di sekitar lokasi.

Anies juga berharap agar pembangunan ITF Sunter tidak hanya berjalan sesuai rencana dan rampung pada tahun 2022, tapi berjalan lebih cepat dari apa yang sudah dijalankan.

Pasalnya, apabila fasilitas tersebut bisa terwujud lebih cepat dari apa yang sudah direncanakan, maka upaya untuk mengatasi sampah yang ditimbulkan setiap harinya di Jakarta bisa segera teratasi.

"Karena kita menginginkan proses ini bisa segera berjalan. Kita berharap bisa segera dieksekusi," ucapnya.

(Sumber: Koran Tempo, Warta Kota, Tribunnews)