Ustadz Tengku Tega ...

Ustadz Tengku Tega ...

Oleh: Tengku Nazariah
[Seperti diceritakan adinda Tengku Ita]

Pagi itu--pukul 10.00 WIB, seminggu menjelang Ramadhan, aku sangat terkejut saat keluar rumah, melihat seperti ada demo abang becak di gang depan rumah. Kami baru menempati rumah abang (rumah Ustadz Tengku Zulkarnain) selama dua bulan karena abang pindah ke Jakarta.

Terlihat begitu banyak orang berdiri di depan pagar rumah, sebagian ada yang duduk di becaknya yang berbaris sepanjang Gang Barokah. 

Suara salam dan gedoran di pagar membuat aku terpaksa keluar dari dalam rumah. Dengan rasa takut, aku bertanya kepada 'gerombolan' abang-abang becak itu.

"Assalamualaikum...."

Riuh suara salam dari mereka menyambutku di teras rumah.

"Waalaikumsalam. Maaf ya, Pak. Ada apa, kok rame kali di sini? Nunggu siapa, ya?"

Mereka bergegas mendatangiku, termasuk yang masih duduk di atas becaknya, langsung turun dan mendekat.

"Kami mau jumpa pak ustad."

Aku jadi takut, kenapa ramai sekali yang mau jumpa abang.

"Maaf ya, Pak. Pak ustad sudah tidak tinggal di sini lagi. Karena sudah pindah ke Jakarta."

Terdengar riuh suara mereka, terlihat sangat panik.

"Ya, Allah. Teros siapa yang ngasih kami makan untuk bulan puasa dan hari raya nanti?"

"Biasanya pak ustad tiap mau hari raya memberi kami sembako, beras 10 kg, gula 2 kg dan duet cepek (*seratus ribu)."

"Waduoh, kayak mana ini? Ustad pigi kok gak bilang-bilang!"

"Ustad kok tega ninggalin kami ...."

Riuh suara saling sahut di antara para abang becak itu. Beberapa abang becak semakin mendekat dan mulai mengerubuti aku. Antara takut dan mulai sedikit panik, aku meminta izin untuk menghubungi abang.

"Bapak-bapak, mohon sabar ya. Saya akan mencoba menghubungi ustad ke Jakarta. Bapak-bapak mohon tunggu sebentar."

Aku meminta izin untuk menghubungi abang ke Jakarta. Kutinggalkan mereka di gang depan rumah, aku masuk ke rumah dan menutup pintu. Masih tersisa rasa takut, apalagi aku hanya sendirian di rumah. Suamiku sedang pergi bekerja.

Kucoba menelepon Abang ke rumahnya di Jakarta. Setelah tersambung, kusampaikan semua perkataan para abang becak itu.

"Bang, ini tukang becak rame-rame ke rumah, kayak mo demo. Katanya Abang tiap mau puasa dan mau hari raya ada ngasi sembako dan uang."

"Ya, Allah ... lupa abang, Dek. Ya udah, nanti dikirim. Untong kamu ingatkan, Dek."

"Bukan awak yang ingatkan, Bang. Tapi abang-abang becak itu yang menagih ke mari ...."

Abang terkekeh.

"Iya, ya Dek. Bukan kamu yang ingatkan tapi mereka yang menagih ... Hehehe."

Aku ikut tertawa bersama abang.

"Dek, nanti sekalian abang kirim untuk yang janda-janda, yatim dan fakir miskin. Kalian tolong bantu bagikan, ya, Dek."

*****

Selama Abang di Jakarta tradisi mengirim uang untuk memuliakan bulan penuh ampunan Ramadhan dan Syawal tetap dilakukan. Kami tetap menjalankan amanahnya untuk membagikan, termasuk kebutuhan umat diluar bantuan rutin tahunan tersebut. Juga melaksanakan kurban di yayasan dan  membagikan kurban di hari tasrik ke 3 untuk menyisir masyarakat yang tidak kebagian daging kurban.

Setelah kepergian abang, semoga Allah berikan kemudahan agar kami bisa melanjutkan semua kebaikan tersebut.

Medan, 30 Mei 2021
18 Syawal 1442 H