Ulama Wajib Melek Politik

Oleh: Abdurrahman Syebubakar
Ketua Dewan Pengurus IDe 

Para ‘aalim (ulama) perlu ngaji politik, bukan utk menjadi politikus/penguasa tapi agar melek politik. Dengan melek politik, para ulama bisa memahami bagaimana politik kekuasaan bekerja dan membedakan mana maksiat politik vs kebajikan politik.

Kehidupan berbangsa dan bernegara, serta baik buruk dan jatuh bangunnya sebuah bangsa sangat ditentukan bagaimana kekuasaan dijalankan. 

Berbagai ulasan teoritis dan hasil kajian ilmiah telah banyak mengungkap tentang sebab musabab gagal dan ambruknya suatu negara bangsa. Bagaimana kemiskinan, ketimpangan, kelaparan, kematian massal serta penderitaan lainya termasuk konflik yang tak berkesudahan, dibiarkan bahkan diproduksi oleh negara (i.e. bad politics).

Benang merah dari berbagai teori dan hasil kajian ilmiah tersebut adalah sistem/kelembagaan politik (oligarkis vs inklusif) serta watak dan kualitas kepemimpinan politik (ignorant dan korup vs visioner dan berintegritas) menjadi faktor paling menentukan jatuh bangunnya suatu negara bangsa. 

Dengan kata lain, oligarki dan korupsi adalah biang kejahatan dan kesengsaraan rakyat. Pangkalnya adalah kebodohan politik, yang ikut dipelihara oleh sebagian ulama. 

Lebih celaka lagi, para ulama plat merah yang hanya mengenal dan mengajarkan tafsir agama versi kekuasaan, terlepas kekuasaan tersebut korup atau tidak, otoriter atau demokratis.

Barisan ulama ini nyomot ayat dan hadis sesuai dengan selera dan kepentingan penguasa serta hulubalangnya. Definisi akhlak Islampun disunat, hanya dikaitkan dengan ujaran dan gaya bicara yang dibungkus dengan frase sopan santun. 

Ummat Islam dan rakyat Indonesia tidak akan lepas dari kemiskinan dan keterbelakangan jika masih banyak ulama plat-merah yang tidak segan meng-KORUPSI agama demi membela kekuasaan. Akibatnya, visi Islam yang luas dan mulia – rahmatan lil ‘aalamin – hanya sebatas slogan.