Demokrat: Secara De Facto Jokowi Sudah Kalah Dari Prabowo


[PORTAL-ISLAM.ID] Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Rachland Nashidik, menyoroti indikasi-indikasi gangguan pemilu yang jurdil berintegritas.

Kalau sampai Presiden RI yang juga capres petahana hanya membiarkan, maka secara de facto dia sudah kalah dari Prabowo.

Kenapa?

"Bila Pak @jokowi tak berbuat cukup dan segera melindungi integritas Pemilu, ia de facto sudah kalah dari Pak Prabowo. Kekalahan ini sulit diperbaiki bahkan bila ia menang di bulan April. Rakyat akan anggap ia menang curang akibat keberpihakan aparat hukum dan pemerintahan," kata Rachland Nashidik di akun twitternya, Senin (1/4/2019).

Menurutnya saat ini kepercayaan publik (public distrust) sudah taraf membahayakan.

"Public distrust ini sudah dalam taraf membahayakan. Harusnya membangunkan kewaspadaan semua pihak. Situasi bisa sedikit diperbaiki bila pemantau Pemilu independen internasional yang kredibel bisa datang menyaksikan. Tapi ini sudah tak mungkin karena waktu sudah terlalu singkat," uajrnya.

Publik semakin tidak percaya setelah ada pengakuan eks kapolsek yang diarahkan mendukung capres petahana.

"Satu-satunya kemungkinan, kendati sangat tipis, adalah berharap pada hati nurani. Ada hati nurani seorang Kapolsek dalam pengungkapan fakta keberpihakan Polisi. Bila mukzizat itu makin banyak dan gencar, merambat dari bawah hingga ke Kapolri, situasi masih mungkin diselamatkan," kata Rachland.

"Maha penting untuk mengingatkan aparat hukum, khususnya Polisi yang sedang dalam sorotan besar publik, usia public distrust kepadanya akibat kegagalan bersikap netral, akan lebih panjang dan melampaui Pemilu bulan depan. Ini menempatkan praktek negara hukum pada bahaya kesangsian," lanjutnya.

"Kapolri Tito Karnavian -- saya katakan ini dengan rasa sayang -- cuma punya dua pilihan. Habis-habisan melindungi pemihakan anggotanya demi memenangkan 01. Atau memenangkan profesionalisme Polri dan hati nurani dengan mengambil langkah-langkah radikal dalam waktu singkat ini," kata Rachland.

"Yang pertama berarti ia berjudi. Bila 01 menang, ia mungkin akan mendapat karir baru dalam politik, meski harga bagi keuntungan pribadinya itu sangat mahal. Ia harus mampu padamkan gejolak kemarahan massa akibat persepsi pemilu curang. Bila 01 kalah, ia akan digilas oleh sejarah," tegasnya.