Sandiaga: Ibu, Tonggak Kokoh Bangsa


Ibu : Tonggak Kokoh Bangsa

Ibu di mata saya, tidak pernah berubah. Wajahnya adalah wajah yang sama ketika pertama kali mata saya terbuka di dunia ini. Senyumnya adalah senyum yang sama dengan senyum yang diberikannya ketika melihat saya tumbuh berkembang. Gerak tubuhnya adalah gerak yang sama ketika dulu beliau enggan melihat saya dan abang saya Indra melanggar aturan. Dan tangis haru ibu, adalah tangis yang sama ketika melepas dan menyambut saya dalam kondisi apapun di luar sana.

Ibu saya, ibu kita, ibu teman-teman semua mungkin akan menua dimakan usia. Tetapi jiwanya di mata kita selamanya abadi karena kasih yang diberikannya sejak tangis pertama kita di dunia ini tidak pernah berubah.

Saya teringat di masa-masa genting dalam hidup saya. Saat saya kehilangan segalanya dalam kondisi baru dianugerahi anak pertama. Semua yang saya dapatkan dari hasil kerja keras di usia muda hilang sekejap mata. Ibu menyambut saya dengan tangan terbuka. Ibu lah yang diam-diam menyelipkan uang setiap kali saya pergi untuk mendapatkan peluang usaha. Ibu lah, dengan segala keterbatasan beliau, memastikan anak saya tidak kekurangan susu.

Teman-teman, seisi dunia bisa menghakimi kita karena sukses atau gagal. Saat kita berhasil, dunia seperti berpihak pada kita. Tiba-tiba semua orang ingin dekat dan berteman dengan kita. Tetapi ketika kita gagal, dunia serasa membelakangi kita. Bukan saja orang-orang enggan untuk berteman tetapi sebagian dari teman-teman juga akan melupakan kita.

Tetapi seorang ibu, tidak pernah menilai anaknya dari ukuran-ukuran sukses atau gagal. Seorang ibu, tidak melihat anaknya dari kacamata dunia. Ibu melihatnya dari kacamata bathin. Dia akan memberikan senyum yang sama. Tangis yang sama. Dan pelukan yang sama, betapa pun keras dunia menghakimi kita.

Renungkanlah teman-teman, apa yang bisa dilakukan di dunia ini tanpa seorang ibu? Pikirkanlah teman-teman, jika nasib ibu-ibu, emak-emak tidak menjadi perhatian utama kita bagaimana kita bisa membangun sebuah bangsa yang kuat dan kompetitif?

Dan sekarang coba tanyakan pada diri kita masing-masing, jika ibu-ibu di seluruh Indonesia terus dipersulit dengan kenaikan harga-harga, tidakkah kita sedang mempertaruhkan masa depan bangsa? Kenapa ibu-ibu kita harus selalu jadi korban pertama dari ketidakcakapan mengelola negara? Kenapa semua beban harus selalu mereka tanggung sendiri?

Dari lebih dari 1000 titik yang saya kunjungi di seluruh Nusantara, saya tekun mendengarkan suara ibu-ibu. Seorang ibu yang harus membesarkan anaknya seorang diri. Ibu yang harus melakoni begitu banyak pekerjaan demi tersedianya makanan di meja makan. Ibu yang harus berjalan puluhan kilometer, dalam panas dan hujan demi masa depan anaknya. Ibu…Ibu..Ibu dan berjuta-juta ibu Indonesia mempertaruhkan hidupnya setiap hari.

Ibu kami, Mien Uno, pernah mengatakan, perempuan merupakan tiang dari bangsa. Tonggak dari kemakmuran bangsa. Karena melalui perempuan keluarga lebih bahagia.

Jangan harap kita bisa mengubah nasib bangsa kalau negara tidak mampu melindungi kaum ibu. Tidak usah bermimpi jadi bangsa besar kalau persoalan-persoalan yang menghimpit emak-emak tidak kunjung terselesaikan. Biaya hidup tinggi, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, tarif dasar listrik yang terus merayap naik ditambah lagi dengan akses untuk layanan sosial yang terus jadi momok politik anggaran. Bayangkan betapa sulitnya menjadi seorang ibu di negeri tercinta ini.

Kami, Prabowo Sandi, memahami realitas yang terjadi. Itu sebabnya saat pertama kali meminta restu dari seluruh rakyat Indonesia untuk bertarung dalam Pilpres 2019 maka yang pertama kali kami ingin lakukan adalah mengubah nasib emak-emak. Memastikan masalah harga-harga kebutuhan pokok dan lapangan kerja jadi fokus utama kami. Membangun program-program aksi yang bertujuan membantu emak-emak dalam menghadapi masalah sehari-hari. Memastikan emak-emak tersenyum haru bukan lagi tertawa getir.

Kami, Prabowo-Sandi berkomitmen : Negara tidak boleh absen untuk emak-emak, negara harus hadir dalam keseharian ibu-ibu Indonesia. Negara, lewat kebijakannya yang pro emak-emak, harus hadir di meja-meja makan keluarga Indonesia. Negara, dengan kebijakan ekonomi yang pro rakyat, harus hadir di pasar-pasar tempat emak-emak berbelanja kebutuhan pokok.

Kami ingin membangun pemerintah yang mampu membuka akses kepada emak-emak untuk meningkatkan taraf hidupnya, baik melalui penciptaan lapangan kerja maupun kemudahan dalam membangun usaha. Pemerintah yang mampu mendorong daya beli rakyat, sehingga bisa memastikan : tidak ada seorang ibu pun menangis karena tidak mampu memenuhi kebutuhan susu untuk anaknya.

Saat teman-teman memikirkan nasib bangsa ini, tataplah mata ibu-ibu kita. Di relung mata mereka tersimpan sejuta asa untuk kita, anak-anak bangsa. Kita lahir ke dunia ini karena seorang ibu. Maka seluruh darma bakti kita untuk bangsa ini seharusnya untuk membahagiakan ibu-ibu di seluruh pelosok negeri.

Saya percaya, ketika negara hadir untuk emak-emak maka kebahagiaan akan tumbuh di dalam keluarga-keluarga Indonesia. Itulah tonggak kekuatan bangsa kita untuk mewujudkan Indonesia yang aman, adil serta makmur untuk semua.

(Sandiaga Salahuddin Uno)
Ibu : Tonggak Kokoh Bangsa Ibu di mata saya, tidak pernah berubah. Wajahnya adalah wajah yang sama ketika pertama kali...
Dikirim oleh Sandiaga Salahuddin Uno pada Senin, 11 Februari 2019