Anis Matta bicara tentang Keadilan, Kelalaian dan Kejatuhan


[PORTAL-ISLAM.ID] Rangkuman twit-twit kontemplatif Anis Matta (9-12 Januari 2019):

πŸ‘‰ Keadilan adalah nilai tertinggi dalam Islam.. Itu sifat utama Allah dalam memberlakukan takdirNya.. dan syarat penentu utama keseimbangan dan keberlangsungan semua sistem sosial, ekonomi dan politik dalam sejarah manusia.. Nilai itu juga menentukan panjang pendeknya umur sebuah peradaban..

πŸ‘‰ Tantangan paling berat dalam menerapkan keadilan adalah keadilan pada diri sendiri.. Karena musuh terbesarnya ada dalam diri kita.. Namanya keangkuhan yang biasanya dibentuk oleh akumulasi semua elemen kekuatan seperti ilmu, harta dan kuasa.. Dari keangkuhan itulah lahir tirani dan kezaliman..

πŸ‘‰ Keadilan Allah adalah sebab utama keberlangsungan tatanan alam raya dan kehidupan manusia di bumi.. Dari situ juga lahir kaidah ini: “Tidak ada kezaliman manusia atas makhluk lain yang tidak dibalas Allah di dunia sebelum akhirat”..

πŸ‘‰ Orang berakal, kata ulama kita dahulu, adalah orang yang paling jauh pandangannya tentang akibat dan ujung dari segala sesuatu.. Pikiran, kebijakan dan tindakan selalu diukur dari akhirnya, dari dampak atau repson balik yang kelak ditimbulkannya..

πŸ‘‰ Itu sebabnya mereka selalu bijak dan tidak gegabah serta selalu selamat..

πŸ‘‰ Akal sehat hanya bisa bekerja dalam fitrah yang bersih dan hati yang jujur.. Itu membedakannya dari kecerdasan.. Banyak orang cerdas sering kehilangan akal sehat.. Banyak orang berilmu sering tersesat..

πŸ‘‰ Setiap muslim akan menemukan momentum spiritualnya sendiri.. Dari akumulasi benturan nilai dan pengalaman hidup yang panjang.. Saat itu ia akan berjalan tegap dan mantap menuju Allah dengan keyakinan penuh yang memenuhi seluruh relung hatinya..

πŸ‘‰ “Dan janganlah engkau mengikuti orang-orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, lalu ia mengikuti hawa nafsunya maka seluruh urusannya berantakan” (QS Al Kahfi: 28).. Begitu kita tidak terkoneksi dengan Allah hidup kita berantakan..

πŸ‘‰ Kelalaian (ghaflah) adalah saat dimana hidup kita tidak terkoneksi dengan tujuan akhir (Allah dan kehidupan akhirat).. Itu momentum masuknya hawa nafsu.. Memberi peta jalan lain dan membimbing kita di jalan itu.. Awal dari semua hidup yang hancur berantakan..

πŸ‘‰ Jika suatu saat hidup kita hancur berantakan.. Lalu kita mengalami disorientasi dan merasa berjalan entah kemana.. Kembalilah ke kaidah sebab kehancuran itu: kelalaian - hawa nafsu - kehancuran..

πŸ‘‰ Siapa yang firasatnya tentang dirinya jujur dan benar, maka firasatnya tentang orang lain juga akan jujur dan benar.. Begitu ulama kita dahulu mengajari kita tentang makna memahami diri sendiri dan orang lain..

πŸ‘‰ Semua rasa yang bertebaran dalam hati akan menampakkan diri dalam mata dan wajah kita.. Hati yang kelam terlihat juga dalam tatapan mata, intonasi suara dan rona wajah.. Begitu juga sebaliknya..

πŸ‘‰ Mengagumi atau membenci seseorang bukanlah tabiat hati dan akal yang merdeka dan dewasa.. Itu tabiat mengerdilkan diri sendiri.. Tabiat yang menjerumuskan pada pensucian makhluk atau gampang memfitnah..

πŸ‘‰ Letakkan nilai di atas manusia dan belajarlah memahami proses jatuh bangun manusia di jalan nilai itu secara adil..


Loading...