Anies Apresiasi Dukungan Luas Masyarakat Terkait Kasus 2 Jari Yang Akhirnya Dihentikan Bawaslu


[PORTAL-ISLAM.ID] JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengapresiasi tanggapan masyarakat berupa dukungan moral terkait kasus pose dua jari sehingga menyebabkan dirinya diperiksa Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jakarta Pusat dengan ancaman pidana pemilu penjara tiga tahun,

"Saya mengapresiasi semua respons masyarakat dan kita semua berharap pemilu pilpres lebih fokus pada hal-hal substantif. Bukan hal-hal yang minor seperti ini," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (11/1/2019), seperti dikutip ROLhttps://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/19/01/12/pl6fa1409-anies-apresiasi-dukungan-moral-terkait-kasusnya-di-bawaslu.

Hal tersebut terkait banyaknya komentar dukungan pada Anies di media sosial yang menyatakan langkah yang dilakukan Bawaslu dianggap tidak adil. Sementara, ada beberapa kepala daerah yang mengacungkan jari sebagai dukungan kepada pasangan nomor 01, Joko Widodo dan KH. Ma'ruf Amin dan belum dipanggil Bawaslu.

Menurut dia, seharusnya pilpres lebih fokus pada hal-hal substantif karena akan menentukan arah perjalanan bangsa. Hal-hal seperti dialaminya sebenarnya tak perlu menjadi fokus percakapan.

"Tapi sekarang, malah jadi fokus percakapan, harusnya nggak usah," kata Anies.

Pada Jumat (11/1) kemarin, Bawaslu akhirnya resmi menghentikan pengusutan kasus pose dua jari Anies dan menyatakan Anies tidak bersalah.

Dukungan luas masyarakat pada Gubernur Anies diungkapkan melalui tagar #SaveAniesBaswedan yang menjadi Trending Topik di media sosial beberapa hari ini.

Bahkan jika Anies dipaksakan bersalah dan dipenjara, jutaan alumni 212 siap turun ke jalan.

Dukungan luas masyarakat ini mengingatkan pada sosok Erdogan yang akhirnya selamat dari upaya kudeta militer setelah rakyat Turki turun ke jalan membela pemimpinnya, walau dengan taruhan nyawa mereka.

Seperti yang pernah diungkapkan Anies Baswedan "Jika pemimpin pasang badan buat Rakyat maka rakyat akan pasang badan untuk pemimpinnya".