Yai Abdullah & Mas Sandi


Oleh: Ustadz Abrar Rifai
(Pengasuh Ponpes Babul Khairat Malang)

Cukuplah bagi para kekasih Allah itu, dengan memandang wajah mereka hati kita akan bergetar. Iman kita naik, sampai melampaui batas yang kita upayakan setiap harinya.

Sebab mereka adalah orang-orang yang sentiasa dekat kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang telah menceraikan dunia ini untuk akheratnya. Raga mereka masih menapak bumi, tapi ruh mereka sedang berjalan-jalan di taman-taman surga. Atau menyaksikan neraka dari kejauhan.

Kiai Abdurrahman adalah satu di antara manusia yang saya yakini sebagai waliyullah. Beliau tinggal di daerah Malang arah Lumajang. Akses menuju rumah beliau tidaklah mudah, sampai-sampai banyak rombongan Mas Sandi yang berujar, “Ini kita mau masuk hutan atau mau kemping di lereng Semeru nih?”

Pengasuh Pondok Pesantren Al Aziz ini sudah sangat sepuh. Kami tidak tahu pasti berapa umur beliau. Tapi beliau masih tegak dan gagah. Ngendikan beliau juga masih sangat jelas. Dengan ragam definisi sakti, saya percaya bahwa beliau sakti.

Tetiba saja seseorang yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya, menemui kami di hotel. Namanya Gus Sofi. “Mas Abrar, niki Pak Sandi dibetto ten Abah mawon.” (Mas Abrar, Pak Sandi dibawa saja ke Abah)

“Abah sinten?” tanya saya.
“Yai Abdullah...”

Berkerut kening saya mencari nama ini di memory otak saya. Gus Sofi terus bercerita perihal Yai Abdullah. Hampir semua pemimpin atau pun calon pemimpin negara ini pernah berkunjung kepada beliau. Termasuk Bacawapres yang akhirnya tidak jadi dipilih Jokowi.

Tragisnya, saya justru tidak pernah mendengar nama Yai Abdullah sebelumnya. Sehingga tidak saya masukkan dalam jadwal kunjungan Sandi. Tapi Gus Sofi terus mendesak. Termasuk juga sejumlah orang yang bersama kami di kamar hotel pagi itu. “Baiklah, coba nanti kita komunikasikan dulu dengan ADC-nya Sandi.” akhirnya saya memberikan jawaban.

Saya kontak Jakarta. Kita berdebat sengit. Tapi tetap keputusannya, tidak ada tambahan tempat untuk dikunjungi Sandi. Tapi saya terus meyakinkan. Sampai akhirnya, orang di seberang telpon memutuskan. “Begini saja Mas Abrar, yang pasti kami tidak meng-ACC usulan Sampean. Tapi kalau Sampean maksa, silakan saja langsung disampaikan ke Pak Sandi.” nah...! “Kalau Pak Sandi mau, silakan saja diatur dan dikondisikan dengan tim di lapangan. Tapi kami tidak bertanggung jawab!” OK!

Saya pun meminta beberapa orang yang sekiranya didengar oleh Mas Sandi. Saya minta mereka yang ngomong ke Mas Sandi. Sebab kalau saya sendiri yang ngomong, yakin deh Mas Sandi gak akan mau. Siapa Abrar? :)

“Alhamdulillah, Sandi mau, Mas Abrar.” Pak Dadik memberi kabar. Pak Dadik ini seorang pengusaha di Malang, yang banyak men-support dana untuk kegiatan Sandi selama di Malang. Jazahullah khairan.

Saya pun berjingkrak kegirangan. Segera saya beri kabar Gus Sofi. “Alhamdulillah, Mas Abrar.” Gus Sofi pun tidak kalah gembira. “Niki mungkin tarikane Abah,” katanya... “Sebab Abah sudah nyiapkan makan untuk Pak Sandi.”

Sesuai dengan aturannya, semua jadwal yang akan dikunjungi, sebelumnya harus didatangi petugas khusus dulu, untuk memastikan peta dan seterilisasi lokasi. Termasuk juga ngecek makanan. Tapi untuk kunjungan ke Yai Abdullah ini, semua itu tidak dilakukan. Karena memang tidak masuk dalam jadwal.

Karena semua tim masih blank dengan lokasi, maka untuk mencapai lokasi dengan cepat, akhirnya kami diantar oleh Kapolsek setempat. Singkat cerita, sampailah kami di lokasi. “Yang diterima Yai hanya Pak Sandi, Mas,” kata seorang ajudan memberi tahu saya. Lah, lha wong yang bawa Mas Sandi ke sini itu saya. Masa saya gak boleh masuk. Akhirnya saya tetap nyelonong aja. Ternyata di dalam sudah ada beberap orang yang sama-sama tambengnya dengan saya.

Ya Allah, baru saja saya masuk ruangan, melihat Yai Abdullah pada pandangan pertama, seketika dada bergemuruh. Saya tidak bisa melukiskan perasaan saya ketika itu. Yang pasti, seketika air mata berderai. Saya betul-betul tersedu. Segera tampak semua dosa yang telah banyak saya lakukan.

Saya tak mampu berkata-kata. Saya mendekat pada Yai. Saya raih tangan beliau. Saya cium beberapa saat. Ya Allah nyereces nemen ati. Saya sudah bertemu dengan banyak kiai, tapi goncangan terbesar itu baru saya rasakan saat berada di hadapan Yai Abdullah.

Maka, saya bilang pada semua tim dan semua orang yang membersamai Mas Sandi selama tiga hari di Malang, bahwa ruh dari semuanya itu adalah di sini!

*NB: Tidak ada yang berani ambil foto Yai Abdullah. Termasuk Tim Media Sandi.