TOLAK (K)OTAK KARDUS KPU !!!


 TOLAK (K)OTAK KARDUS KPU !!!

Anda pernah makan di Rumah Makan Padang... ?

Biasanya didekat meja kasir ada kotak-kotak khusus untuk sumbangan pembangunan masjid atau Yayasan Pendidikan Anak Yatim. Kotak-kotak tersebut biasanya terbuat dari kaca dan aluminium yang kokoh.

Saya belum pernah melihat ada kotak amal yang terbuat dari plastik apalagi kardus, padahal yang mau dijaga seringkali cuma uang ratusan ribu rupiah yang menjadi amanat pemberi sedekah.

Begitu juga dengan kotak-kotak amal di masjid, selalu terbuat dari bahan yang kuat dan kokoh. Padahal, umat yang menyumbang dan pengelola masjid, Insya Allah sama-sama saling percaya.

Tapi baik Kotak Amal di Rumah Makan Padang maupun Kotak Amal di Masjid berisi bukan hanya sekedar uang. Disana ada amanah yang harus dijaga. Maka dibuat Kotak kuat yang bisa membuat dua belah pihak merasa aman, tenang dan merasa terjaga.

Amanah mungkin bisa dijumlahkan tapi harganya tidak ternilai. Karena setiap amanah harus dipertanggung jawabkan kepada sesama dan kepada Tuhan.

Jadi ketika saya mendengar isu KPU menurunkan kualitas bahan Kotak Suara Pemilu dan Pilpres dari logam ke kardus, rasanya saya melihat upaya kembali ke jaman jahiliyah.

Padahal Kotak Suara akan berisi suara dan amanat rakyat pada Pemilu dan Pilpres mendatang. Ataukah suara dan amanat rakyat dianggap KPU nilainya cuma setara dengan mie instan? makanya mereka biarkan Kotak-nya dibuat dari Karton?

Kalau selama ini dengan Kotak Suara yang berbahan logam saja masih rentan dengan penyimpangan, misalnya Kotak Suara ditukar ditengah perjalanan, apalagi cuma Kotak Suara berbahan Karton. Upaya penyimpangan akan jauh lebih mudah dan kecurangan bisa lebih sempurna. Belum lagi pontensi kerusakan akibat terjatuh atau terkena air.


Kalau sampai isu Kotak Suara berbahan kardus ini benar, saya menganggap KPU yang sekarang benar-benar super konyol dan amatiran.

Isi Kotak Suara mungkin saja cuma kertas pilihan rakyat. Tapi kertas pilihan rakyat itu jauh lebih bernilai dibandingkan kertas lain yang kita namakan uang dan sertifikat berharga.

Berdasarkan hasil kertas suara rakyat itu terbentuk Pemerintah yang akan membuat nilai mata uang kita berharga atau jadi sampah. Berdasarkan hasil kertas suara itu terbentuk masa depan Indonesia.
Jadi kalau untuk menyimpan dan mengamankan uang kita pakai Kotak Besi atau Brankas, kenapa giliran menyimpan dan mengamankan Suara Rakyat memakai Kotak Kardus?

Kalau gak konyol dan amatiran, apalagi namanya? Kalau isu benar seharusnya semua Komisioner KPU wajib mengundurkan diri karena telah gagal memahami nilai suara rakyat.

Jangan sampai pesta demokrasi yang akan kita jelang cuma sekedar formalitas semata. Sementara hasilnya sudah sudah diatur dan ditentukan oleh Truk Sampah penyedot data milik Oppung Menteri Segala Urusan.

Lagipula kalau Komisioner KPU yang sekarang tidak sanggup, silahkan serahkan tugasnya ke Ajo-ajo Pemilik Warung Padang Ampera dan Bapak-bapak Marbot Masjid. Insya Allah mereka jauh lebih amanah.

TOLAK (K)OTAK KARDUS KPU !!!

(Azwar Siregar)

__
*Sumber: fb penulis