DAKWAH ALA MOHAMED SALAH


DAKWAH ALA MOHAMED SALAH

Salah tidak banyak bicara, dan mungkin ia tidak pandai berbicara. Tapi dari bibirnya, banyak senyum mengembang.

Sikapnya santun, baik kepada rekan-rekan setim, kepada tim lawan, kepada media, maupun kepada penggemarnya.

Selebrasinya tidak pernah berlebihan ketika ia berhasil menjebol gawang lawan. Ia memilih bersujud, kadang mengangkat jari telunjuknya, sebagai tanda ucap syukur pada Sang Pencipta. Tidak ada gestur provokatif, apalagi dengan sengaja mengolok-olok lawan.

Ketika rekan-rekannya merayakan kemenangan dengan minum bir bersama di sebuah bar, Salah lebih memilih berbagi kegembiraan bersama isteri dan anaknya di rumah.

Sebagai pemain, Salah sangat profesional. Ia tidak pernah terlibat konflik dengan pemilik klub, dengan pelatih, maupun rekan setimnya. Ia selalu datang latihan tepat waktu. Walaupun sekarang ia sudah menyandang status mega-bintang yang layak disandingkan dengan Messi dan Ronaldo, tapi sikapnya tetap membumi. Belum pernah ia meminta kenaikan gaji, walaupun tahun lalu ia berhasil membawa Liverpool ke final UCL, memenangi Sepatu Emas, dan kini membawa klubnya merajai Premier League.

Jangankan meminta kenaikan gaji. Sebagian penghasilannya malah ia sisihkan untuk membantu anak-anak terlantar dan fakir miskin di negaranya, membangun masjid, mendirikan rumah yatim, dan sebagainya. Bagi Salah, harta bukanlah segalanya.

Saat membawa klubnya menggilas Arsenal 5-1, ada satu kejadian mengharukan, ketika Liverpool mendapat hadiah pinalti. Salah yang diberi kekuasaan untuk mengeksekusi pinalti, memilih memberikan kesempatan itu kepada Firmino untuk mencetak hat-trick, sebagai kado natal untuk Firmino. Padahal Salah butuh banyak gol untuk bersaing memperebutkan posisi top-scorer. Sebuah solidaritas yang hampir membuat Jürgen Klopp menangis.

Fans Liga Inggris bertanya-tanya, siapakah pria santun yang tidak banyak tingkah ini? Dari mana asalnya? Dari nama Mohamed yang disandangnya, apakah ia beragama Islam? Seperti inikah wujud seorang muslim; santun, sayang keluarga, dermawan, tidak tamak, hormat kepada kawan maupun lawan, taat beribadah, rendah hati, dan punya solidaritas yang tinggi?

Publik Inggris, khususnya Liverpudlian, mulai respek kepada Salah. Mereka mulai menghormati agama Salah. Islamophobia mulai berkurang, setidaknya di Liverpool.

Begitulah cara Salah berdakwah. Ia lebih memilih mengenalkan ajaran agamanya melalui teladan sikap dan perbuatan. Ia sadar, ia membawa tanggung jawab besar dari nama Mohamed yang ia sandang.

"Satu perbuatan baik, lebih bermakna dari seribu kata-kata manis."

Oh iya, kapan Bung Salah berdakwah di Barcelona?

(by Wendra Setiawan)