Catatan dari ILC: Bagaikan Ada ‘Hubungan Asmara’ antara Kubu Jokowi dan KPU


Catatan dari ILC:
Bagaikan Ada ‘Hubungan Asmara’ antara Kubu Jokowi dan KPU

By Asyari Usman
(wartawan senior)

Ada beberapa catatan dari acara ILC tvOne malam tadi (18/12/2018). Yang paling menarik adalah penampakan ‘benang merah’ yang menghubungkan kubu Jokowi dan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Yang dibicarakan malam tadi adalah soal kotak suara pemilu 2019 yang terbuat dari kardus.

Seperti biasa, posisi duduk narasumber (narsum) sengaja dikelompokkan di kiri dan di kanan meja panel. Malam tadi, yang dianggap sebagai pengkritik KPU didudukan di sebelah kanan meja panel (sebelah kiri layar TV), sedangkan para narsum lainnya didudukkan di bagian kiri panel (sebelah kanan layar TV).

Bukan pengelompokan kiri-kanan itu yang akan kita cermati. Tetapi isi komentar para narasumber dan ‘gesture’ yang mereka perlihatkan. Para narsum yang duduk di sebelah kiri layar TV adalah kelompok yang mengkritik kotak suara kardus (sebut saja pengkritik). Sedangkan para narsum yang duduk di sebelah kanan layar TV adalah kelompok yang membela kardus, sekaligus yang membela KPU (sebut saja pembela).

Kelompok pengkritik kardus terdiri dari Chusnul Mariyah (mantan ketua KPU), Titi Anggraini (direktur eksekutif Perludem, LSM kepemiluan), Ferdinan Hutahaean (politisi Partai Demokrat), dan Djamal Aziz (caleg Gerindra).

Kelompok pembela kardus adalah Ali Muchtar Ngabalin (jurubicara Istana), Arteria Dahlan (politisi PDIP), dan Akbar Faizal (politisi NasDem).

Kalau kita sederhanakan perdebatan ILC tentang kotak suara kardus ini, sangat beralasan untuk menyebut kelompok pengkritik kardus mewakili pihak oposisi (capres 02) di dalam kontestasi pilpres sekarang ini. Sebaliknya, sangat beralasan juga untuk menyebut kelompok pembela kardus mewaikili pihak petahana (capres 01), yaitu kubu Jokowi.

Nah, setelah tayangan hampir selesai, ada semacam pengerucutan yang sangat menarik untuk dicatat. Pengerucutan yang sangat politis dan kental beraroma “hubungan baik” antara kubu Jokowi dan KPU. Apa indikasinya?

Perhatikan saja narasi, gaya bahasa, intonasi, dan piliha kata yang digunakan oleh para narasumber kubu Jokowi. Arteria Dahlan, misalnya, dengan narasi dan intonasi yang cukup otoritatif menggambarkan bahwa semua yang dilakukan KPU untuk pemilu (termasuk pilpres) 2019, sudah sangat baik. Pantas dihargai, wajar diacungkan jempol. KPU, menurut Arteria, telah bekerja keras. Bagi dia, kotak suara kardus tidak ada masalah baik secara legalitas maupun teknis.

Akbar Faizal juga memberikan dukungan penuh kepada KPU. Dia sepakat dengan Arteria tentang kinerja KPU yang dirasakannya tak perlu diragukan. Begitu juga Ali Muchtar Ngabalin. Jurubicara Istana yang terkenal ‘ngotot’ ini juga membela KPU.
Nah, apa yang bisa kita intisarikan dari pembelaan kubu Jokowi pada KPU?

Menurut hemat saya, para narasumber kubu Jokowi itu tampak-tampaknya datang ke acara ILC malam tadi dengan bekal dan misi yang sama, yaitu melindungi serangan terhadap KPU. Tidak ada sedikit pun kritik mereka terhadap cara kerja lembaga penyelenggara pemilu itu. Sangat kontras dengan kritik-kritik tajam yang disampaikan oleh kubu oposisi.

Pembelaan “full force” dari kubu Jokowi itu, menurut saya, mengisyaratkan adanya sesuatu yang istimewa antara mereka dengan KPU. Mirip dengan “hubungan asmara” antara dua sejoli yang tak terpisahkan lagi. Yang satu siap mati demi yang lainnya.

Bagaikan ada percintaan yang telah terbina lama antara keduanya. Atau, bisa juga bagaikan ada “percintaan paksa” antara kubu Jokowi sebagai pria yang punya segala-galanya dan si cewek cantik KPU yang bisa memberikan kebahagiaan lahir-batin.

Entahlah. Boleh jadi saya ini sudah sampai pada level cemburu melihat hubungan intim lima tahunan antara kedua sejoli itu. Wallahu a’lam.

Yang jelas, saya melihat dominasi si cowok petahana yang kaya-raya itu sangat kuat terhadap si cewek sexy KPU. Tak akan ada lagi pria lain yang mampu menerobos masuk ke halaman rumah si cewek. Dan tak bakalan ada yang bisa menasihati mereka.

Sebagaimana ‘nature’ kasmaran tegangan tinggi, tentulah kedua sejoli akan semakin sering memadu cinta. Siang atau malam, terang-terangan atau gelap-gelapan, di tempat terbuka maupun di tempat tertutup. Pengeluaran besar tak masalah, apalagi pengeluaran kecil.

Untuk sementara ini, kita lihat saja bagaimana nanti kelanjutan hubungan asmara mereka.***