Munculnya Elemen Ketiga Bisa Merusak Agenda Besar #2019PrabowoPresiden


[PORTAL-ISLAM.ID]  Ada 4 orang yang dikritik Hillary Clinton dalam bukunya "What Happened". Tiga di antaranya James Comey, Donald Trump dan Vladimir Putin. The other one is Bernie Sanders.

Hillary menguliti Sanders di berbagai issue. Kritik itu menghidupkan rivalitas keduanya. Sanders dipotret sebagai hipokrit, disloyal dan ngga serius.

Hillary menyalahkan Sanders sebagai penyebab kekalahan di pilpres. Sebelum bergabung ke kubu Democrat, Sanders merusak citra Hillary. "Lasting damage," tulisnya.

Sanders juga dinilai terlalu asyik sendiri dan terlambat memutuskan bergabung ke Kubu Clinton.

Bernie Sanders was "The Third Party". Seorang "self-described democratic socialist" dan ngaku-ngaku progressive. Kontra Liberals (Clinton) dan Anti Konservatis (Trump).

Masuknya Sanders ke Kubu Hillary atas dasar keterpaksaan fakta politik. No choice. Dia kalah di primaries.

Karena terpaksa, bagi Democrat, Sanders tetap "outsider". Hillary berkata, "He’s far too negative toward the Democratic Party".

Situasi Chaotic menyebabkan 'No Unity' atau 'kumbaya'. Saat Democratic establishment berusaha membuat Sanders dan pengikutnya feel included ke dalam Partai Demokrat, Hillary tetap prejudis. Sanders pun ogah-ogahan.

Di Indonesia, ada "Element Ketiga". Variasi kliknya beragam. Ada yang enggan Pro Prabowo, Anti-Sandi, Punya agenda sendiri dan sebagainya. Sekali pun target utamanya sama; Kalahkan Ko-Ruf di Pilpres.

Partai Gerindra berusaha keras rangkul element ini. Membuat mereka feel represented in the party. Ada yang kooperatif. Tapi ada pula yang ngeyel dan yang berusaha bargain high call.

Sikap ngeyel dan tidak in-tune macam itu artinya "taktik makan strategi". Agenda besar mengalahkan Ko-Ruf di Pilpres bisa rusak akibat infantile disorder element ketiga. Hendaknya, pengalaman Hillary dan Sanders dijadikan pelajaran berharga.

Penulis: Zeng Wei Jian