Dari Pengungsi Suriah hingga Rakyat Palestina Berdoa Untuk Kemenangan Erdogan di Pilpres Turki Hari ini

(Anak-anak Sekolah Palestina memegang poster Erdogan di Gaza)

[PORTAL-ISLAM.ID] Hari ini, Minggu 24 Juni 2018, Turki menggelar Pemilihan Umum untuk memilih Presiden dan Parlemen.

Dilansir kantor berita Turki Anadolu Agency, jumlah pemilih Turki mencapai 56.322.632 pemilih terdaftar dan 180.065 kotak suara di seluruh negeri.

Pemungutan suara akan dimulai pada pukul 8.00 pagi waktu setempat (0500GMT) dan akan berlanjut hingga jam 5.00 sore waktu setempat (1400GMT).

Pemilih akan dapat memberikan suara setelah mereka menunjukkan kartu identitas atau dokumen identifikasi resmi lainnya.

Dilarang memasuki bilik suara dengan kamera dan telepon seluler.

Para pemilih akan diberikan dua surat suara terpisah dalam amplop yang sama -satu untuk presiden dan yang lainnya untuk pemilihan parlemen.

Setelah pemungutan suara berakhir, kertas suara untuk calon presiden akan dihitung terlebih dahulu.

Pemilihan untuk warga Turki di Luar Negeri yang sudah dimulai pada 7 Juni, juga akan berakhir pada jam 5.00 sore waktu setempat (1400GMT) pada hari Minggu.

Delapan partai politik berpartisipasi dalam pemilihan parlemen yang mencakup Partai Keadilan dan Pembangunan (AK), Partai Rakyat Republik (CHP), Partai Rakyat Demokratik (HDP), Partai Penyebab Bebas (Huda-Par) yang baru dibentuk, Partai Baik (IYI), Partai Gerakan Nasionalis (MHP), Partai Felicity (Saadet) dan Partai Patriotik (Vatan).


Enam kandidat mencalonkan diri sebagai presiden: Recep Tayyip Erdogan untuk Aliansi Rakyat (Cumhur Ittifaki), yang dibentuk oleh Partai AK yang berkuasa di Turki dan MHP, Muharrem Ince dari CHP, Selahattin Demirtas dari HDP, Meral Aksener dari Partai Good (IYI), Temel Karamollaoglu dari Partai Felicity (Saadet), dan Dogu Perincek dari Partai Patriotik (Vatan).

Pengamat internasional, Hasmi Bakhtiar menyebut semua mata dunia saat ini tertuju ke Turki. Musuh-musuh Erdogan sangat berharap bagi kekalahan Erdogan.

Sementara umat Islam yang tertindas di berbagai belahan dunia sangat berharap dan berdoa untuk kemenangan Erdogan.

"Yang menggelar pemilu Turki tapi yang menangis sambil berdoa rakyat Suriah. Yang mengelar pemilu Turki tapi yang Qiyamullail melantunkan doa rakyat Palestina. Ini bukan lagi sekedar kekuasaan musiman, ini tentang harapan lahirnya sebuah peradaban," kata Hasmi Bakhtiar di akun twitternya.

"Yang menggelar pemilu Turki tapi Amrik yang kegerahan, yang menggelar pemilu Turki tapi Abu Dhabi yang keluar ratusan peti berisi dollar (untuk mengalahakan Erdogan), yang menggelar pemilu Turki tapi Eropa yang kepanasan. Ini tentu bukan sekedar jabatan presiden, tapi ini tentang perang eksistensi," lanjutnya.

"Cinta itu menjalar sampai ke Suriah, Palestina bahkan Rohingya. Maka tidak heran minggu ini pemilu Turki menjadi buah bibir dunia. Saya belum nemuin pemilu suatu negara yang mendapat tanggapan seserius ini dari kutub Barat dan Islam seperti yang dialami pemilu Turki," ujar Hasmi.

"Dalam hitungan jam musuh dunia Islam akan menangis atau tertawa. Kita bantu ikhtiar @RT_Erdogan agar diijabah langit. Semoga Allah muliakan Turki dan dunia Islam dengan kemenangan Erdogan dan AKP," tutup alumni Al-Azhar Cairo yang saat ini studi Hubungan Internasional Lille Prancis.

Mari kita bantu do'a untuk Kemenangan Erdogan dan AKP.

آمين يا مجيب السائلين