Menurut jumhur ulama, ahli kubur itu mendengar dan mengetahui siapa yang menziarahinya

Oleh: Ustadz Amru Hamdany

Menurut jumhur ulama, ahli kubur itu mendengar dan mengetahui siapa yang menziarahinya.

Jika yang menziarahi adalah orang yang dicintai ahli kubur, maka ahli kubur itu akan sangat senang sebagaimana jika ia dikunjungi saat masih hidup. Diriwayatkan,

"ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عنده إلا استأنس به ورد عليه حتى يقوم"

"Tidak ada seorangpun yang berziarah mengunjungi kuburan saudaranya, lalu dia duduk di sampingnya, kecuali saudaranya akan merasa bahagia/nyaman dan akan menjawab (salamnya) hingga dia berdiri (untuk pulang)." (HR. Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Abid Dunyya)

Begitu juga sebaliknya, si mayyit akan merasa terganggu jika ada yang ziarah kemudian berucap atau melakukan hal-hal yang tidak pantas di sisinya.

Dalam hadits riwayat Imam ad-Dailami:

"إن الميت يؤذيه في قبره ما يؤذيه في بيته"

"Sesungguhnya si mayyit itu akan tersakiti di dalam kuburnya dengan apa-apa yang menyakitinya di rumahnya (saat masih hidup)."

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa suatu kali Nabi ﷺ melihat seseorang bersandar di kuburan, Nabi kemudian menegurnya dan bersabda,

"لا تؤذ صاحب القبر"

"Jangan kau sakiti ahli kubur itu."

Riwayat ini dishahihkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

Jadi ketika ziarah, usahakan untuk mengucapkan yang baik-baik, dan jangan berkata atau melakukan hal-hal yang bisa menyakiti ahli kubur.

Syeikh Muhammad Zaki Ibrahim punya risalah khusus tentang ini, beliau memberi judul (حياة الأرواح بعد الموت), di sini beliau menghadirkan sekian dalil bahwa ahli kubur itu mendengar, tahu dan bisa merasakan.
__

*Foto: Di makam Imam Syafi'i, ikutan majelis khataman kitab Manaqib Imam Syafi'i yg ditulis oleh Imam Baihaqi.

Ustadzuna Muhamad Azwar Anas membacakan di akhir kitab beberapa pujian para ulama kepada Imam Syafi'i, semoga beliau senang mendengarnya, dan ridha dengan ziarah kami.

Baca juga :