APAKAH SYAIR ARAB ITU TERMASUK MUSIK? TANGGAPAN UNTUK UAH

APAKAH SYAIR ARAB ITU TERMASUK MUSIK?

Oleh: Arnan Maming Paturusi 

Setelah mendengar penjelasan UAH (Ustadz Adi Hidayat) tentang bagaimana karakter Syair Arab, ternyata memang Syair Arab itu punya karakter unik yang membedakannya dengan puisi umum yang kami ketahui.

Letak perbedaannya adalah Syair arab itu terikat dengan pola irama tertentu yang UAH sebut dengan Rumus Syair, sedangkan puisi umum sependek pengetahuan kami ia tidak terikat dengan pola Irama tertentu,

Kemudian bedanya lagi Syair arab itu ditentukan iramanya dulu baru dibuat syairnya mengikuti irama tersebut. 

Ini kurang lebih mirip dengan proses pembuatan salah satu lagu Chrisye yang berjudul "Ketika tangan dan kaki berkata" dimana musik dan melodi lagu dikerjakan terlebih dahulu kemudian diserahkan kepada Pak Taufik Ismail untuk dibuatkan lirik yang sesuai dengan melodi yang telah dibuat, kemudian berhari hari beliau berusaha mencari tema syair tapi tidak menemukan yang pas, sampai akhirnya beliau membaca terjemahan surah Yasiin baru kemudian jadilah lirik lagu tersebut.

Mungkin ada yang berkata bahwa "tapi Syair Arab itukan tidak bernada mengapa disebut berirama", Nah irama itu memang tidak membahas nada, Irama itu kalo dalam istilah yang populer biasa kita sebut Irama Mars, Irama Waltz, Irama Blues, Irama Dangdut, dll, dan setiap irama itu punya karakter masing-masing seperti yang dijelaskan oleh UAH, dan memang setiap irama, khususnya di musik, itu memiliki ciri khas tersendiri, ada yang  membangkitkan semangat seperti Mars, ada yang khusuk seperti hymne, ada yang membuat orang ingin berjoget atau minimal jempol kakinya yg ikut naik turun 🤭😄 Makanya ada sepenggal lirik lagu Bang Haji Oma yg berbunyi "Iramanya Melayu duhai sedap sekali" itu maksudnya irama musik melayu yang sekarang berkembang menjadi irama dangdut.

Lalu bagaiman Irama Syair itu? Salah satu contoh rumus syair yang diberikan oleh UAH adalah rumus   

مفاعلة مفاعلة فاعلات
 مفاعلة مفاعلة فاعلات
(maaf kalo salah tulis)

Rumus diatas kalo dibaca dan dimainkan di alat perkusi seperti Duff atau Rebbana itu bisa masuk ke Birama 6/8 artinya dalam setiap bar ada 6 ketukan yang setiap ketukannya itu bernilai 1/8, faham sampai sini? gak kan ?!🤭😄 jadi awas Hati hati..! 

Kemudian contoh Syair yang dibuat dengan rumus ini menurut beliau adalah adalah Syair "Thola'al Badru" dan memang Syair Thola'al Badru itu baru pas jika dinyanyikan dengan Birama 6/8 kalo pake birama 4/4 gak akan masuk. Coba aja! 

Makanya pantas Syair arab itu bisa dibaca sambil memainkan Rebbana karena memang ada Biramanya, berbeda dengan puisi umum yang bebas dari irama.

Lalu apakah Syair Arab itu termasuk Musik? Menurut pendapat saya TIDAK kecuali ia diiringi dengan alat musik atau dibaca tanpa alat musik tapi syairnya dibuatkan melodi tertentu sehingga menjadi lagu atau Nasyid, 

Lalu iya masuk jenis apa? Kalo menurut saya, sekali lagi menurut saya (awas hati hati!) Syair arab itu lebih pas jika dimasukkan kedalam kelompok jenis puisi saja, sebut saja jenisnya "puisi arab" maka orang akan faham.

Sebab jika Syair Arab itu dibaca tanpa alat atau tanpa melodi lagu, lalu kita ditanya ini musik apa? kita juga bingung mau jawab jenis musiknya 🤭😄 maka lebih pas disebut puisi arab saja sehingga penulisnya tetap disebut Penyair, atau lebih kerennya disebut PUJANGGA sebab karyanya yang memiliki nilai seni yang tinggi. Lagipula dijadikannya sebuah puisi menjadi lagu tidak otomatis menjadikan penulis puisi tersebut disebut musisi atau penyanyi, seperti contoh lagu Chrisye diatas.

Kami sendiri pernah punya pengalaman mengiringi Pak Taufiq Ismail membaca Puisi beliau yg berjudul "Sajadah Panjang" di Gedung Kesenian Jakarta dan puisi tersebut juga dijadikan lirik pada salah satu lagu grup musik Bimbo, dan mngkin puluhan puisi beliau lainnya juga telah dijadikan lagu tapi beliau (Taufik Ismail) sampai saat ini tetap disebut sebagai Sastrawan atau Penyair (bukan musisi -red). 

Wallahu a'lam.

Baca juga :