Wejangan Abah Guru, KH Thoifur Mawardi: obat galau...

Wejangan Abah Guru, KH Thoifur Mawardi: obat galau...

Oleh: Qosim Aly

Saat masih mondok, saya sama sekali tidak punya cita2 pulang mondok, mulang ngaji. Ra pingin dadi kiyai. Ustadz. Tokoh. Atau apalah namanya. Blas. Ra kepikir.

Kalo ada orang tanya. Setelah boyong, pingin jadi apa?

Saya selalu menjawab, pingin jadi bos. Punya duit banyak. Kalo punya duit banyak, saya akan nebeng pahala sama kiyai.

Saya akan mendatangi seorang kiyai yg mendedikasikan hidupnya untuk agama. Suka ngaji. Ngajar santri. Saya akan bilang begini:

"Silahkan pak kiyai ngajar. mulang ngaji. Jaga ilmu agama kiyai. Salurkan kepada generasi islam. Jangan mikir biaya hidup. Jangan kerja. Saya tanggung semua kebutuhan pak Kiyai. Semuanya."

Itu cita2 saya saat masih di pondok. Serius.

Waktu itu saya mikir. Mending membiayai hidup seorang kiyai. Ketimbang ngajar ngaji. Gak capek. Gak mumet. Gak dirasani wong. Gak dihasudi. Tapi dapat pahala yg sama dg kiyai. Bahkan dapat pujian. Dermawan. Keren tho?

Bayangkan kalo bisa membiayai kebutuhan 10 kiyai. Saya mendapatkan pahala yg sama dg 10 kiyai itu. Luar biasa bukan?

Namun ternyata saya gagal menggapai cita2 itu. Setelah boyong dan merintis usaha, saya selalu bangkrut. Jatuh bangun. Tak cuma sekali. Berkali kali.

Laptop saya jual. Buat modal. Bangkrut. Istri menawarkan kalung. Jual mas. Saya menolak. Sampai berkali kali. Ahirnya saya jual. Buat modal. Bangkrut lagi.

Usaha, bukannya dapat duit malah untang makin melilit. Utang banyak. Aset telah terjual semua. Tinggal kitab. Terpikir untuk menjual seluruhnya. Untuk bayar hutang. 😢

Frustasi. Stres. Pening. Mumet. Hampir putus asa. Berkecamuk. Mengobok obok pikiran. Hati. Ingin meninggalkan semuanya. Yah, segalanya.

Dalam kondisi terpuruk dan nyaris ambruk, Abah Guru, KH. Thoifur Mawardi, rawuh ke Lampung. Saya pingin curhat. Pikir ku.

Selama di Lampung, saya nderek beliau. Menanti kesempatan untuk ngobrol berdua. 4 mata. Sayang tak ada kesempatan. Selalu saja ada orang sowan.

Mustahil curhat dihadapan orang. Malulah. Mustahil matur, bah minta waktunya. Pingin curhat. Tidak beranilah. La inyong ki sapa?

Hingga saat di talang padang. Tepatnya ketika istirahat di pondoknya Gus Arifin, abah manggil. "Sim" (Qosim).

Saya bergegas menuju kamar beliau. Saya duduk dekat beliau. Dekat kaki. Beliau minta dipijit.

Ada tiga tamu di sana. Selesai menyampaikan hajat, ketiganya pamit. Wah ini kesempatan curhat. Pikir ku.

Belum lagi saya bicara, ada satu tamu masuk. Gagal. Asem. Gerutu ku. Jengkel sama tamu. Sambil tetap mijit.

Setelah tamu itu salaman, Abah ngendikan: "Jangan lama2, saya mau istirahat." Saya senang. Bisa curhat. Asik.

Tamu pergi. Abah menyuruh saya berhenti. Beliau merubah posisi. Bersila. Menghadap ke arah saya. Jarak kami dekat. Sangat dekat. Saking dekatnya, sampai lutut kami bersentuhan.

Ujug ujug Abah ngendikan "Yg penting siro ngaji" (yang penting kamu ngaji). Dengan suara agak tinggi.

"Siro kudu bertakwa" (kamu harus bertakwa). Lanjut beliau. Intonasinya penuh semangat.

"Nek siro istiqomah, urusan mu dicukupi Alloh. Wes ta ngandel aku. Aku ra bakal ngapusi siro." (Kalau kamu istiqomah, urusanmu dicukupi Allah. Percaya sama saya. Saya gak bakal berbohong). Beliau meyakinkan. Kemudian membaca ayat al-quran sebagai dalil.

أَلَاۤ إِنَّ أَوۡلِیَاۤءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ

"Wali Alloh itu tidak takut. tidak sedih." Kata beliau.

"Siapa waliyulloh?" Lanjut beliau.

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ یَتَّقُونَ
(yaitu mereka yang beriman dan selalu bertakwa)

Kalo siro bertaqwa, kebutuhan mu di jamin Alloh. Jangankan kebutuhan dunia, kebutuhan di akhirat, juga dijamin.

لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِۚ
(Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat)

Itu sudah ketetapan gusti Alloh. Tidak ada yg bisa merubah.

لَا تَبۡدِیلَ لِكَلِمَـٰتِ ٱللَّهِۚ
(Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (ketetapan dan janji) Allah)

Kui seng jenenge sukses.

ذَ ٰ⁠لِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ
(Demikian itulah kemenangan yang agung)

Seolah-olah saya belum pernah membaca ayat itu. Nasehat yg mungkin hanya 5 menit, seperti menggusah segala frustasi. stres. Galau. Mumet. Masalah. Keputus asaan. Semua raib. Berubah menjadi ketenangan. Maknyes. Plong.

Tapi yg saya heran. Bagaimana Abah bisa tahu bahwa saya ingin curhat? Bagaimana beliau ujug2 ngasih wejangan seperti itu? padahal saya belum ngasih tahu punya masalah. Wallohu a'lam.

*NB: Belakangan saya cari ayat yang disampaikan Abah Guru, KH Thoifur Mawardi itu. QS Yunus ayat 62-64

(fb)

Baca juga :