Gelora Dukung Siapa? Ini Jawaban Fahri Hamzah

Oleh: Erizal

Belum lama ini, saya tanya Fahri Hamzah, ke mana arah dukungan Gelora? Belum, jawabnya singkat. Tapi, saya lanjutkan pertanyaan, dari pernyataan-pernyataan Abang, sepertinya Gelora ke Prabowo, bukan ke Anies, apalagi Ganjar. Belumlah, jawabnya lagi.

Apalagi pernah beredar foto pertemuan Anis Matta, Bang Fahri, Mahfuz Sidik, Buya Irel, bersama Prabowo. Memang, foto itu diedarkan akun resmi Gerindra, bukan Gelora. Dan tak ada pula foto serupa bersama Anies atau Ganjar.

Jadi, wajar saja, diartikan Gelora telah bersama Prabowo. Apalagi banyak sekali pernyataan Bang Fahri yang dipotong-potong yang arahnya mendukung Prabowo. Tak hanya pendukung Prabowo, orang Gelora pun, ikut menyebarkan.

Memang sejak lama, Bang Fahri sering diartikan begitu. Saat masuk MPR dan kayak membela Habibie, ia dianggap pendukung Orde Baru. Karena pada saat yang sama, arus utama menganggap Habibie dan Soeharto itu setali.

Mengkritik KPK diartikan anti-KPK dan pro-koruptor. Padahal bukan begitu. Ia berani berjanji setahun koruptor bisa dibasmi tanpa memakai jasa KPK. Kini, dianggap lembek pada KPK, di saat pendukung KPK dulu, kini justru mendesak agar KPK dibubarkan.

Demikian juga mengkritik Anies, diartikan anti-Anies. Memuji Prabowo diartikan mendukung Prabowo. Tak mengkritik dan tak memuji Ganjar, berarti tak bersama Ganjar. Tak mengkritik Jokowi berarti bagian dari Jokowi.

Tapi, mungkin tak lama lagi ada kepastian.

Politik kita memang sesimpel itu. Apalagi dukung-mendukung Pilpres saat ini bukanlah gawe partai baru. Gelora bukan kayak Perindo yang ketumnya, Raja Media. Kemarin ketemu Prabowo, tadi ketemu Ganjar. Diliput masif. Benar-benar bergawa. Tak dapat disebut lagi.

Serasa pemain saja. Padahal, partai yang punya kursi di DPR saja masih kocar-kacir. Saling sandera, saling gertak. Partai baru tak punya modal, berat. Jualan narasi tak dianggap elit, juga rakyat. Memang, tak bisa cawe-cawe.

Cepat-cepat mendukung Anies seperti Partai Ummat, boleh-boleh saja. Tapi, pasangan Anies saja belum tahu, dan belum tentu juga Anies bisa maju. Menunggu formasi koalisi lengkap, mungkin lebih tahu diri, tapi siapa yang peduli?

(*)
Baca juga :