Sowan ke Gus Baha ~ Andai wajah Gus Baha tidak familiar, mungkin orang yang ketemu di jalan, akan menyangka beliau adalah buruh tani

Kebersahajaan Gus Baha

Kami sampai di LP3iA --pondoknya Gus Baha-- saat adzan Subuh baru saja berlalu, ketika para santri dengan kantuk berat yang tertahan, tapi berjuang keras untuk berwudhu dan datang ke mushalla. 

Seusai shalat, kami dipersilakan beristirahat di dua bilik yang memang diperuntukkan bagi tamu. 

Baru saja rebahan di kasur, sarapan datang. Ada susu segar, roti tawar, ayam goreng, ikan goreng, nasi putih dan tentunya sambel khas Narukan. 

Tepat jam delapan, dua santri menemui kami, memberikan kabar bahwa Gus Baha berkenan menerima kami di kebun. “Wah, di kebun. Asik nih!“ saya berseru pada Habib Fahmi. 

Saya, Habib Fahmi, Habib Hud dan Habib Ahmad pun bergegas menuju kebun yang dimaksud. Diantar oleh beberapa santri yang sudah ditunjuk. Agak jauh juga dari lokasi pesantren. 

Sesampainya di sana, Gus Baha sudah menunggu. Kiai, yang bernama lengkap: KH. Bahauddin Nursalim tersebut tampak bersahaja. Bahkan sangat bersahaja, untuk kiai besar, yang begitu viral dan dikenal banyak orang. 

Kita semua memang sudah pada tahu, bahwa Gus Baha memang tidak perhatian pada kostum. Kemeja putih, songkok hitam dan bersarung, adalah penampilan khas Gus Baha. 

Semua pakaian yang membalut tubuhnya tidak ada yang mahal, hanya kemeja, songkok dan sarung yang biasa dikenakan orang awam. 

Tapi pagi itu, saya mendapati Gus Baha, jauh lebih bersahaja dari biasanya. Bahkan --maaf-- sangat kucel. Beliau duduk dikelilingi oleh berbagai kitab. 

Duduk di atas tikar yang dibentang di atas tanah. Kemeja yang dikenakan sekarang bukan murni putih, tapi agak kebiruan. Itupun sudah benar-benar kucel dan dibasahi oleh keringat. Entah, mungkin sepagi tadi beliau berkebun. 

Sarung yang dikenakan pun, menunjukkan sarung yang sudah lawas. Bahkan nyaris ngelinting. 

Andai wajah Gus Baha tidak familiar, mungkin orang yang ketemu di jalan, akan menyangka beliau adalah buruh tani. Terlebih ketika itu beliau tidak sedang memakai kopyah. 

Para santri yang ngawulo di situ, yang selalu siaga menunggu perintah Gus Baha, jauh lebih bagus pakaiannya. 

Tapi begitulah Gus Baha, beliau tidak hirau dengan penampilan. Sebab tak guna pakaian bagus, kalau orang yang memakainya di kepalanya tidak ada isi. 

Saat sekarang marak orang tak berilmu macak ustadz, berpenampilan kiai dan bahkan seolah-olah habib, padahal mereka tak berilmu, Gus Baha hadir membuka mata kita bersama, agar kita tidak setakat melihat penampilan. 

Tapi Gus Baha memberikan pesan, bahwa kedalaman ilmu, keluasan referensi, ketajaman logika, keluwesan dan ketegasan sikap, itu adalah karakter ulama yang sesungguhnya. 

Hanya ulama yang mempunyai karakter di atas, yang bisa memberikan pepadang pada kehidupan ummat di dunia, sekaligus menyuguhkan suluh pada kehidupan akhirat.

Pada kesempatan tersebut, Gus Baha ngajak kami ngaji Siroh Ibnu Hisyam. Pada kisah Khaibar, dimana sekumpulan perempuan memohon ijin kepada Rasulullah --shallalahu 'alaihi wasallama-- untuk ikut perang. Kanjeng Nabi pun mengijinkan mereka. 

Ada banyak insight yang kami dapatkan. Bukan sekedar hal baku yang selama ini sudah terpatri. Pun, apa yang Gus Baha ajarkan pada kami hari itu, tidak pernah Gus Baha sampaikan pada pengajian-pengajian umum. 

Tidak bisa saya tulis dengan jelas, tapi tekanan yang Gus Baha sampaikan, bahwa sikap keberagamaan para kiai, habib atau ustadz itu masing-masing adalah pilihan. 

Walau segenap sikap tersebut tentunya tak selalu menjadi keharusan agama. Sebab ternyata ada banyak kenyataan dalam berbagai teks ayat, hadis ataupun ajaran para salaf, yang menerangkan tidak harus begitu! 

Sehingga karenanya, Gus Baha mengajak kepada para penjaga ilmu (Islam), penuntut ilmu dan pecinta ilmu untuk obyektif bersikap selagi semuanya tetap berada dalam bingkai ilmu. 

Ngaji pagi itu hingga siang dan menjelang petang, sungguh gayeng. Karena kami merasa demikian dekat dengan Gus Baha. 

Terlebih beberapa kali Gus Baha menyebut: Mas Abrar, saya senang. Bahkan terkadang beliau salah sebut: Ustadz Abrar. ๐Ÿ˜ƒ 

Kejadian saya pernah jatuh dan berdarah-darah di rumah beliau, itupun masih beliau ingat dengan lekat. “Lha iyo, piye ceritane iso tiboh!“ (Abrar Rifai)

[VIDEO]