Perempuan yang Membakar Dirinya

Perempuan yang Membakar Dirinya

Ada sebuah bab yang menarik dalam buku Rihlah Ibnu Bathuthah - Memoar Perjalanan Keliling Dunia di Abad Pertengahan ini, yakni, Kisah Penduduk India yang Membakar Dirinya. 

Membakar diri bersama jenazah suami bukan sebuah kewajiban, tetapi hanya bersifat anjuran, demikian kesimpulan Ibnu Batutah mencatat hasil lawatannya ke kawasan India. Meski demikian, apabila ada seorang suami meninggal dan istrinya tidak mau ikut membakar diri dianggap tidak menyempurnakan hak suaminya. Perempuan tersebut dianggap tidak menjaga kehormatan keluarganya.

Oleh karena itu, meski tidak dipaksa membakar diri, di sisa hidupnya ia hanya boleh mengenakan pakaian usang dan hidup dalam keterasingan, dijauhi kerabat dan tetangga. Tradisi mengucilkan perempuan yang tidak membakar diri bersama mayat suami ini, konon masih berlaku hingga sekarang di desa-desa pedalaman di India, meski upacara ini sudah resmi dilarang negara.

Saat berkunjung ke India, Ibnu Batutah menyaksikan sendiri prosesi upacara bakar diri ini di sebuah kota yang bernama Abjore. Pada suatu hari, ada tiga perempuan yang didandani khusus, dengan menunggang kuda dan diiringi para pendeta Brahma dan dikawal rombongan orang, lengkap dengan penabuh genderang dan peniup terompet menghadap Sultan.

Tiga perempuan tersebut adalah istri-istri dari seorang suami yang baru saja meninggal. Di hadapan Sultan, pendeta Brahma meminta izin untuk membakar tiga perempuan tersebut, sebab ketiganya sudah sepakat untuk membakar dirinya. Sultan mengizinkan permintaan pendeta Brahma tersebut.

Keesokan harinya, ketiga perempuan itu kembali didandani dan diberi wewangian dan diantar rombongan yang lebih besar menuju tempat pembakaran diri. Sebelum membakar diri mereka dimandikan terlebih dahulu. Seusai mandi, pakaian bagus yang dikenakan disedekahkan kepada para pengantar dan ketiga perempuan tersebut hanya memakai kain katun kasar yang tidak berjahit.

Di sebelah kolam yang tadinya untuk mandi, sudah disiapkan tempat perapian besar. Selain potongan-potongan kayu bakar, ada juga sepuluh balok kayu besar yang dibakar. Kayupun mulai dibakar dan minyak dituangkan hingga api makin membesar. Para perempuan tersebut dibawa ke perapian dengan ditutup matanya, supaya tidak jeri melihat api, meski akhirnya mereka menolak dan bilang bahwa mereka tidak gentar terhadap api yang akan membakarnya.

Sebelum dibakar, perempuan tersebut memberikan penghormatan kepada api. Setelah itu, ia langsung dilemparkan ke dalam api yang menyala. Tubuh ketiga perempuan tersebut ditindih dengan balok-balok kayu besar hingga tidak bisa bergerak saat terbakar. Bersama dengan jerit kesakitan para perempuan tersebut, terompet ditiup panjang dan genderang ditabuh bertalu-talu.

Selain upacara membakar diri, ada juga cara lain. Yakni perempuan yang menenggelamkan dirinya ke sungai suci Gangga, untuk kemudian mayat itu diangkat dan dibakar.

Upacara kematian ala India ini pernah berlaku juga di Jawa dan Bali pada masa lalu. Ada Sati untuk perempuan yang membakar diri dan ada larung untuk mereka yang memilih menenggelamkan diri. Upacara Sati terbesar di Jawa tercatat ketika Raja Blambangan Tawang Alun meninggal. Ikut membakar diri bersama jenazah sang raja adalah ke 271 istrinya.

Karenanya, pengajaran para wali akan bagaimana tata upacara kematian dan pemuliaan orang yang sudah meninggal cara Islam itu menjadi salah satu magnet utama keberhasilan dakwah di kepulauan ini. 

Jadi jangan heran, apabila ada orang yang belum sholat, tapi tiap kali ada acara yasinan dan tahlilan kematian ia selalu datang, sebab tradisi ini adalah pintu pembuka dakwah bagi para leluhurnya.

(Arif Wibowo)

____
Rihlah Ibnu Bathuthah : Memoar Perjalanan Keliling Dunia di Abad Pertengahan

Penulis : Muhammad Bin Abdullah Bin Bathuthah

Halaman : 610 Halaman

Buku ini menceritakan tentang perjalanan Ibnu Bathuthah, terutama cerita-cerita tentang para sultan, para syaikh, sejarah sebuah negeri, falsafah kehidupan masyarakat setempat dan lain sebagainya yang ia tulis berdasarkan pengamatan langsung dari negeri-negeri yang ia kunjungi. Dari India sampai negeri Cina, dari Afrika sampai Nusantara, Ibnu Bathuthah menceritakan perjalanannya secara apik dan mengesankan. Ia misalnya, menceritakan kunjungannya bertemu dengan Sultan Jawa (Sultan Nusantara) dari Kerajaan Samudera Pasai, Sultan Malik Az-Zhahir.