Yg jadi pertanyaan dua-duanya ini kan sekelas, apakah mereka mendiskreditkan Aremania ada yg menggerakkan? Mengapa polisi tidak menindak tegas?

Ini "sampah-sampah" masyarakat memang makin membuat muak saja. Yang satu bacotnya dengan gagah berani ngata-ngatain atau menyalahkan Aremania, dan gak ada empati-empatinya pada korban. Eh giliran dilaporkan ke polisi, gak berani ke Malang dan minta pemeriksaannya lewat zoom aja. 

Digebukin dan ditelanjangi orang banyak tidak membuat mulutnya jera. Masih berani buat video ngata-ngatain Aremania. Musti diapakan ya, kalau penjara tidak menyentuhnya???? 

Kemudian yang satu lagi aktivis partai gurem, jadi tukang dawet gaduhgan terus memfitnah Aremania. Begitu ketahuan baru deh nyembah-nyembah ke keluarga korban. 

Yg jadi pertanyaan dua-duanya ini kan sekelas, apakah mereka mendiskreditkan Aremania ada yg menggerakkan? Mengapa polisi kok nggak tegas terhadap penyebar fitnah dan pembuat kegaduhan? Apakah karena mereka orang2 yg dianggap pejuang pendukung pemerihtahan?

Perempuan yg ngaku penjual dawet itu sudah menebar fitnah? Kok nggak kena UU ITE? kok polisi diam saja ya?

(Naniek S Deyang)

*fb