Hubungan 'Aneh' Erdogan-Putin (Turki-Rusia)

TURKI-RUSIA

Sepanjang sejarah hubungan Kekaisaran Rusia dan Dinasti Ottoman jarang sekali terjadi stabilitas hubungan antara keduanya. 

Namun, di zaman modern, ketika Rusia dipimpin oleh Vladimir Putin yang selalu membanggakan kejayaan Kekaisaran Rusia dan Turki dipimpin oleh Recep Tayyip Erdogan yang juga selalu memimpikan kembalinya kekuataan masa lalu Dinasti Ottoman, kedua negara hidup berdampingan meskipun banyak isu-isu dan kepentingan keduanya saling bertabrakan.

Selama masa Sultan dan Tsar (dan sampai awal era Soviet) dan selama lebih dari 400 tahun, Rusia dan Turki telah berperang setidaknya tiga belas kali, terkadang Turki menang, terkadang Rusia yang menang. Bahkan selama Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, Turki adalah ujung tombak Barat dalam menghadapi Uni Soviet, ketika Turki bergabung dengan NATO pada tahun 1951, dengan jumlah pasukan terbesar kedua di NATO setelah AS.

Setelah Uni Soviet bubar dan runtuhnya Pakta Warsawa, negara-negara yang bersekutu dengan Moskow sebelumnya mulai bergabung dengan NATO dan Uni Eropa. Turki juga bergabung dengan NATO, tetapi tidak diterima untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Sementara itu, Rusia 'move on' untuk mendirikan Collective Security Treaty Organization (CSTO) pada tahun 1992 yang terdiri dari negara-negara bekas Soviet, sebagai aliansi militer. Pada awalnya CSTO memiliki sembilan negara anggota, Rusia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Armenia, Uzbekistan, Azerbaijan dan Georgia. Tahun 1999 Uzbekistan, Azerbaijan dan Georgia menarik diri. Dari enam yang tersisa, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan merupakan tiga negara Asia Tengah yang mayoritas penduduknya adalah etnis Turki, yaitu Kazakhstan, Kirgistan, dan Tajikistan.

Turki tidak tinggal diam setelah runtuhnya Soviet, Turki pun bergerak ke Timur mengumpulkan negara-negara berpenduduk etnis Turki di Asia Tengah, dan bergerak ke barat untuk mendukung Muslim di Balkan. Turki melandasi kebijakannya pada dua dimensi: nasionalisme dan agama.

Pada Oktober 2009, Erdogan membentuk Dewan Turki yang terdiri dari negara-negara berbahasa Turki (Turki, Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgistan, dan Uzbekistan). Semuanya berada di Asia Tengah, halaman belakang Rusia, dan negara-negara bekas Soviet. Kemudian dewan tersebut dikembangkan dan diubah pada November 2021 menjadi Organization of Turkic States (OTS). Menariknya, Hungaria adalah anggota observer organisasi ini. Sepertinya Turkish Bath (Pemandian Turki) masih menarik bagi orang-orang Magyarok untuk melepas lelah di musim dingin.

Adapun di Barat, di Balkan, Rusia mendukung negara-negara dan orang-orang Gereja Ortodoks, sementara Turki mendukung negara-negara dan orang-orang yang beragama Islam. Hal ini jelas terlihat selama perang di Bosnia dan Herzegovina antara Maret 1992 dan November 1995.

Ketegangan Rusia-Turki juga terjadi selama perang di Kosovo, pada tahun 1998 dan 1999, antara Serbia dengan Muslim Albania yang berusaha untuk memisahkan diri dari Beograd dengan dukungan Albania. Saat perang terjadi, Ortodoks didukung oleh Beograd dan Rusia, dan Katolik didukung oleh Kroasia, NATO melakukan intervensi dan mengebom Beograd selama 78 hari sampai pasukan Serbia terpaksa mundur dari Kosovo.

Perang berakhir dengan Perjanjian Kumanovo sebuah kota di Makedonia. Pasukan penjaga perdamaian internasional dikerahkan untuk menjamin jalannya kesepakatan. Kemudian pada Februari 2008 dideklarasikan Kosovo sebagai republik merdeka, yang membuat Rusia marah, dan menginvasi Ossetia Selatan pada Agustus 2008, dan kemudian deklarasinya republik merdeka.

Semua kejadian ini tidak lain hanyalah kelanjutan dari sejarah masa lalu, tetapi dengan cara dan pemeran yang berbeda. Selama masa Dinatsi Ottoman, disepakati bahwa Tsar Rusia akan mengurus kepentingan Ortodoks, dan Prancis akan mengurus kepentingan Katolik di dalam wilayah Ottoman. Turki masih menganggap dirinya bertanggung jawab atas Muslim Balkan, dan Rusia bertanggung jawab atas Ortodoks, dan Prancis bertanggung jawab atas Katolik, bahkan setelah runtuhnya Ottoman.

Kalau Moskow sejak dulu memperhtiungkan Ankara, maka hari ini, Moskow lebih membutuhkan Turki, karena perang di Ukraina dan sanksi Barat, dan dukungan kuat dari NATO terhadap Ukraina. Turki menjadi sangat penting bagi Moskow, sebagai negara regional yang besar, memiliki kepentingan geo-strategis bersama yang besar, dan kedua negara juga terlibat dalam perang Suriah, dan perang Libya.

Putin melihat Turki sebagai pintu gerbang di mana ia dapat menghindari sanksi Eropa, dan ini dibuktikan dengan pujiannya yang kuat untuk Turki dan Presiden Erdogan dalam banyak kesempatan, yang terakhir adalah di Astana, selama kehadirannya di Conference on Interaction and Confidence-Building Measures in Asia (CICA) pada 13 Oktober lalu.

Pada kesempatan tersebut, Putin meminta Erdogan untuk mendirikan stasiun gas Rusia dan mendistribusikannya ke negara lain, Erdogan segera menerima tawaran Rusia, dan memberi perintah langsung ke Kementerian Energi untuk menyelesaikan proyek bersama Rusia-Turki ini yang dibangun di ujung barat laut Turki, dekat Bulgaria.

Sangat wajar jika Erdogan merespons dan melunak ketika ada keuntungan yang menguntungkan negaranya, tetapi dia tidak main-main dengan Putin ketika ada sesuatu yang menyangkut kepentingan Turki. Erdogan tidak basa-basi dengan Putin dalam aksi militer Rusia di Ukraina, dan aneksasi Krimea, Turki memilih mendukung semua resolusi yang mengutuk Rusia di Ukraina.

Erogan tidak basa-basi dengan Putin ketika menjual Drone ke Ukraina yang membuat pasukan Rusia kocar-kacir, karena itu menguntungkan Turki. Erdogan tidak basi-basi dengan Rusia di Suriah dan Libya, Erdogan terus melanjutkan apa yang dianggap menguntungkan Turki, terserah Putin setuju atau tidak.

Is Putin's confidence in the “fox” Erdogan misplaced? Biarlah waktu yang menjawab…. 

(Saief Alemdar)